Konsultan SEO Indonesia | ISWANTO SEO
Fantasi

Cemburu Seorang Istri Part 8

Kisah Cerita Dewasa Cemburu Seorang Istri Part 8

Cemburu Seorang Istri – Siang yang redup. Matahari malu-malu mengintip dari balik awan kelabu. Setelah memarkir sepeda motor dibawah pohon nangka, Raden Bagas melangkah menuju pintu rumah yang tertutup rapat.

Bagas Mengunjungi Rumah Istri Pertama

Di ketuknya pintu berkali-kali tapi tak ada jawaban dari dalam. Raden Bagas melangkah ke teras samping rumah. Pandangannya jatuh pada seorang wanita yang sedang duduk menyiangi rumput di kebun samping. Varnika tak menyadari kehadiran suaminya.

Perasaan terharu menyergap tiba-tiba. Didekatinya Varnika. Raden Bagas berjongkok disampingnya. Saat itu Varnika mendongak, memandangnya.

Ada rasa terkejut yang buru-buru disembunyikan wanita itu.

Raden Bagas meraih tubuh itu dalam pelukannya. Pria itu menangis hingga tubuhnya berguncang. Tapi Varnika tak membalas pelukan itu. Hanya air mata yang luruh dipipinya.

“Mari duduk sini” Varnika melepaskan pelukan. Dan mengajak suaminya duduk di kursi teras.

“Mas minta maaf. Baru sekarang, Mas menemui, Var”

“Aku sudah memaafkan, Mas. Bahkan seandainya Mas, tidak akan datang kesini pun. Aku sudah memaafkan, Mas”

Raden Bagas menunduk. Hatinya terasa demikian pedih. Hatinya lebih hancur, melihat Varnika sekarang ini. Ia sadar, kali ini Varnika benar-benar kecewa dan sakit hati.

“Aku sudah dibuang, aku tak berharap untuk dikutip kembali”

“Mas tak membuangmu, Var”

“Kemana diri Mas, saat aku terpuruk setelah di usir bagaikan kucing kurap. Apa Mas, berusaha mencariku? Tidak bukan?”

Air mata Varnika deras mengalir.

“Apa yang membuat Mas, sekarang datang kesini? Empat bulan ini aku sudah membiasakan diri, untuk belajar hidup sendiri. Tanpa harapan lagi, tidak seperti waktu-waktu yang lalu, dimana aku masih berharap bahwa suamiku akan kembali padaku. Sekarang harapanku sudah pupus”

“Maafkan Mas….” Raden Bagas meraih tangan Varnika, tapi wanita itu menolaknya.

“Apa karena kabar kehamilan ini, Mas kesini? Kehamilan yang dulu sangat kita tunggu. Tapi saat ia hadir. Hubungan kita sudah seperti telur di ujung tanduk”

Raden Bagas bagaikan tak dapat bernafas. Sesak rasanya. Sekian lama bersama, baru kali ini Raden Bagas melihat istrinya sedingin ini.

Dan ini begitu mengkhawatirkannya. Bahkan Varnika tak semarah ini saat dirinya hendak menikah lagi. Varnika masih bersikap manis, saat dia menuntut hak sebagai suami setelah berbulan-bulan dia diabaikan. Tapi diamnya Varnika kali ini sungguh berbeda.

********
.
.
.
Raden Bagas gelisah berbaring disamping istrinya. Walaupun Varnika tidur membelakangi dirinya, tapi dia tahu, kalau Varnika hanya pura-pura tidur. Untuk menghindari berbicara dengannya.

Perubahan Sikap Varnika Kepada Suaminya

Perubahan Varnika begitu membuatnya takut. Takut kalau pada akhirnya dia akan kehilangan wanita itu.

Selama ini dia terlena, dipikirnya Varnika akan tetap seperti sebelumnya. Selalu nrimo dengan keadaan. Selalu memaafkannya dan menyambut sepenuh hati saat dia ingin kembali. Tapi kali ini Varnika begitu dingin. Untuk berbicara pun, Varnika sudah enggan.

