Fantasi

Cemburu Seorang Istri Part 7

Kisah Cerita Dewasa Cemburu Seorang Istri Part 7

Cemburu Seorang Istri – Jam dua siang, Raden Bagas beserta rombongan keluarga dari rumah sakit tiba di kediaman Bu Darminah.

Kelelahan tampak di raut wajah mereka. Bayi laki-laki mungil terlelap digendongan Bu Darminah. Wanita bangsawan itu terlihat bahagia, mengelus pipi halus sang cucu.

Keinginannya terkabul. Mendapatkan cucu laki-laki dari anak lelakinya. Dan terlahir dari menantu kesayangan, yang disanjung penuh kehormatan.

Raden Bagas melangkah ke dapur, menyerahkan tas berisi baju kotor pada Sarni. Ada sosok yang dicarinya disitu. Tapi tidak ditemukan.

Mbok Minah, Mbok Semi dan Sarni, mencari kesibukan masing-masing. Takut kalau Raden Bagas bertanya tentang Varnika.

Pria itu melangkah keluar. Dan masuk ke kamar istrinya. Ruangan itu kosong dan rapi. Dia kembali ke dapur. Disitu sudah ada Raden Panji yang mengambil kopi.

“Mbok, kemana Varnika?” Pertanyaan dengan nada cemas.

Ketiga wanita itu saling pandang. Tak ada yang berani menjawab.

“Mbok, kenapa tak ada yang menjawab?”

“Mbak Var pulang ke Wonosari, Den” jawab Mbok Semi pelan.

“Kenapa? Kapan?”

“Setelah Den Bagas berangkat ke rumah sakit”

“Kenapa, Mbok?”

“Ibu yang menyuruhnya pergi, Den”

“Apa?”

Raut muka Raden Bagas berubah, wajah itu merah menahan amarah. Pria itu melangkah keluar dapur. Raden Panji bergegas menghalanginya.

“Bagas, tunggu!”

“Aku harus ketemu ibu, Nji”

“Tidak sekarang. Masih banyak kerabat dan saudara di sana. Jaga emosimu dulu”

“Nggak, Nji. Ibu sudah kelewatan”

“Nggak enak sama saudara, Gas. Jangan bikin ribut”

“Aku akan bicara sama ibu di kamar”

Raden Bagas melangkah cepat ke depan. Raden Panji tidak bisa mencegahnya lagi.
.
.
.
“Bu, kita bicara sebentar. Di kamar Ibu”

Raden Bagas berbisik ditelinga ibunya. Agar ibu mertuanya yang ada di ruangan itu tidak mendengar.

Bu Darminah pamit sama besannya, dan mengikuti Bagas yang melangkah lebih dulu ke kamar ibunya. Raden Bagas menutup pintu setelah wanita itu masuk.

“Ada apa?”

“Kenapa ibu menyuruh Varnika pergi dari rumah ini?” Suara lirih Raden Bagas menahan emosi.

“Lebih baik begitu!” jawaban ringan dari Bu Darminah.

“Apa salah Varnika sama ibu? Bukankah apapun yang terjadi di rumah ini, dia hanya diam saja. Varnika itu istriku, Bu”

“Kamu tahu, kalau Intan sedang hamil tua. Harusnya kamu selalu ada disampingnya. Bukan nuruti ajakan perempuan itu”

“Bukan Varnika yang mengajak, Bu. Justru aku yang mengajaknya keluar. Karena apa? Karena rumah ini, sudah membuatku tak nyaman saat bertemu istriku sendiri. Kami diawasi bagaikan selingkuhan. Kami tidak berzina Bu. Hubungan kami sah”

“Aku akan membawa Varnika pulang”

“Tidak. Ibu tidak ijinkan. Intan akan membawa anaknya keluar dari rumah ini, kalau Varnika kembali ke sini”

“Baiklah. Bagas yang akan keluar bersamanya”

“Kamu lupa pesan almarhum bapakmu. Jangan pernah tinggalkan rumah ini. Jangan pernah tinggalkan ibu”

“Ibu mau aku harus bagaimana?”

“Tetap tinggal di sini. Intan sudah melahirkan anakmu. Varnika itu tak akan bisa mengandung. Apa yang akan kau dapatkan dari perempuan itu”

“Aku mencintainya, Bu”

Setelah berkata begitu, Raden Bagas melangkah keluar kamar.

