Konsultan SEO Indonesia | ISWANTO SEO
Fantasi

Cemburu Seorang Istri Part 2

Kisah Cerita Dewasa Cemburu Seorang Istri Part 2

Cemburu Seorang Istri – Pagi begitu dingin. Varnika meraih sweter abu-abu dari sandaran kursi. Memakainya lantas keluar kamar.

Di luar masih tampak gelap. Kabut cukup tebal turun dari puncak gunung Merapi. Menebarkan hawa sejuk dipelosok Magelang. Dengan langkah cepat Varnika menuju dapur. Terdengar ada keributan kecil disana.

“Ada apa, Mbok?”

“Ini lho, Mbak. Lagi ngejar ayam. Tadi si mbok beli ayam di pasar. Mau disembelih sama Karto, kok ayamnya lepas. Den Ayu Intan pingin makan ayam panggang” jawab mbok Semi. Sambil ngikat kaki ayam pakai tali.

Mbok Semi ini masih saudara sama Mbok Minah. Sudah lama keduanya bekerja dengan keluarga Bagas. Sejak Bagas masih sekolah. Mbok Semi yang tugasnya belanja keperluan dapur dan rumah. Karena dia yang lincah naik sepeda. Mbok Nah yang bagian masak. Terus satu lagi, Sarni. Gadis enam belas tahun itu bagian bersih-bersih rumah depan.

“Mbak Var, mau dimasakin apa hari ini?” tanya Mbok Minah.

“Apa saja yang Mbok Nah masak, nanti aku makan. Oh ya, aku mau ke tempat si Mbok (ibu), sudah lama aku tak kesana.”

“Lho, pagi-pagi begini? Masih gelap lho diluar” kata mbok Semi.

“Sudah hampir setengah tujuh, Mbok. Gelap karena kabut saja. Sebentar lagi juga terang.”

Varnika keluar dapur. Celingak-celinguk mencari sesuatu.

“Sepedanya dimana, Mbok?”

“Si Mbok taruh dibawah pohon mangga, Mbak” jawab mbok Semi.

“Ya sudah. Aku pergi dulu ya, Mbok” pamitnya pada kedua wanita umur enam puluhan itu. Keduanya mengangguk. Mbok Nah mengikuti Varnika sampai di pintu dapur.

“Hati-hati ya, Nduk!”

Mbok Nah ini kadang memanggil Varnika dengan sebutan Mbak, kadang Nduk (panggilan sayang untuk anak perempuan di Jawa).

Varnika menuntun sepeda jengki Phoenix warna biru keluar gapura belakang. Pada tahun 1985, sepeda seperti itu sudah sangat istimewa. Tak semua orang bisa membelinya. Di desa itu hanya beberapa orang yang memilikinya. Itupun tak sebagus punya keluarga Raden Bagas.

Varnika mengayuh perlahan sepedanya membelah kabut pagi. Sesekali tangan kirinya membetulkan rok yang dipakainya agar tak tersingkap.

Belum jauh dia meninggalkan rumah megah mertuanya, laju sepedanya diperlahankan. Beberapa meter didepannya. Raden Bagas sedang jalan-jalan pagi menemani istri mudanya. Varnika menghentikan sepeda tepat dibelakang suaminya.

“Mas,” panggilannya lirih.

Sosok tinggi atletis itu berhenti dan menoleh. Begitu pun dengan wanita disampingnya.

“Var. Mau kemana kamu pagi-pagi begini?” tanya Raden Bagas heran.

“Aku minta ijin mau ke rumah si Mbok, Mas.”

“Nggak minta diantar saja sama, Pak Karto?”

Varnika menggeleng.

“Aku pergi dulu, Mas?” Varnika masih sempat melempar senyum pada madunya. Tapi wanita itu tak memberi respon apapun. Diam, membuang pandangan.

Varnika kembali mengayuh sepeda. Raden Bagas masih memandangi punggung istrinya yang semakin menjauh. Dirasakannya makin ada jarak antara dia dan Varnika. Wanita mungil yang begitu dicintainya. Sebenarnya perasaan itu tak pernah berubah. Bagaimana dengan perasaannya pada satu wanita lagi disampingnya? Entahlah….

Apa dia sudah kesengsem juga dengan wanita yang sedang mengandung anaknya itu? Apabila dia masih mencintai Varnika, bagaimana dia bisa mengabaikan wanita itu hingga berbulan-bulan. Tanpa memberikan haknya sebagai istri. Apa dia masih terlena dengan bulan madunya bersama perawan berdarah biru itu? Begitu egoisnya kamu Raden Bagas.

Cubitan kecil di lengan kirinya, membuyarkan angan-angannya.

“Hayo, kangmas mikir apa?” tegur Raden Ayu Intan sambil cemberut.

“Mikir Varnika” jawaban jujur Raden Bagas.

Raden Ayu Intan makin cemberut. Rasa cemburu menyentik emosinya. Dengan langkah cepat dia meninggalkan suaminya.

