Konsultan SEO Indonesia | ISWANTO SEO
Fantasi

#Aku Liar Untukmu Mas

Sesuatu hal yang tak pernah terlintas dalam mimpi sekalipun, ketika kumasuki gerbang impian, jauh dari rencana ataupun khayalku.

Yang aku ingat, dulu aku adalah gadis lugu yang belum terkontaminasi pergaulan bebas, seperti remaja seusiaku saat itu, yang rela dan tanpa takut dosa, membiarkan lelaki yang dianggap pacar, menyentuh bagian tubuhnya, bahkan sampai menyerahkan mahkota terlarang karena liarnya nafsu.

Aku berusaha menjaga kesucianku hanya untuk lelaki halalku.
Ya, hanya untuknya, meskipun itu dari hasil perjodohan, tanpa adanya cinta sebelumnya.

Panggil saja aku Uswa.
Aku terlahir di sebuah desa kecil di kepulauan Sumatera. Setamat SMP, ayah memasukkanku ke sebuah pesantren di Jawa, hingga aku tamat SMA. Lalu ayah memboyongku, dan menerima lamaran seorang lelaki paruhbaya untukku.
Orang di kampung memanggil calon suamiku, Haji Manaf, juragan kopi, yang punya ladang terluas digunung (info yang aku dengar dari tetangga).

Entah apa yang menjadi alasan bapak menerimanya menjadi calon suamiku, aku tak pernah tahu. Yang aku tahu aku cuma manut, sami’na wa atho’na.

Akhirnya sebulan setelah lamaran, pernikahanpun digelar dengan meriah. Bahkan hampir semua warga kampung sebelah turut hadir.

Esok harinya aku langsung diboyong ke rumah suami
Di kawasan perkebunan kopi. Aku kira akan ada sambutan luar biasa, mengingat suamiku, katanya seorang juragan. Namun, hanya terlihat dua orang pembantu dan satpam yang membukakan gerbang untuk kami, yang menyambut kedatangan kami.

Mbok Ngatirah dan bi Sanah yang langsung mencium tanganku membuatku terkejut, karena aku merasa sungkan mereka lebih tua dariku, lalu segera menuju bagasi mobil, mengambil koper kami dan segera membawa masuk ke dalam.

Bang Haji Manaf mengandeng tanganku dan mengajakku masuk ke kamar, yang sudah disediakan untukku. Dia menyuruhku segera mandi dan istirahat.

Setelah sholat Maghrib, kami makan bersama. Tempat makan yang luas dan indah, seperti milik orang kaya, yang ada di sinetron, yang biasa dilihat emak di rumah. Padahal dari luar seperti gedung tua yang tak terawat……

****”””‘”***”

Malam itu, setelah selesai makan, aku hendak membawa piring dan gelas kotor ke dapur. Namun bi Sanah melarangku.

“Jangan Nyonya, ini tugas kami”,katanya, sambil mengambil piring kotor yang ada di tanganku.

“Tidak apa bi, saya sudah terbiasa”, jawabku berusaha menolak.

Tiba-tiba ada seseorang memegang lenganku dari samping. Aku terkejut, lalu menoleh.
Bang Haji….bisikku dalam hati.
Dia menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan kepadaku agar tak meneruskan keinginanku. Kemudian mengajakku ke kamar kami, lebih tepatnya balkon atas kamar kami.

“Ada apa bang?”, Tanyaku penasaran setelah dia mempersilahkan aku duduk di bangku yang ada di sebelahnya.

“Jangan panggil bang, panggil saja mas”, katanya

Aku heran mendengarnya. Tanpa sadar menatapnya dan memperlihatkan wajah bloon yang menunggu penjelasan.
Dia tersenyum, mengerti maksud tatapanku.

“Uswa, Kakekku orang Jawa, nenekku juga orang Jawa yang dari ayah, Sedang yang dari ibu kakekku Blasteran Arab Jawa dan nenekku Blasteran Jawa Sunda, jadi aku lebih suka dipanggil mas”, lanjutnya.

Ooo
Hanya itu yang keluar dari mulutku.
Aku masih takut untuk bertanya lebih jauh, meskipun ingin, dan memang aku harus tahu tentangnya.
Cukup lama kami terdiam. Membuat debaran di dadaku makin tak karuan. Mas Manaf melirikku sambil tersenyum.
Ya Tuhan….
Apa benar lelaki ini adalah jodoh terbaik untukku. Aku yang selama ini berusaha memantaskan diriku, agar layak untuk pendamping hidupku nantinya, tak pernah membayangkan ataupun terlintas yang seperti inilah jodohku.
Pria dewasa seusia pamanku.
Dan….tentangnya….masih misteri untukku.

Suara Adzan isya’ memecah kebisuan kami.
Mas Manaf mengajakku berwudlu, lalu kami sholat berjamaah di dalam kamar.
Selesai sholat aku mencium tangan mas Manaf, dia kemudian memegang kepala dan berdo’a, kemudian meniup ubun- ubunku.
Aku merasa tubuhku bergetar, lalu reflek segera mundur, melipat mukena , dan duduk di pinggir ranjang.
Mas Manaf sedikit kaget melihatku begitu, tapi, kemudian tersenyum.
Aku takut dia mendekat, buru- buru kutarik selimut, lalu berpura-pura mengantuk dan mau tidur.
Mas Manaf lebih mendekat. Dia memegang keningku
Dan….

“MasyaAlloh!!”,Serunya kaget

Aku mendengarnya samar. Entah kenapa aku seperti berada di alam bawah sadar, pasrah namun takut….tubuhku menggigil, badanku terasa panas, sampai akhirnya aku merasa seseorang mendekapku dan memberi rasa tenang, hingga aku terlelap.

