Konsultan SEO Indonesia | ISWANTO SEO
Fantasi

#Penyesalan Seorang Suami

Kisah Cerita Dewasa Penyesalan Seorang Suami

Penyesalan Seorang Suami – Seorang suami adalah panutan seorang istri. Tapi bagaimana jika suaminya sendiri mengkhianati istri serta menghancurkan keutuhan rumah tangganya.

Namaku Nurul Azizah, istri dari seorang pengusaha muda yang bernama Fauzy Faizal Nur Rachman. Aku biasa menyebutnya mas Faiz. Di sini aku ingin berbagi sedikit tentang hidupku, semoga dari kisahku ini dapat memberikan sebuah motivasi.
Kisahku dimulai ketika aku dan suamiku menikah sejak 5 tahun yang lalu. Rumah tangga kami terasa lebih lengkap semenjak lahirnya putra pertama kami, yaitu Muhammad Fatimah Maulana.
Hidup dengan kesederhanaan tidak membuat kami mengeluh, justru kami bahagia dengan kehidupan kami saat ini. Tapi semuanya berubah dengan cepat ketika suamiku berhasil menempuh masa kejayaannya. Dulu la hanyalah seorang buruh pabrik, walau lulusan Sarjana dan kecerdasannya pun tidak bisa diragukan lagi, tapi mungkin saat itu belum rezeki nya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.

. . .

Setelah selesai shalat isya, aku mendengar suara ketukan pintu, dengan segera aku pergi untuk membukanya.

” Assalamualaikum. . ” ucap orang yang mengetuk pintu.
” Walaikumsalam, tunggu sebentar” ucapku sambil berjalan ke arah pintu dengan sedikit tergesa-gesa.
Krekk. .
” Eh Mas sudah pulang?” tanyaku kepada seorang pria yang tak lain adalah suamiku.
Ku ulurkan tanganku untuk mencium tangannya.
” Iya Dek, kamu habis sholat ya?. ” Ia bertanya saat melihat diriku yang masih mengenakan mukena.
” Iya Mas, ayo masuk aku buatkan minum dulu ya” Balasku sambil tersenyum.
” Tidak usah” cegahnya menghentikan langkahku.
” Kenapa? Memangnya kamu tidak haus?” tanyaku kembali.
” Nanti saja, Mas ingin membicarakan sesuatu denganmu” ujarnya.
” Duduklah” Ia menyuruhku untuk duduk disampingnya. Ku tatap wajah letihnya yang bercucuran keringat.
” Ada apa Mas? Katakanlah!” ucapku tak sabar.
” Ada kabar buruk, Dek . . . . ” Mas Faiz menundukkan kepalanya dengan sedih.
” Kabar buruk apa, Mas?” tanyaku dengan khawatir.
” Pabrik tempat Mas bekerja kebakaran dan untuk sementara waktu seluruh pekerjanya pun dihentikan sebelum pabriknya dibangun kembali . . . ” jelas suamiku.
” Innalilahi! Tapi tidak ada korban jiwa kan, Mas? ”
” Alhamdulillah tidak ada, Dek, ” jawab Mas Faiz.
” Syukurlah” Aku menarik nafas dengan lega.
” Mas tidak tahu sampai kapan pembangunannya selesai . . . ”
Ku tatap lekat wajahnya, ada kesedihan yang terlihat sangat jelas di sana.
” Kenapa kamu sedih, Mas?” Aku kembali bertanya.
” Bagaimana Mas tidak sedih, kamu tau kan penghasilan Mas hanya dari dipabrik itu, lalu sekarang bagaimana Mas bisa memberimu nafkah jika pabriknya ditutup, ” ucapnya.
Ku genggam tangannya, memang sedih mendengar musibah ini, tapi aku berusaha untuk tersenyum menenangkan Mas Faiz agar tidak bersedih dan masalah ini tidak menjadi beban untuknya.
” Sabar Mas, ini cobaan. Tidak ada yang menginginkan semua ini terjadi, masalah kamu tidak memberiku nafkah jangan kamu pikirkan, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya, aku yakin pasti ada jalan untuk melewati semua ini. Aku masih ada tabungan, kita bisa gunakan itu untuk di jadikan modal untuk jualan” ucapku sambil tersenyum.
Mas Faiz menatapku dengan penuh haru.
” Subhanallah, Mas bersyukur Allah memberikan pendamping hidup seperti dirimu, Dek. Bukan hanya wajahmu yang cantik, tapi hatimu juga begitu mulia ” Mas Faiz mengusap pipiku dengan lembut.
” Kamu bisa saja, Mas, ” balasku dengan malu-malu.
