Konsultan SEO Indonesia | ISWANTO SEO
Fantasi

Cemburu Seorang Istri Part 6

Kisah Cerita Dewasa Cemburu Seorang Istri Part 6

Cemburu Seorang Istri – Kabut tebal membuat suasana terlihat samar-samar. Di atas sana langit tampak gelap, sudah hampir seminggu ini mendung memayungi langit Magelang. Mungkin musim akan segera berganti.

Raden Bagas masih menggandeng Varnika melewati jalan setapak. Kabut pekat itu membatasi jarak pandang. Entah dimana diletakkannya sepeda yang tadi dipakai. Sulit sekali menemukannya.

“Var, kamu ingat nggak? Dimana tadi Mas meletakkan sepeda?”

Varnika menggeleng. Wajahnya terlihat cemas. Cemas membayangkan jika kepergian mereka berdua, akan membuat ibu mertuanya murka. Raden Bagas menyadari kegelisahan istrinya. Langkahnya terhenti.

Diraihnya bahu Varnika dan dibawa menghadapnya.

“Kenapa cemas?”

“Kita terlambat pulang kan, Mas? Lihatlah kita nggak sadar kalau para pekerja sudah pulang semua. Raden Panji pun sudah tak terlihat. Sepeda pun entah dimana? Bagaimana kita akan pulang, Mas?”

Raden Bagas memperhatikan sekelilingnya. Hanya samar-samar yang terlihat. Langit terlihat semakin gelap. Seperti mau turun hujan.

“Kita kembali ke gudang saja” tangan Raden Bagas menarik lengan Varnika. Tapi wanita itu menahannya.

“Kita jalan kaki saja, Mas”

“Jauh, Var. Aku tak akan sanggup menggendongmu sampai rumah. Ayo kita kembali ke gudang. Besok pagi-pagi kita pulang”

“Kalau ibu tahu bagaimana, Mas?”

“Apa yang kau takutkan? Kita ini suami istri. Jika ibu marah, biarlah Mas yang jawab. Ayo kembali ke gudang.”

Raden Bagas berjongkok. Mengambil posisi hendak menggendong Varnika. Pria itu menarik tangan Varnika, karena istrinya tampak ragu-ragu. Hingga wanita itu jatuh dipunggungnya.

“Badanmu ringan sekali, Var”

Varnika meletakkan kepalanya di bahu suaminya. Keduanya menuju gudang tempat mereka berdua ngobrol tadi.

Angin berhembus membawa hawa dingin yang tembus hingga ke tulang. Varnika duduk diatas dipan sambil memeluk lututnya. Sementara Raden Bagas mencari korek api untuk menyalakan lampu minyak di sudut ruangan. Lantas membuat perapian didekat pintu keluar.

Varnika memperhatikan pria yang sepuluh tahun ini jadi suaminya. Postur 170 dengan berat badan seimbang membuat sosoknya layak digilai wanita. Termasuk Raden ayu Intan, istri kedua yang ingin menguasai Raden Bagas hanya untuknya saja. Tak sadarkah dia, bahwa sudah ada wanita lain yang telah menjadi istrinya bertahun-tahun?

Raden Bagas mengibas-ngibaskan tangannya. Selesai sudah dia membuat perapian. Pria itu berdiri lantas melangkah mendekati istrinya.

“Berbaringlah kalau Var lelah. Pakai bantal ini?”

Raden Bagas meletakkan bantal di ujung dipan kayu.

“Ini tempat tidur Mas kalau siang. Kadang juga Panji yang tidur disini. Mana yang cepat dia yang dapat”

“Kalau yang tak dapat tu, istirahat dimana, Mas?”

“Tuh, menggelar tikar dibawah. Ayo kita berbaring pakai satu bantal. Kita nikmati malam ini, tanpa takut diganggu siapapun.”

Keduanya bersamaan merebahkan tubuhnya. Saling berhimpitan di dipan kayu ukuran kecil itu. Suara jangkrik di luar terdengar bersahutan.

“Orang di rumah pasti bingung mencari kita, Mas”

“Jangan pikirkan siapapun. Hanya ada kita saja sekarang. Kamu tahu nggak, Var. Mas selalu merindukan saat-saat seperti ini. Seperti tahun-tahun yang telah kita lalui bersama”

“Aku tak menyangka bisa bertahan, hingga hari ini”

“Var. Maafkan Mas. Sebagai lelaki, Mas tak bisa tegas dengan perjodohan itu”

“Tapi dengan begitu, Mas bisa punya anak”

“Apa pernah Var memikirkan apa perasaan Mas, saat bersama Intan?”

Varnika menggeleng.

“Aku berusaha untuk tidak berfikiran apapun, Mas. Sudah biasa laki-laki beristri dua. Habis dari istri satu pindah ke istri lainnya”

“Apakah seperti itu, kamu memandang Mas? Kamu tidak tahu apa perasaan, Mas?”

“Kepuasan, kenikmatan mungkin?”

