Fantasi

Cemburu Seorang Istri Part 3

Kisah Cerita Dewasa Cemburu Seorang Istri Part 3

Cemburu Seorang Istri – Malam berselimut hawa dingin, yang menusuk hingga ke tulang. Langit malam Singosari terlihat kelam tanpa bintang dan cahaya bulan.

Varnika masih berdiri didekat jendela kamar. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. Dia teringat kata-kata bapaknya tadi pagi.

“Nduk, jangan dipaksakan kalau hatimu ndak kuat. Apakah kamu akan menjalani keadaan seperti ini, sampai hari tuamu nanti. Bapak ndak memaksamu bertahan, Nduk. Bapak ingin melihatmu bahagia seperti dulu. Lihat sekarang badanmu kurus kering begini. Bapak nelongso, Nduk”

Varnika melihat kesedihan di guratan keriput wajah bapaknya. Apa yang dikatakan bapaknya terbalik dengan kata-kata si mboknya.

“Kalau aku bercerai, apa aku akan bahagia, Pak? Aku perempuan tanpa anak.”

“Jangan berkecil hati, Nduk. Kamu masih muda. Mungkin belum waktunya Gusti Alloh, ngasih kepercayaan sama kamu”

“Aku sudah dua puluh tujuh tahun, Pak”

“Masih muda itu, Nduk” pak Sardi masih berusaha menghibur anak perempuannya.

Varnika mengela nafas panjang. Dia menoleh saat ada yang masuk ke kamarnya.
.
.
.

Dari pintu kamar muncul Mbok Minah, membawakannya segelas jahe hangat.

“Nduk, ini wedang jahe diminum. Biar hangat badanmu”

Mbok Minah mengangsurkan gelas pada Varnika. Wanita itu menyesap sedikit dan meletakkannya di meja. Kedua wanita beda generasi itu duduk bersebelahan.

“Saya ini seperti perempuan yang nggak berguna ya, Mbok?”

“Kok ngomong gitu to, Nduk!”

“Tiap hari kerjaannya makan sama tidur saja. Seperti orang sakit, yang tinggal menunggu hari kematiannya saja”

“Hussss…jangan ngomong gitu. Kamu harus kuat. Jangan lupa berdoa tiap sholat. Agar Den Bagas, kembali sadar. Kalau dia punya istri yang dilupakannya selama ini”

“Sebentar lagi anaknya lahir, Mbok. Mas Bagas, akan semakin menjauh dariku”

“Percayalah, tak ada yang ndak mungkin. Jika Gusti Alloh sudah berkehendak. Contohlah si mbokmu, Nduk. Dia wanita yang tegar dan tegas. Dulu waktu kamu masih bayi, kakangmu masih kecil. Bapakmu pernah digoda janda kembang dusun Wonosari. Karena keteguhan si mbokmu, akhirnya bapakmu bisa lepas dari janda yang pakai susuk pengasihan itu”

“Keadaan si mbok, berbeda denganku. Si mbok ada anak. Sedangkan aku mandul.”

“Jangan ngomong gitu, Nduk. Ucapan itu bisa jadi doa lho. Ngomong yang baik-baik saja. Siapa yang sabar, dia akan menang. Dulu bapakmu waktu masih muda, banyak dikejar perawan-perawan desa. Tapi si mbokmu juga yang akhirnya jadi istrinya. Si mbokmu waktu masih perawan dulu cantik, Nduk. Kecantikannya nurun ke kamu.Banyak yang suka bapakmu dulu”

“Termasuk, Mbok Nah ya?”

Mbok Minah tertawa renyah. Varnika juga ikut tertawa. Mbok Minah senang bisa melihat Varnika seperti itu.

“Gitu, Nduk. Harus ceria. Si Mbok kangen dengan dirimu yang dulu. Yang selalu ceria.”

Obrolan terhenti ketika pintu kamar dibuka. Seorang pria muda masuk. Kehadiran Raden Bagas membuat Varnika terkejut.

Mbok Minah segera bangkit dari duduknya, dan minta ijin keluar. Varnika agak salah tingkah. Seperti pengantin baru, yang pertama kali bertemu dalam satu kamar.

Raden Bagas duduk dikursi bekas Mbok Minah. Dipandanginya Varnika yang sibuk menyanggul rambutnya. Hingga rambut itu sempurna membentuk seperti rumah keong di kepalanya.

“Ada apa, Mas kemari?” tanya Varnika hati-hati.