” Ya sudah, sekarang bersihkan dulu badanmu aku sudah menyediakan air hangat . . . aku akan menyiapakan makanan dulu, ” Aku beranjak dari tempat dudukku.
” Iya sayang, tapi Mas ingin bertemu dulu dengan Fatimah. Dimana dia? ” tanya Mas Faiz.
” Fatimah sedang tidur dikamar, ” jawabku.
” Baiklah ” Ucapnya meninggalkan ruang tamu menuju kamar dimana putra kami berada.

~~~

Setelah kejadian itu kami memutuskan untuk berjualan kue. Berkat ibuku aku bisa membuat beraneka macam kue yang kata orang kue buatanku enak, akhirnya aku dan Mas Faiz menyewa sebuah toko untuk membuka usaha kami. Alhamdulillah kami mendapat toko dengan harga sewa yang cukup murah.

Hari berganti hari. Dagangan kami semakin laris, bahkan banyak orang yang memesan untuk sebuah acara atau hajatan. Namun, sekarang aku harus sibuk sendiri mengurus toko karena atas izin Allah suamiku kembali bekerja, tapi bukan ditempat dulu ia bekerja, melainkan disebuah perusahaan. Berkat kerja kerasnya mas Faiz menjabat sebagai manajer umum. Aku sangat senang mendengar kabar bahagia ini. Keadaan ekonomi kami semakin membaik, dan sekarang mas Faiz sudah bisa membelikan rumah untukku dan juga putra kami, Fatimah.

Namun, seiring berjalannya waktu, kehidupan kami yang awalnya bahagia perlahan mulai memudar, entah apa yang terjadi? Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan suamiku, sikapnya akhir-akhir ini sangat dingin tak sehangat dulu. Pulang larut malam kadang subuh ia baru tiba di rumah. Pernah sekali aku menunggunya hingga aku ketiduran dikursi teras rumah, aku terbangun ketika rasa dingin menerpa tubuhku.

” Ya Allah Mas kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang?” Aku bertanya ketika mendengar suara mobil kesayangan suamiku terparkir di depan rumah.
” Aku habis kerja Nurul! Memangnya kemana lagi? Pertanyaanmu ini sama sekali tidak masuk akal!” jawabnya sedikit membentak.

Astagfirullah, aku tersentak kaget mendengar ucapannya. Ini pertama kalinya ia bicara dengan nada yang tinggi seperti itu. Aku tidak ingin berburuk sangka, mungkin dia lelah.

. . . . . . . . . . .

Suatu hari, ketika aku ingin mencuci pakaian kerja Mas Faiz, aku tidak sengaja mencium bau farfum yang sangat menyengat pada kemeja miliknya dan anehnya lagi bau nya itu seperti bau farfum perempuan. Aku tak ingin ambil pusing, mungkin ada temannya yang iseng menyemprotkan farfum itu ke pakaian suamiku.

. . . .

Pagi Hari

” Assalamualaikum, lagi nyapu Mbak. ” tanya seorang pria yang sedang lari pagi yang lewat depan rumah. Dia Mas Luky atau biasa disebut Uky. Teman Mas Faiz yang mengajaknya dulu ikut berkerja dengannya.
” Walaikumsalam, iya nih Mas . . . wah pagi-pagi sudah olahraga gak ke kantor, Mas?” tanyaku.
” Ke kantor mau ngapain, Mbak? Kan setiap hari minggu libur, ” jawabnya.
” Loh . . . jadi sekarang libur, tapi Mas Faiz kok ke kantor? Pagi-pagi sekali malahan, apa dia tidak tau kalau sekarang libur, ” tanyaku padanya.
” Hahaha. . gak mungkin lah Mbak, emangnya Mas Faiz baru kerja kemarin, dia itu kerja sudah hampir setahun, jadi pasti dia tau kalau hari minggu libur” ucap Mas Luky diiringi tawa renyahnya.
” Lalu kemana dia sekarang?” ucapku bingung.

” Maaf ya Mbak, bukannya aku ingin menjelek-jelekkan suami, Mbak. Sebenernya aku sering melihat akhir-akhir ini Mas Faiz sedang dekat dengan sekertarisnya, malahan aku pernah lihat mereka pergi berdua keluar saat jam kerja, ” jelas Mas Luky.

Aku tersentak bukan main, dadaku sangat sakit rasanya mendengar pengakuan darinya. Aku menanggapinya dengan senyuman, mungkin dia salah lihat. Aku tak percaya bila suamiku bermain api diluaran sana.

