Fantasi

Cemburu Seorang Istri Part 4

Kisah Cerita Dewasa Cemburu Seorang Istri Part 4

Cemburu Seorang Istri – Kabut pagi mulai memudar, meninggalkan embun bening di dedaunan. Suara kicau burung didahan pohon menyemarakkan suasana hening pagi itu. Varnika masih asik memetik bunga melati di taman. Hingga dia menoleh saat menyadari ada seseorang yang berdiri di belakangnya.

“Den Ayu Intan!” ucapnya terkejut.

“Ceria sekali kamu pagi ini. Habis dapat jatah ya semalam” sinis sekali ucapan perempuan muda yang sarat mengandung itu.

Varnika diam. Matanya yang indah menatap madu yang beracun dihadapannya.

(Dia suamiku, salahnya dimana? Jika dia ingin bersamaku. Selama ini aku hanya diam saat aku diabaikan)

Tapi kata-kata itu tak mampu Varnika keluarkan. Hanya tersekat ditenggorokan. Varnika membuang pandang pada bunga-bunga taman.

“Ku pastikan. Raden Bagas tak akan lagi memandangmu, setelah ku lahirkan anak ini. Menidurimu pun tak ada gunanya. Karena kamu tak akan bisa mengandung anaknya.”

Raden Ayu Intan tersenyum sinis sebelum pergi meninggalkan Varnika. Perempuan dua puluh tahun itu, melangkah sambil mengusap perutnya yang membuncit.

Varnika merasakan sesak di dadanya. Bibir lembut berlipstik merah milik Raden Intan rupanya bisa menjadi belati yang tajam. Mencabik-cabik harga dirinya. Hati Varnika tak terima, saat dibilang dirinya tak berguna. Tapi lagi dan lagi, dia tak bisa berbuat apa-apa. Varnika menarik nafas panjang, untuk menahan jatuhnya bulir bening di sudut mata.

“Ssssstttt….ssssstttttt…..”

Varnika menoleh. Ketika terdengar suitan dibelakangnya. Di pintu gapura belakang, berdiri seorang wanita seusia dirinya. Melambaikan tangan ke arahnya. Senyum Varnika merekah. Diletakkannya bakul dari anyaman bambu, yang berisi bunga melati di bangku taman. Varnika mendekati wanita itu.

“Yati. Ayo masuklah!”

Yati adalah teman se-dusun Varnika. Mereka teman dari kecil. Yati memeluk Varnika dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu kurus, Var. Kita duduk di luar saja”

Yati menggandeng lengan Varnika dan mengajaknya duduk di lincak (bangku panjang yang terbuat dari bambu), dibawah pohon mangga di luar pagar.

“Kamu darimana tadi? Sudah lama kita tak bertemu”

“Aku dari pasar tadi terus mampir ke sini. Kata mbok Sardi, kemarin kamu kesana. Kenapa nggak mampir?”

“Aku sudah kesiangan waktu mau mampir, Yat”

“Perempuan tadi madumu?”

Varnika mengangguk.

“Kalau aku jadi kamu. Sudah ku tampar mulut perempuan yang tak punya unggah ungguh (sopan santun) itu”

“Ssssstttt… pelan-pelan ngomongnya nanti ada yang dengar”

“Kamu ini jadi perempuan yang teges gitu lho. Jangan diam aja. Kamu bakal terus diinjak-injak. Lihatlah badanmu tak terawat begitu. Prihatin aku. Kamu sampai lupa cara merawat diri”

“Aku kadang sudah merasa lelah, Yat”

“Jangan menyerah. Perjuangkan hakmu. Jika kamu mau bertahan. Kamu lupa saat kalian mempertahankan hubungan hingga selamat ke pelaminan. Kamu bisa kan?”

“Dari dulu ibu memang tak menyukaiku. Apalagi sampai sekarang aku tak kunjung hamil”

“Dia tak suka kamu, sebab warna darahmu merah bukan biru. Sudahlah, jangan dipikir terlalu berat. Jika Alloh belum memberikan kesempatan kamu punya anak. Gunakan waktumu untuk merawat diri. Rebut lagi perhatian suamimu. Jangan jadi perempuan gembeng (cengeng)”

Kedua sahabat itu berbincang hingga matahari tepat diatas kepala. Pertemuan itu membuat mereka lupa waktu.

*****

Bu Darminah sibuk merangkai bunga di pendopo depan. Saat sebuah cikar (gerobak yang ditarik oleh dua ekor sapi atau kerbau) berhenti didepan gapura.

Seorang pria seumuran Raden Bagas melompat turun dari belakang cikar. Pria itu membersihkan celananya dari jerami yang menempel.

“E… Panji. Bocah bagus akhirnya datang” bu Darminah dengan tergopoh-gopoh menyambut keponakan kesayangannya itu.

“Apa kabar, budhe?” Pria yang dipanggil Panji itu menyalami dan mencium tangan budhenya. Panji adalah anak dari adiknya bu Darminah. Dia tinggal di Surakarta.

“Kabar baik. Budhe sudah lama nunggu kamu. Budhe pikir kamu nolak tawaran budhe. Perkebunan kurang pengawasan. Istri Bagas sebentar lagi lahiran”

“Varnika?”