“Maafkan, Mas. Sudah lama Mas mengabaikanmu. Mas, tak pernah melupakanmu. Percayalah itu. Perasaan Mas tak pernah berubah.”

“Apa Mas,mencintai Raden Ayu Intan?”

Raden Bagas terdiam.

“Dia juga istrinya Mas Bagas. Ibu dari anak, Mas”

“Intan adalah wanita pilihan Ibu.”

Keheningan sejenak menerpa keduanya. Varnika memainkan cincin pernikahan dijari manisnya.

“Malam ini, Mas akan tidur disini”

Varnika kaget dan memandang Raden Bagas. Pria itu mengukir senyum di bibirnya.

“Bagaimana dengan Raden Ayu Intan?”

Tanpa menjawab Raden Bagas berdiri menuju ranjang Varnika.

“Ayo kita bersihkan tempat tidurnya”

Pria itu mengebas-ngebas kasur dengan sapu lidi yang tergeletak di samping ranjang. Setelah itu Raden Bagas berbaring. Perlahan Varnika mendekat dan melakukan hal yang sama.

Keduanya diam memandang atap kamar. Detak jantung Varnika berirama sangat cepat. Rasa yang sama seperti di malam pertama pernikahan mereka.

Raden Bagas bergerak, mengambil posisi miring menghadap istrinya. Varnika masih diam. Matanya lebih kerap berkedip memandang ke atas.

“Boleh aku menyentuhmu, var?” lirih sekali suara itu.

Varnika memandang kesamping. Mata mereka bertemu. Seperti terhipnotis, Varnika masih diam. Bahkan ketika lengan kokoh itu, meraihnya kedalam pelukan suaminya. Mata Varnika terpejam. Dia tidak bisa menolak. Varnika juga perempuan dewasa, dia butuh dan dia juga mau. Pria yang berjarak begitu dekat itu adalah miliknya yang sah.

Hawa dingin sudah tak terasa lagi, ketika satu persatu baju terlepas dari badan keduanya. Sejenak terlupakan rasa cemburu di hati Varnika. Malam tanpa bintang itu, menjadi saksi dua insan yang dimabuk kasmaran.

****

Kokok ayam jantan membangunkan Varnika. Perlahan dia memindahkan lengan Raden Bagas yang melingkar dipinggangnya. Dipandanginya wajah pria itu. Wajah yang terlelap tenang. Sudah lama Varnika tak menatap begitu dekat wajah itu. Sebelum air matanya luruh, buru-buru Varnika turun dari dipan kayu.

Setelah sholat subuh. Varnika membangunkan suaminya.

“Mas, sudah subuh. Nanti Den ayu Intan mencari, Mas”

Raden Bagas membuka mata. Melihat istrinya yang sudah segar habis mandi. Pria itu bangkit dari tempat tidur. Setelah memakai kaos, dia mendekati istrinya.

“Aku mandi dulu di depan. Dan ini uang nafkah buat kamu” Raden Bagas menghulurkan amplop warna coklat ke tangan Varnika.

“Maafkan Mas, yang tidak adil selama ini. Mas kembali ke depan ya”

Raden Bagas melangkah hendak keluar kamar.

“Mas” panggil Varnika.

Raden Bagas menoleh.

“Tidakkah aku seperti pelacur, yang dibayar setelah ditiduri”

Raden Bagas mendekat. Meraih Varnika dalam pelukannya.

“Kamu istriku. Sampai kapanpun. Jangan berfikiran yang bukan-bukan.”

*****

“Darimana kamu, Bagas?” tanya Bu Darminah saat Raden Bagas lewat di ruang tengah.

“Intan tak tidur semalaman, sebab menunggumu. Dia sebentar lagi melahirkan anakmu. Teganya kamu tinggal malam-malam”, ada nada marah di suara ibunya.

“Aku ada istri lain. Selain Intan, Bu” jawab Raden Bagas, sambil berjalan menuju kamar mandi.

Bu Darminah melihat putranya dengan sorot mata penuh kemarahan.

Baca Selanjutnya: Cemburu Seorang Istri Part 4

Related posts

Cemburu Seorang Istri Part 8

admin

Cemburu Seorang Istri Part 7

admin

Cemburu Seorang Istri Part 5

admin

Leave a Comment

WeCreativez WhatsApp Support
Pertanyaan Anda Siap Saya Jawab. Jangan lupa klik kirim..ya!!
👋 Hai, pastikan Pesan Anda Terkirim di WA