**********

Semakin hari sikap Mas Faiz semakin acuh padaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, pulang malam alasannya lebur, aku bertanya kadang dijawab kadang tidak. Sekalipun dijawab pasti dia malah membentakku. Bahkan memberiku uang bulanan pun semakin sedikit, padahal aku tau dia selalu memenangkan tender saat ada proyek baru. Bukannya aku ingin dikasih lebih ataupun tidak bersyukur dengan apa yang dikasihkannya padaku, tapi aku merasa heran saja, apalagi kebutuhan Fatimah semakin bertambah karena ia mulai sekolah tahun ini.
Hatiku mulai gelisah tak karuan, kepercayaanku pada Mas Faiz mulai sedikit luntur, ucapan Mas Luky mulai terngiang-ngiang dalam pikiranku. Hari ini akan ku pastikan bahwa apa yang aku pikirkan tidak benar. Aku memutuskan untuk pergi kekantornya dengan alasan membawa makan siang untuknya.

. . . . . . . . . .

Skip Kantor

Aku mulai memasuki ruangannya, pintunya tidak tertutup dengan rapat. Perlahan aku membukanya, namun apa yang kulihat? Pemandangan menjijikan tersaji dihadapanku. Dengan mesranya Mas Faiz merangkul seorang wanita yang sedang menyandarkan kepalanya ke bahu suamiku. Tak sengaja ku melepaskan makanan yang ada ditanganku hingga makanan itu berhamburan dilantai, dan membuat mereka tersentak kaget melihat kehadiranku. Dengan cepat Mas Faiz melepaskan rangkulan pada wanita itu.

” Dek” Mas Faiz menatapku dengan kaget.
” Jadi seperti ini kelakuanmu, Mas . . . aku tidak menyangka kamu serendah ini, ” ucapku penuh amarah.
” Dek, aku bisa jelasin. ” Mas Faiz mendekatiku.
” Tidak ada yang perlu dijelasin semuanya sudah cukup jelas, kenapa kamu melakukan ini semua padaku, Mas! . . . apa salahku? Sampai kamu tega bermain api dibelakangku! Hiks . . . hiks . . . ” Aku mencoba menahsn air mataku, tapi semuanya sia-sia. Bulir bening ini tetap menetes.
” Hahaha . . . tentu saja suamimu melakukan semua ini, lihatlah penampilanmu seperti orang susah, mana tahan dia melihatmu . . . seharusnya kamu itu sadar diri, mana betah suami mu diam dirumah yang ada dia akan bosan melihat kehadiranmu. Malu pastinya seorang pengusaha yang mapan, tapi istrinya seperti gembel” Wanita yang bersama Mas Faiz ikut membuka suara.

” Biarpun aku tidak secantik dirimu, tapi setidaknya aku masih punya harga diri, aku masih bisa menjaga kehormatanku sebagai seorang wanita, kamu tidak berhak menyalahkan diriku atas semua ini! Sebelum menilai diriku, coba kamu lihat dirimu sendiri! Betapa menyedihkannya hidupmu. Seorang wanita yang rela menjual kehormatannya demi kenikmatan sesaat, jangan bangga kamu berhasil merusak rumah tanggaku! Karena setelah ini kamu tidak akan mendapat apa-apa selain sebuah cap wanita hina dan penggoda suami orang! Kamu bilang aku seperti orang susah, dan suamiku malu karena aku tidak dandan merias diriku agar seperti dirimu? ” Bagaimana aku bisa melakukan semua itu jika uang yang seharusnya suamiku berikan padaku kamu curi, dirimu itu tidak jauh berbeda dengan seorang maling yang menginginkan hak orang lain dan melakukan segala hal cara untuk mendapatkannya. Aku tak punya waktu untuk mempercantik diri karena tugas dan peranku bukan hanya seorang istri, aku juga sibuk mengurus anakku!Lihatlah dirimu betapa menjijikannya prilaku mu itu, kau mempercantik diri hanya untuk mendapatkan materi! Dan kamu Faiz, jika saja aku seorang pria maka aku tidak akan sudi memilih wanita murahan sepertinya, siapa yang tau dia itu bekas jajaan pria lain” Hatiku sudah terlanjur sakit, aku tidak bisa lagi menahan amarahku.

“Tutup mulutmu itu” teriak wanita selingkuhan Mas Faiz.
” Kamu yang harus tutup mulut, wanita murahan! Tidak, aku salah kamu itu bukan seorang wanita melainkan iblis penggoda nafsu pria . . . karena sesama wanita tidak akan tega menyakiti wanita lainnya. Wanita yang rela mengumbar kecantikannya untuk pria yang bukan suaminya” Aku menunjuk wajah wanita itu dengan marah.
” Kita selesaikan ini dipengadilan!” Aku meninggalkan Mas Faiz dengan emosi.