Varnika juga merasakan sebaik didadanya. Air mata terus mengalir dari sudut matanya. Situasi yang sangat sulit untuk dirinya. Tak mudah untuk Varnika mengambil keputusan mengenai hubungan mereka.

Varnika mencintai suaminya tanpa batas. Walaupun di dera rasa sakit, dan dihina sedemikian rupa. Tapi rasa sakit itu tak mengurangi perasaannya. Karena tak bisa membenci itulah justru membuatnya kian tersiksa.

“Jangan mengambil keputusan apapun, Nduk. Selama kamu masih hamil. Tunggulah sampai anakmu lahir nanti” pesan si Mbok nya.

******
.
.
.
Raden Bagas duduk di kursi kegemarannya. Menatap rintik hujan sambil menyesap kopi pahit dari cangkir keramik. Hampa terasa dalam dadanya.

Dia mengingat semua kenangannya bersama Varnika. Begitu teguh wanita itu mendampinginya. Saat bahagia, saat disakiti, Varnika tetap diam tanpa keluh kesah.

Hingga detik kemarin, Varnika masih saja diam. Tapi diamnya kali ini meresahkan pikiran Raden Bagas. Diam yang membuat ketakutan. Apa keputusan Varnika selepas ini. Berpisah?? Itu kata-kata yang tidak ingin dia dengar. Varnika sudah mengatakan bahwa dia tak akan kembali ke rumah ibunya lagi.

“Maaf, Mas. Aku tak bisa kembali bersama Mas. Aku akan tetap disini, sampai anak ini lahir”

“Mas, akan membangun rumah baru untuk kita, dilahan yang Mas beli waktu itu”

“Aku disini saja. Mungkin lebih baik kita sekarang seperti ini. Kita akan tahu, langkah apa yang harus kita ambil untuk hidup kita selanjutnya. Tetap bersama atau berpisah”

“Kita tidak akan berpisah”

“Istri muda Mas, tak ingin berbagi suami bukan?”

Raden Bagas terdiam.

Apa yang akan dilakukannya sekarang. Varnika sudah sampai pada titik jenuh kesabarannya. Mungkin tak mudah untuk meluluhkan hatinya kembali. Raden Bagas memejamkan matanya.

Bu Darminah melihat putranya dengan hati pedih. Baru kali ini dia melihat Raden Bagas begitu terpuruk.

*******
.
.
.
.

Sudah hampir satu jam Raden Panji menunggu di stasiun. Tapi kereta api yang ditumpangi ibunya belum juga sampai.

Seminggu yang lalu, ibunya (Bu Darmini) mengirim telegram kepada Budhenya. Kalau ibunya akan datang berkunjung.

Suara peluit terdengar di kejauhan . Tak lama kemudian dencitan panjang rem kereta api terdengar menyakitkan telinga.

Raden Panji bergegas menyambut ibunya yang baru turun dari pintu gerbong. Senyum merekah terlihat dibibir wanita itu. Raden Panji mencium tangan ibunya.

“Bapak sehat, Bu? tanya Panji setelah keduanya masuk ke mobil.

“Sehat. Kamu nggak ngerti pulang ya? Sampai ibu yang datang kesini. Ibu pikir kamu sudah kecantol gadis sini”

Raden Panji Menaruh Hati Ke Istri Sepupunya

“Bukan gadis, Bu. Tapi istri orang”

Panji tertawa melihat ibunya yang tiba-tiba terkejut, dengan tatapan tajam memandangnya

“Nggak, Bu. Panji bercanda”

“Kamu ini ya, bikin ibu kaget saja. Masa iya anak ibu yang ganteng ini terpikat istri orang. Oh Yo, Budhe mu sehat to?”