“Apakah setiap perempuan berfikiran begitu terhadap madunya?”

“Setiap perempuan pasti punya rasa cemburu, Mas. Apalagi terhadap istri lain dari suaminya”

“Mas hanya ingin bersamamu saja”

“Waktu tidak bisa di putar lagi. Mas sudah terlanjur menikahi dua perempuan. Kalau aku ditanya apa mauku? Aku hanya ingin, suamiku milikku sendiri tanpa berbagi.”

.
.
.
.
.

Hawa dingin yang menggigit, membuat nyamuk-nyamuk nakal kabur entah kemana. Atau mungkin mereka sengaja memberikan kesempatan kedua insan yang hendak memadu cinta itu.

“Bolehkah Mas minta sesuatu, Var?”

“Apa, Mas?”

“Jangan tidur malam ini. Kita lalui malam ini dengan banyak cerita”

“Sampai pagi?”

“Ya,,, atau sampai besok paginya lagi” goda Raden Bagas.

Varnika mencubit lengan suaminya. Raden Bagas berbalik dan memeluk istrinya.

“Kita tidak mandi tadi sore kan?”

Pria itu tak menjawab. Malah semakin membenamkan kepalanya di leher istrinya. Tak sabar untuk menikmati malam panjang di pengungsian mereka.

*****

Kokok ayam jantan pertama terdengar sayup-sayup dikejauhan. Varnika yang pertama kali membuka mata, memandang ke sekelilingnya. Yang tampak hanya gelap. Lampu minyak di sudut ruangan telah padam kehabisan minyak. Disampingnya Raden Bagas masih terlelap.

Mereka harus segera pulang, sebelum para pekerja datang. Dan orang-orang rumah bangun. Tapi tak tega rasanya membangunkan suaminya. Mereka baru terlelap dini hari tadi.

Tapi mereka harus segera bergerak. Dengan hati-hati dibangunkannya Raden Bagas. Pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya. Varnika terus memaksa hingga benar-benar suaminya membuka mata.

“Cepatlah, Mas. Mari kita pulang”

Varnika merapikan bajunya sendiri. Habis itu dia membantu Raden Bagas merapikan kemeja biru yang dipakai suaminya.

Setelah melangkah keluar bangunan, Raden Bagas menggandeng Varnika ke arah tempat dia meletakkan sepeda. Varnika merasa heran. Tadi malam katanya lupa meletakkan sepeda dimana, kok sekarang langsung saja menemukan sepeda itu. Padahal suasana masih gelap. Mereka berjalanpun hati-hati.

Varnika berhenti.

“Apakah Mas pura-pura lupa tempat sepeda ini kemarin?”

Raden Bagas tak menjawab. Dituntunnya sepeda sambil berjalan disamping Varnika.

“Mas!” Tegur Varnika lagi.

Pria itu menoleh, hanya tersenyum tak menjawab. Akhirnya pukulan bertubi-tubi mendarat dipunggung pria itu. Suasana yang masih hening itu akhirnya diwarnai tawa mereka.

********

Senja telah berlalu. Malam mulai merayap membawa hawa dingin dalam kegelisahan di rumah besar keluarga almarhum Raden Haryo Kusumo. Di ruang keluarga rumah utama, telah hadir keluarga Raden ayu Intan Kumalasari. Mereka duduk dengan harap-harap cemas. Sejak subuh tadi ketuban Den Intan telah merembes. Tapi sampai saat itu belum ada tanda-tanda bayinya akan lahir. Dua orang bidan tak kalah gelisah duduk disamping Raden Intan.

Perempuan itu mendesis menahan sakit. Terkadang menjerit dan menangis. Mencakar tangan Raden Bagas yang duduk disampingnya. Tiba-tiba timbul rasa iba mendera hatinya. Perlahan pria itu berdiri dan melangkah keluar. Tak sampai hati menyaksikan kesakitan yang dialami istrinya.

Sementara di dapur, Varnika membantu merebus air dan membuatkan minum tamu-tamu di depan. Disudut matanya ada butir bening yang hendak luruh ke pipi. Dengan segera dilap dengan punggung tangannya.

“Jangan sedih, Nduk” ucap mbok Minah sambil mengelus punggung Varnika.

“Saya yang salah, mbok. Aku sudah ngotot ngajak pulang kemarin sore. Tapi Mas Bagas yang kekeh tak mau”

“Sudahlah, Nduk. Doakan saja bayi Den Ayu segera lahir”

“Tentu Ibu akan semakin benci dengan aku, mbok. Tadi mbok juga tahu, bagaimana dia memaki aku kan?”

“Sudah, Nduk. Sudah. Jangan dipikir panjang”

Mbok Minah sibuk memasukkan kayu bakar ke Pawon (semacam tungku dari tanah liat). Menjaga agar api tetap menyala. Jika sewaktu-waktu bayinya lahir, air hangat sudah siap.