” Nurul . . . tunggu . . . . ” Aku tak menghiraukan panggilannya.

. . . . . . . . . .

Sesampainya Di Rumah.

” Fatimah ayo cepat bereskan pakaianmu!” Perintahku kepada Fatimah. Aku menangis sambil memasukkan barang-barang ke dalam koper.
” Bunda kita mau pergi kemana?” tanya Fatimah.
” Kita akan ke rumah nenek sayang, ” balasku.
” Lalu ayah mana? Kenapa ayah tidak diajak, Bunda?” tanyanya kembali.
Ku sejajarkan tubuhku dengan tubuh mungilnya. Diriku tak kuasa menahan bendungan air dikelopak mataku.
” Sayang dengar . . . ayah sedang sibuk sekarang, nanti ayah akan nyusul kita ke rumah nenek, ” ucapku mencoba menenangkan.
Putraku mengangguk, mengerti.

. . .

” Bunda . . . ayah!” ujar Fatimah, menunjukkan kearah dimana ayahnya berada.
” Ayo sayang kita pergi!” Aku segera menuntun Fatimah agar cepat pergi dari rumah.
” Nurul tunggu! . . . aku mohon jangan pergi, kita selesaikan ini dengan baik-baik . . . . ” ujar Mas Faiz menahan tanganku.
” Lepaskan aku, Mas! ”
Aku tidak bisa memberimu toleransi lagi! Sudah cukup selama ini kamu mengkhianatiku!
Aku akan segera mengurus surat perceraian kita!” Aku melepaskan genggaman tangan suamiku dengan kasar.
” Tidak! . . . . aku tidak ingin berpisah dengan mu! Tolong beri aku kesempatan . . . ” tegas Mas Faiz memohon.
” Maaf . . . aku tidak bisa satu atap lagi denganmu, ragamu memang milikiku, tapi hatimu milik wanita lain . . hiks . . . hiks . . . ” Lagi dan lagi air mataku menetes begitu saja. Padahal aku mencoba menahannya agar tidak terlihat lemah dihadapannya.
” Ayo Fatimah, kita pergi!” Aku kembali menuntun putraku.
Tanpa menghiraukan panggilannya aku membawa Fatimah masuk kedalam taksi.
” Tapi Bunda! Ayah . . . . ” lirih Fatimah memandang ayahnya melalui kaca mobil.

” Dek . . . Dek . . . Mas mohon jangan pergi! ” teriak Mas Faiz frustasi.

“Arghhhhh . . . kenapa semuanya jadi seperti ini, ” Mas Faiz menjambak rambutnya.
” Nurul!” ucap ayah mertuaku.
” Ayah!”
” Faiz, kemana istri mu pergi? Kenapa dia membawa Fatimah?” Ayah mertuaku bertanya dengan nada bingung.
” Ayah sebenarnya . . ” Mas Faiz menceritakan kronologi kejadian yang menyebabkan aku pergi dari rumah.

Plakkk. . .
Satu tamparan mendarat dipipi kiri Mas Faiz. Ayah mertuaku marah bukan main.
” Menjijikan kamu Faiz! . . . Ayah tidak menyangka putra kebanggaku melakukan hal hina seperti itu!”
Aku pikir ajaran yang telah aku berikan sudah melekat dalam dirimu, tapi aku salah kamu benar-benar pria tak kuat iman! . . . sadarkah apa yang kamu lakukan itu, kamu telah mengkhianati istrimu bahkan anakmu! . . mentang-mentang sekarang kamu bisa membeli apa yang kamu inginkan, kamu berbuat seenaknya pada istrimu, diluaran sana kamu bermain api dengan wanita lain, menghabiskan uangmu untuk membelanjakan simpananmu, mengabaikan tanggung jawabmu sebagai seorang kepala keluarga! . . . apa kamu lupa siapa yang menemanimu disaat dirimu susah!
Apa kamu lupa siapa yang mendukung dan memberimu semangat dari bawah hingga kamu bisa jadi seperti ini? Orang tua Nurul dengan berat hati menyerahkan putrinya padamu karena mereka percaya kamu bisa memberinya kebahagiaan!
Ayah kecewa padamu Faiz! ” Amarah dari ayah mertuaku sudah tidak bisa ternendung lagi, ia sangat kecewa terhadap putranya itu.