****

Siang itu mendung hitam menggantung di angksa. Raden Bagas menggendong putranya di pendopo depan. Bayi itu diberi nama Raden Damar. Usianya hampir dua bulan.

Dipandanginya bayi lelaki yang tertidur dipelukannya. Dia menjadi seorang ayah, di usianya yang ke tiga puluh empat tahun. Bayi itu lahir dari seorang perempuan yang terpaksa dinikahinya. Konon kata ibunya, demi menyelamatkan trah keturunan keluarga. Miris, karena permintaan itu, membuat seorang wanita yang begitu istimewa tersingkir dari hidupnya.

Bagaimana keadaan Varnika sekarang? Sampai hari ini, Raden Bagas belum menemuinya.

*****
.
.
.

“Varnika belum bangun ya, Mbok?” tanya Lasmi pada ibu mertuanya. Menantu dan mertua itu sedang sibuk mengikat sayur sawi dan kacang panjang di dapur. Biasanya sayuran itu akan diambil oleh tengkulak dari pasar.

“Sudah. Tapi masih di kamar. Sejak kemarin ndak enak badan. Sepertinya masuk angin. Adikmu juga banyak pikiran. Si Mbok dah buatkan wedang jahe tadi. Si mbok suruh sarapan belum mau”

“Jangan dikasih wedang jahe, Mbok”

“Lho kenapa, kan biar anget badannya”

“Wedang jahe panas diperut, Mbok. Jangan-jangan Varnika hamil. Aku lihat dari kemarin kayaknya lemes aja bawaannya”

Mbok Sardi terkejut sambil memandang menantunya.

“Apa iya to, Nduk?”

“Biar aku lihat ke kamarnya, Mbok?”

Mbak Lasmi mencuci tangan di ember dekat Pawon. Lalu wanita itu masuk ke kamar Varnika.

“Darimana Mbak?” tanya Varnika sambil berbaring. Kain batik panjang menutupi kakinya.

“Nganter Siti sekolah tadi. Terus mampir ke sini”

Siti adalah anak Mbak Lasmi dan kang Suryo.

“Mbak antar kamu ke puskesmas untuk periksa yuk!”

“Nggak usah, Mbak. Nanti juga sembuh sendiri”

“Nanti mbak bonceng”

Varnika menggeleng.

“Kapan kamu terakhir datang bulan?”

Varnika mengernyitkan dahinya. Dia baru ingat, kalau bulan ini ‘tamunya’ belum datang. Kacaunya pikiran, membuatnya tak ingat hal itu. Padahal ‘tamunya’ itu selalu datang tepat waktu.

“Bulan kemarin, Mbak. Untuk bulan ini sepertinya belum”

“Jangan-jangan kamu hamil”

Varnika menggeleng.

“Nggak mungkin, Mbak”

“Ayo mandi, mbak antar kamu ke puskesmas. Siapa tahu nanti ada kabar baik”

Dengan sedikit dipaksa, akhirnya Varnika akur dengan ajakan kakak iparnya. Keduanya berboncengan naik sepeda.

******
.
.

Varnika duduk di teras samping rumah. Menatap sisa-sisa tetes air hujan di dedaunan. Tangan mungilnya meraba perut. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke empat.

Ada rasa pedih yang menguasai hatinya. Disaat seperti ini, harusnya Raden Bagas mendampinginya. Jangankan mendampingi, menjenguk pun tidak. Bahkan pria itu pun tak tahu kalau Varnika sedang hamil.

Beberapa kali, waktu Raden Panji mampir, Varnika tidak memberi tahu sepupu suaminya itu, kalau dia sedang mengandung. Lagipula kehamilannya belum nampak membesar.

Pria itu yang sering menyambanginya. Menanyakan kabar dengan penuh rasa simpati. Membawakannya oleh-oleh.
Ada juga, Yati, sahabat yang selalu datang menyemangatinya.

“Kamu Ndak makan siang ta, Nduk?” tanya ibunya sambil membawa ubi rebus di bakul.