“Sehat. Sejak subuh tadi, Budhe sudah ribut menyuruh Panji segera jemput ibu”

“Bagas gimana?”

Raden Panji mulai menceritakan semua peristiwa yang terjadi di rumah Budhenya. Bu Darmini tak mengira kalau kakak perempuannya bisa bersikap seperti itu.

“Kenapa ya, Bu. Budhe begitu membenci Varnika?”

“Mungkin karena masa lalu itu”

“Masa lalu apa, Bu”

“Dulu waktu Budhe mu hamil Bagas. Mas Haryo menjalin hubungan diam-diam dengan seorang gadis. Sampai perempuan itu mengandung. Budhe mu mengamuk. Dan mengusir perempuan yang saat itu datang meminta tanggung jawab Mas Haryo”

Raden Panji terbelalak kaget.

“Terus apa hubungannya dengan Varnika, Bu?”

“Perempuan itu, adik dari bapaknya Varnika. Namanya Surti”

“Sekarang dimana wanita itu? Waktu aku ke rumah Varnika. Tak ada wanita yang bernama Surti”

“Ibu juga tidak tahu. Dimana dia sekarang, anak itu dilahirkan atau digugurkan ibu juga tidak tahu”

“Bagas sepertinya tidak tahu cerita ini”

“Anak-anak Budhe mu yang tahu cuma Kartika, karena dia yang sudah besar waktu itu”
(Kartika, kakak Raden Bagas yang paling sulung)

“Orang tua Varnika juga tidak bercerita apa-apa”

“Semuanya ditutup rapat, Nak. Itu kan aib. Keluarga Mas Haryo cukup terpandang disini. Jadi jangan sampai cerita itu diketahui orang banyak. Varnika mungkin juga tidak tahu”

“Pantesan, budhe tak merestui hubungan Bagas sama Varnika. Tapi kasihan Varnika, dia yang tak tahu apa-apa jadi korban kebencian Budhe”

“Hmmm… Jangan-jangan istri orang yang kamu maksud tadi adalah Varnika?” Selidik ibunya

Raden Panji tertawa menutupi kegugupannya.

“Kalau iya, kenapa Bu” jawab Raden Panji sambil fokus menyetir.

“Panji. Jangan macam-macam lho ya. Varnika itu istrinya Bagas”

“Ibu ini percaya aja. Panji cuma bercanda, Bu”

“Awas lho ya, kamu jangan buat masalah disini”

Panji tertawa, Bu Darmini masih terlihat khawatir.

“Panji”

“Ya, Bu”

“Kita ini mau kemana? Ini kan bukan jalan ke rumah Budhe mu” Bu Darmini memperhatikan jalan disekelilingnya.

“Kita mampir ke rumah Varnika dulu, Bu”

Bu Darmini menatap anak lelakinya.

“Panji, jangan kamu bilang kalau bercanda mu tadi benar lho ya. Bagaimana nanti kalau ketemu Bagas disana”

“Sebentar aja, Bu. Apa ibu tak ingin ketemu sama Varnika. Nanti kalau sudah di rumah Budhe, bagaimana kita mau kesana. Bagas tak akan kesana hari ini. Dia kurang enak badan”

Bu Darmini akhirnya akur. Ada rasa was-was saat memandang Raden Panji. Nampak ada rona berbeda. Bu Darmini cemas, usia anaknya sudah cukup dewasa, takut kalau kali ini Raden Panji benar-benar serius jatuh cinta. Takut kalau perempuan yang disukai itu adalah Varnika. Istri sepupunya.

END…….

Related posts

Cemburu Seorang Istri Part 3

admin

Cemburu Seorang Istri Part 5

admin

#Penyesalan Seorang Suami

admin

Leave a Comment

WeCreativez WhatsApp Support
Pertanyaan Anda Siap Saya Jawab. Jangan lupa klik kirim..ya!! 0857-2135-9436
👋 Hai, pastikan Pesan Anda Terkirim di WA