“Tunggu Dinda. Jalan pelan-pelan, kamu sedang mengandung lho!” Raden Bagas mengejar istrinya.

*****

Varnika masih mengayuh sepedanya melewati jalan kecil ditengah kebun teh. Sejauh mata memandang hamparan tanaman teh begitu hijau menyejukkan mata. Hidungnya menghirup wangi aroma daun teh. Rasa cemburu yang tadi membuncah mulai terkikis. Ada kedamaian saat dia menikmati suasana pagi itu. Gunung Arjuno tampak berdiri megah jauh dihadapannya.

Untuk menuju ke rumah orang tuanya, dia menempuh jarak dua kilometer. Dan jalan kecil ditengah kebun teh itu yang lebih mempercepat dia sampai di dusun kelahirannya. Hamparan kebun teh berhektar-hektar itu milik keluarga suaminya.

Tak terasa Varnika sudah sampai di halaman rumah masa kecilnya. Setelah menaruh sepeda di samping rumah. Varnika langsung masuk lewat pintu dapur. Dia tahu, ibunya pasti masih sibuk menyiapkan sarapan.

“Assalamu’alaikum, Mbok!” sapanya pada seorang wanita setengah baya, yang asik marut kelapa.

“Waalaikumsalam. E… kamu, Nduk. Pagi-pagi sudah sampai sini. Kamu sendirian apa sama suamimu?” Mbok Sardi memandang keluar dapur. Mencari sosok menantunya. Varnika duduk di kursi depan ibunya

“Aku sendirian, Mbok.”

Mbok Sardi mengangguk. Sejak menantunya itu menikah lagi. Tak pernah lagi datang berdua bersama Varnika. Kadang kalau habis dari kota, Raden Bagas akan mampir sejenak. Dan itupun sendirian.

“Kamu sarapan dulu. Mbok tadi masak nasi jagung sama urap daun ubi. Itu mbok juga goreng ikan asin kesukaanmu. Bapakmu yang minta tadi malam. Katanya kangen sama kamu.”

“Bapak kemana, Mbok?”

“Habis subuh tadi langsung ke sawah. Hari ini si Mbok panen jagung, Nduk.”

“Kamu ndak apa-apa to?”

“Nggak, Mbok”

“Oh ya, Mbok. Aku tadi lewat depan rumahnya Kang Suryo kok masih tutupan?”

Suryo itu nama kakak satu-satunya Varnika. Yang rumahnya tak jauh dari rumah orang tuanya.

“Mertuanya sakit. Makanya dari kemarin mereka tidur sana.”

“Oh ya, Nduk. Kata mbak Lasmi didukuh mana gitu, si mbok lupa nama desanya. Ada orang pintar. Banyak yang jodoh urut disana terus bisa hamil. Coba kamu kesana suruh antar mbak Lasmi.” Lasmi adalah istrinya Suryo.

Varnika menggeleng.

“Nggak, Mbok. Biar sedikasihnya aja. Takut musyrik, Mbok”

“Siapa tahu, Nduk. Nanti cocok disana. Dan kamu lekas hamil.”

Varnika tersenyum getir. Hamil? Bagaimana bisa hamil kalau nggak pernah disentuh. Memang delapan tahun telah dinikmati bersama. Tanpa terjadi kehamilan. Apalagi dua tahun terakhir ini, Raden Bagas telah memiliki istri baru yang menampung hasrat biologisnya. Varnika tetap dalam diamnya, tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan rasa cinta pada suaminya tak pernah berubah.

“Mbok, bagaimana kalau aku minta cerai?” tanya Varnika hati-hati.

Mbok Sardi tampak tidak terkejut. Dia sudah menduga kalau pada akhirnya Varnika akan berpikiran seperti itu. Siapa yang tahan hidup bermadu dalam satu atap. Mbok Sardi tak pernah tahu kalau Varnika tinggal di rumah belakang. Diabaikan. Varnika memang menutup rapat keadaan itu, agar tak diketahui keluarganya.

“Hussss…. bicara apa to kamu, Nduk? Cerai itu dibenci Gusti Alloh. Bagaimana nanti tanggapan orang desa kalau kamu cerai? Sekarang kamu istrinya seorang Raden. Nanti kalau kamu nikah lagi dapat orang biasa gimana?”

“Apa itu memalukan, Mbok?”

“Sudah jangan ngomong itu lagi. Ayo si mbok bikinkan teh manis. Sambil nunggu bapakmu, nanti kita sarapan sama-sama.”

Baca Selanjutnya: Cemburu Seorang Istri Part 3

Related posts

Cemburu Seorang Istri Part 8

admin

Cemburu Seorang Istri Part 4

admin

Cemburu Seorang Istri Part 1

admin

Leave a Comment

WeCreativez WhatsApp Support
Pertanyaan Anda Siap Saya Jawab. Jangan lupa klik kirim..ya!! 0857-2135-9436
👋 Hai, pastikan Pesan Anda Terkirim di WA