“Sudah tadi, Mbok”

“Makan yang banyak. Jaga kandunganmu baik-baik. Jangan dibawa susah. Kasihan bayimu yang diperut itu. Nanti kena imbas kesedihanmu. Kamu ndak usah khawatir, Nduk. Ada bapak, si mbok, mas, sama mbakmu. Kami akan mencukupi kebutuhanmu. Kamu jangan susah hati ya”

Varnika mengangguk.

“Waktu Yati, cerita tentang kondisimu di rumah besar itu. Rasa-rasanya si mbok sama bapakmu mau menjemputmu pulang saat itu juga. Kenapa selama ini kamu tutupi semua itu?”

“Aku hanya tak ingin si mbok sama bapak susah”

“Sebentar lagi kamu bakalan jadi ibu, Nduk. Kamu harus jadi ibu yang tangguh. Lupakan kesedihanmu. Biarlah Raden Bagas dengan istri mudanya disana. Kamu harus bahagia sama anakmu disini. Tunjukkan kalau kamu wanita yang kuat. Sudah cukup mertuamu, menghina selama ini.”

Varnika mengangguk. Benar kata si Mbok nya. Dia harus kuat. Menjalani keadaan ini. Itu demi anak yang akan hadir beberapa bulan lagi.

“Si mbok mau banguin bapakmu. Nanti kami tinggal ke sawah sebentar. Kalau ada apa-apa, kamu panggil mbak Darmi sebelah rumah ya”

“Ya, Mbok”

Varnika bersandar di dinding. Perutnya membulat, walau nampak masih kecil.
(Jangan khawatir, Nak. Kamu tak akan kekurangan kasih sayang disini. Walaupun tanpa bapakmu) ucapnya lirih.

“Var”

Varnika menoleh saat seorang pria menyapanya. Di halaman sudah terparkir mobil pickup warna hitam.

“Mas Panji. Darimana, Mas?

“Dari perkebunan terus kesini”

“Bapak sama si Mbok tak di rumah. Kita duduk disini saja ya”

Raden Panji tersenyum, lantas duduk di kursi teras itu. Pria itu memandang perut Varnika.

“Kamu hamil, Var?”

Varnika mengangguk.

“Berapa bulan?”

“Empat bulan”

“Bagas tak kamu beritahu?”

“Nggak”

“Mbok Minah, Mbok Semi dan Sarni kirim salam. Mereka rindu sama kamu”

“Ya, nanti kirim salam balik ya, Mas”

“Nanti aku sampaikan. Mereka pasti senang. Mendengar kabar kehamilanmu”
“Kamu benar-benar tak ingin memberi tahu Bagas, soal kehamilanmu ini”

“Sepertinya Mas Bagas sudah tak peduli denganku. Sampai sekarang pun belum menemuiku. Biar saja Mas. Aku akan merawat anak ini sendiri”

Gurat kesedihan nampak jelas di wajah Varnika. Jiwa Raden Panji tersentuh. Terasa demikian pedih. Dia tak habis pikir, apa yang menyebabkan Budhenya begitu membenci perempuan sebaik Varnika. Pasti ada sesuatu. Dan itu bukan karena Varnika tak kunjung hamil saja. Mungkin ada alasan lain yang dia belum tahu.

Menjelang senja Raden Panji baru berpamitan pulang. Tadi masih sempat ketemu dan ngobrol sama orang tua Varnika.

“Raden Panji itu seperti kembaran sama suamimu ya, Nduk?”

“Umur mereka sama, Mbok”

“Orangnya baik juga”

“Ya”

“Kamu Ndak kepingin makan apa-apa to, Nduk. Biasanya orang hamil suka ngidam”

“Nggak, Mbok”

“Kalau kepingin sesuatu bilang lho, jangan diam saja. Nanti anakmu ileran”

Varnika tersenyum.

“Ayo masuk, sudah mau maghrib. Habis maghriban nanti makan. Tadi si mbok mampir ditempat kakangmu, dibawain pepes pindang, sama daster. Mbakmu tadi pergi ke pasar. Sebentar lagi perutmu makin besar. Harus pakai baju yang longgar-longgar”

“Aku jadi merepotkan si mbok dan mbak Lasmi”

“Tidak, Nduk. Jangan punya pikiran seperti itu. Ayo, masuk rumah”

*******
.
.

Hujan rintik-rintik kembali turun di malam itu. Suara kodok bersahutan di kolam kecil yang ada di tengah taman. Menambah syahdunya suasana malam.