Dari pintu muncul Sarni, gadis itu tampak terburu-buru. Dan hampir saja terjatuh, saat kakinya tersandung kursi kecil.

“Mbak Var, mbok Minah, Den ayu Intan mau dibawa ke rumah sakit sekarang”

Varnika dan mbok Minah terkejut. Keduanya bersamaan berdiri dan melangkah keluar dapur. Dengan langkah cepat mereka berjalan ke rumah depan.

Di halaman depan, Varnika melihat Raden Bagas membopong Den Intan dibawa masuk ke dalam mobil sedan Toyota Corolla yang sudah disiapkan Pak Karto. Di ikuti kedua orang tua Raden ayu Intan.

Sedangkan Bu Darminah keluar dari kamar membawa tas tangannya. Tergesa-gesa menyusul ke depan. Sebelum masuk mobil, wanita itu mendekati Mbok Semi.

“Mbok, bilang sama perempuan itu. Sepulang kami dari rumah sakit. Aku tak ingin melihatnya masih disini” ucapnya sambil melirik Varnika yang berdiri disamping Mbok Minah.

Varnika terkejut. Begitupun orang-orang yang ada disitu, termasuk Raden Panji.

Bu Darminah lantas masuk mobil yang akan disopiri Pak Karto. Mereka akan menyusul mobil yang dikendarai Raden Bagas, yang telah jauh melaju.

Varnika melangkah ke rumah belakang. Telinganya tidak tuli. Dia mendengar jelas apa yang dikatakan mertuanya. Mbok Minah mengejar langkah Varnika.

“Nduk, kamu mau pergi?” ketika melihat Varnika mengeluarkan baju dari lemari.

Varnika mengangguk. Air matanya tumpah tak terbendung. Diambilnya tas dari atas lemari. Baju-bajunya langsung dimasukkan ke dalam tas berdebu itu.

Mbok Minah, Mbok Semi dan Sarni menangis. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Dari pintu muncul Raden Panji.

Ketiga wanita itu mundur ke belakang. Memberi ruang Raden Panji mendekati Varnika.

“Var. Sebaiknya menunggu Bagas pulang dulu. Mungkin Budhe sedang emosi tadi”

“Ndak, Mas. Ibu sudah mengusir saya. Mungkin memang sudah waktunya saya pergi dari rumah ini. Saya masih punya orang tua. Saya akan pulang kesana”

“Tidak dipikirkan untuk semalam ini?”

Varnika menggeleng.

“Ini sudah malam, Var”

“Nggak apa-apa, Mas. Saya berani kok”

“Baiklah. Aku yang akan mengantarmu”

“Tidak usah, Mas”

“Akan ku panasi mesin mobil dulu. Aku tunggu di depan”

Raden Panji meninggalkan kamar Varnika. Mbok Minah mendekat dan memeluk wanita malang itu. Keduanya berangkulan dan menangis.

“Den Bagas akan kaget saat kamu sudah ndak ada di sini, Nduk”

“Biarlah, Mbok. Mas Bagas tentunya tahu kemana akan mencariku. Jika dia masih peduli. Saya juga sudah capek dihina terus, Mbok”

Varnika selesai berkemas. Sebelum melangkah dia menyalami Mbok Semi dan Mbok Minah. Memeluk Sarni yang masih sesenggukan.

*****

Mobil pickup melaju membelah kabut malam. Varnika diam memandang ke depan. Raden Panji pun tak bersuara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

Varnika teringat kemarin masih menikmati malam bersama Raden Bagas. Siapa menyangka, karena malam itu juga, dia terusir dari rumah suaminya.

“Var, apa yang harus kukatakan pada Bagas saat dia pulang nanti?”

“Saya nggak tahu, Mas”

Raden Panji memandang Varnika penuh rasa iba. Dia tak menyangka, budhenya Setega itu pada perempuan selembut Varnika.

Budhe dan ibunya di Surakarta sana sungguh jauh berbeda. Budhe masih mengutamakan bibit, bebet, bobot dalam memilih menantu. Sedangkan ibunya, memberi kebebasan mutlak untuk dia memilih pasangan hidup.

Tapi sampai sekarang dia belum menemukan wanita yang digandrungi (disukai) untuk menjadi menantu ibunya. Dia juga tak peduli saat digelari perjaka tua.

Sebenarnya siapa perempuan yang bisa menolak pria baik dan tampan seperti Raden Panji. Banyak yang bersedia menjadi istrinya. Tapi hatinya sudah tertambat pada seseorang. Dan perempuan itu adalah milik orang lain.

Baca Selanjutnya: Cemburu Seorang Istri Part 7

Related posts

Cemburu Seorang Istri Part 7

admin

Cemburu Seorang Istri Part 8

admin

#Penyesalan Seorang Suami

admin

Leave a Comment

WeCreativez WhatsApp Support
Pertanyaan Anda Siap Saya Jawab. Jangan lupa klik kirim..ya!! 0857-2135-9436
👋 Hai, pastikan Pesan Anda Terkirim di WA