Fantasi

Cemburu Seorang Istri Part 5

Kisah Cerita Dewasa Cemburu Seorang Istri Part 5

Cemburu Seorang Istri – Bulan sabit nampak dilangit sebelah barat. Menandakan bulan hijriah sudah berganti. Bulan hijriah juga dipakai sebagai kalender Jawa. Varnika duduk di emperan rumah belakang. Udara malam yang teramat dingin, membuatnya tak berani duduk di taman. Diam di kamar pun terasa amat membosankan.

Inilah dunia Varnika dua tahun terakhir ini. Kamar, taman dan dapur. Entah sudah berapa bulan dia tak menginjakkan kaki di rumah utama, mungkin juga sudah dua tahun ini. Perubahan apa disana, dia pun tidak tahu.

Ibu mertuanya sesekali ke dapur, mencari mbok Minah, atau perlu dengan yang lainnya. Wanita ningrat yang selalu anggun berkebaya itu tak pernah menegurnya. Di sapa pun, tak memberi respon yang menyenangkan. Menyakitkan bukan?

Tapi Varnika masih tetap disitu. Bertahan dengan situasi yang membuat dirinya seperti perempuan bodoh yang tak punya harga diri.

Dua tahun di abaikan, seminggu didatangi dan sekarang dua minggu tak disambangi. Apa dia harus bersabar lagi?

Ketika Raden Bagas bersamanya, begitu mudah hatinya luluh. Melayani kewajibannya sebagai istri. Apakah selembut itu Raden Bagas memperlakukan istri yang satunya lagi? Tak sanggup Varnika membayangkan.

Varnika masih hanyut dalam lamunannya. Dia tidak tahu ada sepasang mata yang memperlihatkannya dari balik jendela kamar rumah depan.

Raden Panji sudah berdiri disitu sejak tadi. Memperhatikan perempuan sebaik Varnika yang telah direndahkan, oleh kerabatnya sendiri. Jika itu terjadi pada perempuan lain, apakah perempuan itu akan mengambil keputusan sama seperti Varnika? Hanya diam, diombang-ambingkan keadaan dan perasaan. Terasa sesak dadanya, seolah turut merasakan penderitaan batin Varnika.

Udara semakin terasa dingin, karena malam semakin larut. Varnika menoleh saat mbok Minah duduk disampingnya.

“Kamu kangen to, Nduk?”

Varnika tersenyum.

“Raden Ayu Intan kok belum melahirkan ya, Mbok? Lihat itu, sudah tanggal muda lagi”
Varnika menunjuk ke bulan sabit di langit.

“Biarkan to, Nduk. Kok kamu ikut memikirkannya”

“Yang dikandung itu anak suamiku, Mbok”

“Sebentar lagi kamu juga bakalan mengandung, Nduk. Lihat saja nanti. Mbok selalu berdoa untukmu. Perutmu ini tak lama lagi akan berisi bayi”
Varnika merasa geli saat perutnya di usap Mbok Minah.

“Aku sudah takut untuk berharap lagi, Mbok”

“Jangan putus asa, Nduk. Siapa tahu yang seminggu kemarin akan membuatmu hamil” Mbok Minah senyum-senyum menggodanya. Varnika tersipu malu.

“Kamu ini sudah lama hidup sama si mbok. Ndak usah malu-malu. Kamu sudah seperti anak si mbok sendiri. Mbok tahu kok, Den Bagas selalu datang setelah larut malam ke kamarmu”

“Kadang aku mikir seperti perempuan simpanan saja, Mbok. Padahal aku ini sudah sepuluh tahun jadi istrinya”

“Dijalani saja, Nduk. Si mbok percaya Gusti Alloh ndak sare ( tidak tidur). Semua ndak ada yang sia-sia. Kamu akan bahagia nanti”

“Aamiin”

“Nduk, kamu tahu ndak. Den Panji itu suka diam-diam merhatiin kamu lho”

Varnika memandang heran pada Mbok Minah.

“Dia sepertinya menaruh hati sama kamu”

“Ndak mungkin lah, Mbok” Varnika tak percaya.

“Bener, Nduk. Si Mbok ini bisa membedakan, mana tatapan biasa, mana tatapan suka. Tapi jangan dipikirkan, Nduk. Kamu ini istri sepupunya”

“Si Mbok juga, kenapa ngasih tau aku?”