Raden Bagas duduk di teras, ditempat biasa dia menghabiskan waktunya untuk menyendiri, terutama disaat malam telah larut.

Dia berada di persimpangan yang rumit. Andaikan dulu dengan tegas dia menolak perjodohan itu, tentu Varnika tak akan jadi korban seperti ini.

Tampaknya nafsu masih menguasainya kala itu. Nafsu birahi. Nafsu sementara yang membuatnya tersesat dipelukan perempuan egois yang tak punya hati nurani. Akhirnya diakui, bahwa hasrat itu yang membuatnya terseret dalam kubangan masalah yang tak bertepi.

Ternyata semua ini, bukan mutlak salah ibunya. Pernikahan kedua yang diatur sang ibu, pernah disambut manis untuk menambah variasi dalam hasrat biologisnya. Brengsek bukan?

Dan yang menyedihkan lagi, Varnika yang polos tak menyadari hal itu. Varnika menerima dengan tangan terbuka, walaupun hati terluka.

Dipikirnya semua bisa baik-baik saja. Ketika budi pekerti luhur Varnika mampu menerima keadaan, tapi wanita kedua yang baru hadir justru menjadi duri dalam rumah tangganya. Membuat perempuan kesayangannya tersingkir jauh ke tepi. Dan bodohnya, Raden Bagas hanya diam dibawah ancaman durjana istri kedua.

Lamunannya buyar ketika Raden Panji muncul dan duduk disebelahnya.

“Varnika mengandung”

Raden Bagas sontak menegakkan duduknya. Memandang Raden Panji disampingnya.

“Sudah empat bulan”

“Kamu tidak bercanda kan?”

“Mungkinkah aku bercanda dalam hal sebesar ini”

Ada debar-debar menyelimuti hati Raden Bagas. Debar haru dan bahagia. Bukankah kehamilan ini, yang ditunggu mereka berdua.

“Kenapa Varnika tak mengabariku?”

“Bagaimana dia memberitahumu, sedangkan sekalipun kau tak pernah mengunjunginya”
“Kau takut dengan ancaman budhe dan istri mudamu itu?”
“Varnika hamil setelah sepuluh tahun penantian kalian”
.
.
“Mas Panji yakin kalau itu anak suamiku?”

Kata-kata sinis itu terlontar dari mulut Raden ayu Intan yang tiba-tiba hadir diantara mereka.

“Varnika tak akan serendah itu, hamil dengan pria lain” jawab Raden Panji.

“Bukankah Mas Panji yang sering mengunjungi perempuan itu? Jangan-jangan itu anak Mas Panji!”

(Biadab sekali mulut perempuan berbisa ini) batin Raden Panji. (Sayangnya kau seorang perempuan, kalau laki-laki sudah kuberi pelajaran mulutmu yang tak terajar itu)

“Kalau itu anakku, buat apa aku ngasih tahu Bagas. Dengan senang hati, aku akan bertanggung jawab sebagai seorang laki-laki. Rugi melepaskan wanita sebaik Varnika”

Setelah berkata begitu, Raden Panji pergi meninggalkan mereka. Kata-kata sepupunya tadi menusuk tepat di ulu hati Raden Bagas.

“Kangmas mau kemana?” tanya Raden ayu Intan.

Raden Bagas tak menjawab. Pria itu terus melangkah.

“Kangmas, aku akan menjerit sekarang. Kangmas akan kehilangan aku dan Damar”

“Kau seorang ibu apa iblis, dinda?”

“Aku tak peduli”

Pertengkaran mereka selalu terhenti dengan kehadiran Bu Darminah.

“Ada apa ini?”

Raden Bagas melangkah pergi, tanpa menjawab pertanyaan ibunya. Tapi langkah itu terhenti karena tangisan Raden Damar dari dalam kamar.

Baca Selanjutnya: Cemburu Seorang Istri Part 8

Related posts

Cemburu Seorang Istri Part 6

admin

Cemburu Seorang Istri Part 8

admin

Cemburu Seorang Istri Part 1

admin

Leave a Comment

WeCreativez WhatsApp Support
Pertanyaan Anda Siap Saya Jawab. Jangan lupa klik kirim..ya!!
👋 Hai, pastikan Pesan Anda Terkirim di WA