“Bukan. Intan yang hamil. Varnika itu mandul”
“Ayo masuk, Bagas baru pulang dari perkebunan. Istirahat dulu. Biar Sarni menyiapkan kamar untukmu”

Panji mengekori budhenya masuk ke rumah.

*****

“Kenapa Varnika tinggal di rumah belakang?” tanya Panji malam itu saat duduk ngopi di pendopo bersama Bagas.

“Dia tak mau tidur di kamar depan. Varnika sendiri yang mau tinggal di rumah belakang”

“Kasihan Varnika. Sekilas aku lihat, dia nampak kurus sekali. Kenapa tidak kamu buatkan rumah yang lebih layak lagi”

“Aku tak mau dia jauh dariku”

“Dengan membiarkannya di tempat seperti itu?”

“Aku tak punya pilihan. Apa kamu pikir, aku mudah melalui semua ini”

Raden Bagas berdiri setelah meneguk habis kopinya.

“Aku masuk dulu. Tidurlah, kamu pasti capek”

Panji yang juga memiliki gelar Raden didepan namanya itu, memandangi sepupunya hingga menghilang dibalik pintu.

Raden Bagas tak jadi masuk kamarnya, setelah dilihatnya Intan tertidur pulas. Ditutupnya pintu perlahan.

“Kamu mau kemana?” tanya bu Darminah yang muncul dari dalam kamarnya.

“Ke Varnika, Bu”

“Intan sewaktu-waktu melahirkan, kenapa ditinggal-tinggal”

“Varnika juga istriku, Bu. Dia juga berhak memiliki waktuku”

“Jangan membuat Intan banyak pikiran. Itu akan mempengaruhi proses kelahiran anakmu”

Setelah berkata begitu, bu Darminah masuk kembali ke kamarnya. Bagas menyisir kasar rambutnya. Dia melangkah ke teras belakang. Duduk dikursi goyang menghadap taman. Disandarkannya punggung yang terasa lelah karena beban pikiran.

Dalam remang-remang cahaya lampu petromak, dia menangkap sosok bayangan Varnika duduk dibangku taman. Rambutnya dikepang dua. Dia tak seperti perempuan dua puluh tujuh tahun. Badannya yang begitu kurus, tak mengurangi kecantikannya. Varnika masih seperti perawan dusun Wonosari yang dikenalnya sepuluh tahun yang lalu.

Raden Bagas melangkah mendekati Varnika. Dan duduk disampingnya.

“Belum tidur? Di luar dingin, Var”

“Mas juga belum tidur?”

“Belum mengantuk. Kita sudah lama tak pernah lagi duduk berdua di taman seperti ini. Dulu kita memandang bulan di angkasa sambil minum wedang jahe. Tapi sekarang langit gelap, seperti kelamnya hati kita. Mas tak pernah lagi minum wedang jahe buatanmu”

“Karena sudah ada Den Ayu Intan yang membuatkannya kan, Mas!”

Raden Bagas tak menjawab. Diraihnya jemari Varnika dalam genggamannya. Wanita itu menyandarkan kepala di pundak suaminya. Ada damai yang menyelimuti hati. Luka yang kemarin menganga, sembuh tiba-tiba. ( Betapa mudahnya kau melupakan itu Varnika. Kenapa hatimu yang berkecai kemarin begitu cepatnya utuh sempurna kembali. Hanya dengan satu sentuhan kau mudah melupakan rasa kecewa ), ada bisikan halus disisi hatinya yang lain.

“Kembalilah ke depan, Mas. Nanti Den Ayu Intan mencarimu”

“Akan ku habiskan malam ini bersamamu”

“Den Ayu Intan akan mencarimu, Mas”

Raden Bagas tak menjawab. Malah semakin erat menggenggam jemari Varnika.

“Aku ingin mendapatkan ketenangan, saat terlelap disampingmu. Seperti malam kemarin”

Apakah ini pertanda bahwa besok pagi, dia akan mendapatkan caci maki lagi??

(Rebut lagi perhatian suamimu) Varnika teringat ucapan Yati tadi siang. Pria ini suaminya. Lelaki yang ia cintai. Walaupun harus berbagi dengan perempuan lain.

Raden Bagas mencium kening Varnika. Harum rambut Varnika membangkitkan gairahnya. Dirangkulnya perempuan itu erat-erat.

Varnika menoleh ke samping, takut ada yang melihat mereka bermesraan di taman. Varnika akan merasa malu. Dia perempuan pribumi yang memegang teguh adat ketimuran.

“Apakah aku diijinkan tidur lagi di kamarmu malam ini?”

Varnika memandang lekat suaminya. Ada kerinduan di rahang tegas Raden Bagas. Pria itu tersenyum manis menatapnya.

Varnika membalas senyuman itu. Raden Bagas bangkit dan menghulurkan tangan. Keduanya melangkah melewati bunga-bunga sedap malam yang menebarkan aroma wangi.

Baca Selanjutnya: Cemburu Seorang Istri Part 5

Related posts

Cemburu Seorang Istri Part 3

admin

Cemburu Seorang Istri Part 7

admin

#Aku Liar Untukmu Mas

admin

Leave a Comment

WeCreativez WhatsApp Support
Pertanyaan Anda Siap Saya Jawab. Jangan lupa klik kirim..ya!!
👋 Hai, pastikan Pesan Anda Terkirim di WA