“Biar kamu tau, kalau kamu ini masih menarik”

“Raden Panji itu cuman kasihan sama aku, Mbok”

“Bukan, Nduk. Tapi ya sudahlah biarin saja ya. Ayo masuk tidur, sudah malam lho”

Kedua wanita itu masuk ke dalam rumah.

*****

Raden Bagas berhenti melangkah, saat tangan Raden Ayu Intan menahan lengannya.

“Jangan tinggalkan aku malam ini” itulah awal perdebatan mereka.

“Aku akan keluar sebentar”

“Ke tempat perempuan itu? Aku tidak rela” ketus sekali suara Raden Ayu Intan.

“Perempuan itu punya nama, Dinda. Dia istriku juga, bukan selingkuhanku”

“Istri yang kangmas cintai setengah mati? Iya kan? Terus aku dapat apa? Kangmas menggauliku hanya untuk mendapatkan anak saja bukan? Karena perempuan yang kau sanjung tinggi itu mandul”

Raden Bagas menahan diri untuk tidak tersulut emosi. Dia harus tetap sadar. Di perut Intan ada anaknya. Perempuan itu mulai menangis.

“Ketika ibunya kangmas melamarku, aku tak pikir panjang untuk membuat keputusan. Aku begitu bahagia, karena akan menikah dengan pria yang ku puja dan ku cintai sejak umurku lima belas tahun”

Raden Bagas diam.

“Aku sudah jatuh cinta dengan kangmas, sejak aku ikut Romo ibu menghadiri pernikahan Sekar di rumah ini”

Sekar adalah adik bungsu Raden Bagas. Sekarang tinggal bersama suaminya di Banyuwangi. Dialah satu-satunya saudara Raden Bagas yang begitu baik pada Varnika. Tidak seperti kedua kakak perempuannya yang sama galaknya seperti Bu Darminah.

“Apakah dinda tidak ingin punya suami yang bisa bersikap adil?”

“Adil bagaimana? Raga kangmas mungkin bisa adil tapi hati kangmas tidak”

Raden Ayu Intan menghapus air mata yang luruh dipipinya.

“Apa perempuan itu lebih bisa memuaskan kangmas daripada aku?”

“Apakah pantas kita bicara hal ini, dinda?” Raden Bagas mulai emosi.

“Ada apa ini?” dari pintu muncul bu Darminah.

“Kenapa malam-malam bertengkar?”

Raden Ayu Intan mendekat dan memeluk ibu mertuanya. Wanita itu membelai rambut menantunya.

Sebentar kemudian Raden Ayu Intan mulai tenang.

“Ayo, Nduk. Tidurlah. Jaga kesehatanmu. Sebentar lagi kamu melahirkan lho”

Bu Darminah membantu menantu kesayangannya berbaring di ranjang. Setelah itu, wanita itu menarik tangan anak lelakinya keluar kamar.

“Kamu ini ya, sudah ibu bilangin. Jangan buat hati Ambar tertekan. Kamu mau, terjadi apa-apa sama anak kamu”

“Bu, dua tahun aku menjauhi Varnika. Ibu ingin agar aku segera punya anak. Dan sebentar lagi, cucu ibu akan lahir. Waktuku banyak disini, Bu. Daripada bersama Varnika. Apa ibu tidak sedikitpun iba dengan Varnika? Dia juga menantu ibu”

Bu Darminah membuang muka.

“Pokoknya, ibu tidak mau ada keributan lagi antara kamu dan Intan. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Intan dan anaknya, ibu tak segan-segan mengusir perempuan itu dari rumah ini”

Setelah berkata begitu, Bu Darminah melangkah pergi meninggalkan Bagas yang masih berdiri di depan kamarnya.

Panji keluar dari kamarnya. Kedua pria itu melangkah duduk di ruang tengah.

“Setelah kamu menikahi Ambar, apa sering terjadi keributan seperti ini?”

“Tidak. Baru akhir-akhir ini saja. Ambar tak mengijinkan aku bertemu Varnika. Sedangkan selama hampir dua tahun aku mengabaikan dia. Dan Varnika hanya diam saja”

“Aku sering melihat Varnika duduk sendirian di taman”

“Ya… Dia tak pernah lagi masuk rumah ini. Kau tahu bagaimana perasaanku? Seperti dihimpit rasa bersalah setiap saat. Aku membiarkannya seperti orang asing di rumah suaminya sendiri”

Malam kian larut, kedua pria itu belum beranjak dari ruang tengah. Keduanya larut dalam perasaan masing-masing. Tanpa saling disadari, keduanya memikirkan perempuan yang sama. Varnika.