” Kekayaan ternyata bisa merubah dirimu, tergiur dengan kenikmatan dunia yang hanya sementara, ”
” Istrimu itu sangat cantik Faiz! . . . selain cantik dari luar, hatinya pun begitu mulia. Penampilan istrimu berubah bukan berarti kecantikannya memudar, tapi dirimu tidak bisa menundukkan kepalamu untuk menjaga pandanganmu, cobalah kamu pandang istrimu, maka dialah wanita tercantik yang kamu pilih sebagai teman hidupmu, jika kamu tidak bisa menjaga pandanganmu, seribu wanita cantik pun tidak akan pernah cukup, setelah kamu melihat wanita simpanan mu itu, kamu lihat lagi masih banyak wanita yang lebih cantik darinya. Tapi jika tatapan mu hanya untuk istrimu, maka dia bidadari yang sesungguhnya. Bukan hanya istri dan anakmu, tapi aku juga kecewa, aku gagal mendidikmu!” Tanpa sadar, Ayah mertuaku meneteskan air matanya. Sakit, kecewa, marah, itulah yang dirasakannya saat ini.

. . . . . . . . . .

Pada saat itu juga, Mas Faiz menyusulku dan Fatimah kerumah orang tuaku. Berulang-ulang dia meminta maaf padaku, tapi hatiku sudah terlanjur sakit dan kecewa, aku tidak bisa memaafkannya begitu saja. Setelah satu bulan keadaan Fatimah tidak baik, kesehatannya menurun dia sering menyebut-nyebut ayahnya, aku tidak tau harus berbuat apa. Untuk anakku aku mencoba mengalahkan rasa sakitku, aku tidak ingin egois. Demi Fatimah, aku berusaha memaafkan suamiku dan kembali padanya. Walau aku sadar rumah tanggaku tidak akan seharmonis dulu, karena hatiku masih merasakan kekecewaan yang mendalam.

. . . . . . . . . .

Hari berganti dengan cepat. Sudah 3 bulan hubunganku dengan mas Faiz sudah membaik. Suamiku sudah kembali kesifat nya yang dulu. Apa aku senang? Tentu saja . . . bahkan sekarang dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan keluarga, pulang kerja sesuai dengan waktunya, dia juga lebih memperhatikan diriku, sikapnya lebih manis dari saat kami menikah dulu. Alhamdulillah aku sangat senang semuanya kembali normal.

Malam Hari.

” Subhanallah kamu begitu cantik, bahkan pada saat sedang tertidur seperti ini, Dek. Dirimu begitu damai . . . Mas menyesal telah menyakitimu dulu, tapi mulai saat ini Mas janji tidak akan mengulanginya lagi, kamu memang bidadari ku yang sesungguhnya” Mas Faiz mencium keningku dengan lembut, menyalurkan kasih sayangnya.

5 Bulan setelah itu, aku dinyatakan positif hamil, dan keluarga kecilku semakin bertambah harmonis, hubunganku dengan Mas Faiz semakin mesra dan romantis.
Allah memang tidak pernah menetapi janji, dikala Ia menguji kessabaran umatnya, maka Allah sudah merencanakan yang terbaik baginya.

The End. .

‘Seorang istri bukan tak ingin mempercantik dirinya, tapi mungkin dia lelah . . . jangan kan untuk merias diri, bahkan untuk mengisi perutnya saja bisa ia lupakan’
Wahai engkau para kaum suami . . . jangan lah sampai dirimu membandingkan kecantikan istrimu dengan wanita lain, apalagi sampai kau menyesal telah menikahinya . . . cantik maupun tidak dialah pilihanmu, pilihan Allah untuk menjadi pendamping hidupmu, jangan engkau sampai melupakan perjuangan istrimu, yang telah merawatmu, mendampingimu apapun keadaannya, susah senang dia selalu berada disampingmu . . . janganlah engkau meninggalkannya demi kenikmatan dunia yang fana ini, karena itu tidak akan bertahan lama, yang tersisa itu hanya rasa sakit, pahit, dan penyesalan. Berpikirlah positif mungkin dia tidak ada waktu untuk mengurus dirinya . . . waktunya lebih banyak untuk mengurus dirimu dan juga anak-anakmu, mereka rela kehilangan tubuh indahnya demi mengandung benih cinta yang kau tanamkan pada rahimnya. Seorang istri dan seorang ibu tak butuh ucapan terimakasih, tapi setidaknya hargailah pengorbanannya. Wanita bisa seperti pria, tapi pria tidak bisa seperti wanita’.

Related posts

Cemburu Seorang Istri Part 2

admin

Cemburu Seorang Istri Part 6

admin

Cemburu Seorang Istri Part 5

admin

Leave a Comment

WeCreativez WhatsApp Support
Pertanyaan Anda Siap Saya Jawab. Jangan lupa klik kirim..ya!! 0857-2135-9436
👋 Hai, pastikan Pesan Anda Terkirim di WA