*****

“Sudah siang lho, Nduk. Ayo sarapan! Si Mbok bikin urap kesukaanmu”

Ajak Mbok Minah yang masuk kamar Varnika.

Sedangkan Varnika masih asik menyapukan bedak ke wajahnya. Mbok Minah sedikit heran.

“Nduk” mbok Minah menyentuh pundak Varnika.

“Ya, Mbok” Varnika memoleskan lipstik tipis ke bibirnya.

“Saya mau kencan, Mbok”

“Kencan itu apa to, Nduk? Si mbok ndak ngerti”

“Janjian, Mbok. Semayanan”

“Iya to? Sama siapa?”

Varnika menyodorkan kertas kecil pada mbok Minah.

“Si mbok mana bisa baca to, Nduk”

“Pesan dari Mas Bagas, Mbok. Dititipkan sama Sarni. Pagi ini dia mau ngajak ke perkebunan. Nanti kami sarapan di warung Mbok Mijah saja. Sudah lama sekali aku tak makan nasi uduknya”

“O, gitu. Ya sudah, hati-hati ya. Bikin hatimu senang”

“Aku berangkat dulu ya, Mbok”

Mbok Minah mengangguk. Varnika melangkah cepat lewat belakang. Rupanya Raden Bagas sudah menunggu tak jauh dari pintu gapura.

Mereka saling melempar senyum.

“Kita naik sepeda onthel saja ya”

Varnika mengangguk lalu membetulkan rok bercorak polkadot warna biru yang dipakainya, sebelum naik boncengan sepeda. Varnika melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.

Sepeda melaju santai dijalanan yang masih sepi menuju perkebunan. Udara pagi itu agak bersahabat. Tidak terlalu dingin. Suasana yang nyaman.

*****

Raden Bagas mengajak Varnika duduk dibangku panjang. Di depan gudang tempat penyimpanan daun teh yang sudah dipetik. Dari jauh nampak Raden Panji memperhatikan kedua insan yang sedang bercengkrama itu. Ada senyum di bibirnya.

Beberapa pekerja kadang mencuri pandang pada keduanya. Mungkin juga ada rasa heran. Sudah terlalu lama, pemandangan itu tak pernah dilihat mereka.

“Bagaimana kalau ibu tahu, kita pergi berdua, Mas?”

“Biar saja”

“Ibu pasti marah”

Raden Bagas tak menjawab.

“Kamu cantik sekali hari ini” puji Raden Bagas.

Varnika tersenyum.

“Mas lupa kapan terakhir kita pergi berdua seperti ini?”

“Tiga hari sebelum pernikahan, Mas, dengan Den Ayu Intan”

“Kamu masih ingat ya”

“Tentu. Hari dimana itu awal dari kesendirianku setelah bersuami”

“Maafkan Mas ya”

Raden Bagas merangkul pundak Varnika.

“Kita akan menua bersama-sama”

“Mas yakin akan tetap bersamaku. Walaupun mungkin aku tak bisa memberikan mas anak?”

“Kita akan bertahan, apapun keadaannya. Dan kita masih ada kesempatan untuk berusaha agar kamu melahirkan anak untukku. Tapi jangan jadikan beban, Var”

“Mas hanya tak ingin, Var meninggalkan Mas”

Mata Varnika berkaca-kaca. Memandang pria disampingnya dengan penuh rasa cinta.

Matahari sudah tergelincir di langit barat. Kabut sudah mulai turun dari puncak gunung Merapi. Hawa dingin mulai terasa.

“Kita pulang, Mas!”

“Kita menginap saja di gudang malam ini”

Varnika membulatkan mata indahnya. Raden Bagas tersenyum nakal.

“Jangan. Akan ada huru hara nanti. Ayo kita pulang”

Varnika menarik tangan Raden Bagas. Keduanya beriringan melewati jalan tengah kebun teh. Kabut tebal bergerak makin cepat. Dingin kian terasa di kulit.

Baca Lanjutannya: Cemburu Seorang Istri Part 6

Related posts

#Aku Liar Untukmu Mas

admin

#Penyesalan Seorang Suami

admin

Cemburu Seorang Istri Part 3

admin

Leave a Comment

WeCreativez WhatsApp Support
Pertanyaan Anda Siap Saya Jawab. Jangan lupa klik kirim..ya!! 0857-2135-9436
👋 Hai, pastikan Pesan Anda Terkirim di WA