Suara adzan subuh membangunkanku.
Aku terlonjak, menyadari kalau tadi malam aku tidak tidur sendiri, dan melihat kondisiku yang masih baik- baik saja, segera aku masuk kamar mandi dan berwudlu.
Aku segera berhias sesederhana mungkin, lalu keluar mencari mas Manaf
Mas Manaf kulihat duduk bersandar di kursi ruang keluarga, matanya terlihat merah dan sayup.
Aku duduk di sebelahnya. Dia melirikku, kemudian..

“Kalau kamu masih panas, kita ke dokter ya?”, Tanyanya

“Ah…eh….enggak…”, Jawabku gugup campur malu

“Tapi, tadi malam, badanmu panas sekali, dadaku sampai seperti terbakar rasanya”, ucapnya sambil menatapku.

Aku menatapnya tak percaya

“Monggo silahkan diminum jamunya nyonya”, kata bi Sanah sambil menaruh gelas berisi jamu di atas meja.

“Jamu apa bi?’, tanyaku penasaran

” Nyonya kan tadi malam demam, jadi, Juragan minta mbok Ngatirah untuk membuatkan jamu untuk Nyonya”, terang bi Sanah

“Terimaksih ya, bi Sanah sama mbok Ngatirah pasti tambah repot karena saya”, ucapku tulus

“Ndak repot nyonya, kami justru bahagia, melihat juragan tidak tidur semalam hanya untuk menunggui nyonya, kami merasa juragan sudah menemukan apa yang selama ini dicarinya”, kata-kata bi Sanah membuatku malu, heran, dan ingin tahu ada apa denganku tadi malam.
………….

Alhamdulillah, setelah meminum jamu buatan mbok Ngatirah, badanku kembali segar.

Lalu setelah mas Manaf menuruti permintaanku untuk istirahat saja dikamar, karena terlihat lelah dan mengantuk setelah begadang menjagaku semalam, aku segera ke dapur untuk menemui mbok Ngatirah.

Kulihat, beliau sedang mengiris buah lemon. Bi Sanah duduk di dekatnya mengupas kulit bawang. Aku mendekati mereka lalu…

“Bibi sama simbok lagi buat apa?”, Tanyaku pelan, takut mereka kaget.

“Eh, nyonya, simbok lagi buat press woter buat juragan”, jawab simbok lugu.

Mendengar jawaban simbok, sebenarnya aku ingin tertawa, tapi aku khawatir beliau malu.

“Ooo..jadi juragan Manaf, biasanya, minumnya ini ya mbok”, tanyaku sambil memegang lemon yang ada di mangkuk.

“Iya, nyonya, makanya juragan jarang sakit, meski hampir tiap hari keliling perkebunan”, jawab mbok Ngatirah antusias.

“Bi Sanah sama simbok, sudah lama ya kerja di sini”, tanyaku kemudian.

“Kalau bibi sih, sekitar tiga tahun ikut juragan Manaf”.

“Nah, kalau mbok Ngatirah ini, Nya, ya…sudah lama, lha wong beliau ikut merawat Nyonya Besar, pas beliau sakit di sini sebelum wafat”, kata bi Sanah.

Simbok hanya menganggukkan kepala, membenarkan penjelasannya.

“Nyonya besar itu siapa mbok?”, Aku dibuat penasaran dengan cerita bi Sanah

“Itu, Nya, ibunya juragan Manaf”, jawab simbok.

“Jadi beliau sudah wafat ya mbok?”.

“Sudah, nyonya, tapi sebelum meninggal, beliau minta dimakamkan di pemakaman keluarga di Jawa”.

“Sebelumnya, beliau sakit apa ya mbok?”.

“Sakit jantung nyonya, beliau kambuh sakitnya, setelah mendengar juragan Manaf berkelahi sama juragan Asep, anak sepupu nyonya besar, yang selingkuh sama calon istri juragan Manaf”,

“Aduh, maaf nyonya, ini saya kok malah ngelantur ya”, kata simbok.

Beliau terlihat kikuk, dan merasa salah bicara, setelah melihat aku terkejut mendengar penjelasannya.

“Saya tidak apa-apa kok mbok”, ucapku pelan, berusaha bersikap biasa, agar beliau tidak merasa kikuk lagi.

Aku merasa, ada banyak hal yang semestinya mas Manaf ceritakan kepadaku, namun aku akan berusaha sabar, menunggu dia sendiri yang beritahu semuanya.

Wahai dzat yang maha memelihara, semoga saja, sebagaimana aku menjaga jiwa ragaku dari maksiat dan dosa, takdirkan diriku, hanya untuk orang yang benar-benar menjaga kesuciannya pula.
……….

Meski matahari berada di atas kepala di siang hari, aku tak merasa teriknya menyengat kulitku. Justru kesejukan yang aku rasakan saat memasuki area perkebunan kopi.

Tadinya, aku agak malas, ketika mas Manaf, mengajakku ke perkebunan kopi.

“Siang begini, mau ke kebun, mas?”, Tanyaku, heran.

“Iya, kenapa?”, Kamu tidak suka ke kebun?”, Mas Manaf, balik bertanya.

“Suka mas, ayo”, jawabku segera.
Aku khawatir, kalau dia kecewa. Kasihan kan…
Itung-itung sebagai rasa terimakasih sudah menjagaku semalam, apa salahnya, meskipun panas.

“Sebentar, ” katanya, sambil menerima panggilan telepon dari seseorang.

“Kang Bejo, sudah otw dari catering, ayo kita berangkat,” ucapnya, membuatku heran, tak mengerti maksudnya.

“Tadi, aku minta tolong kang Bejo, salah satu pegawaiku di pabrik, untuk mengambil dan mengantar pesanan catering ke perkebunan”, katanya, menjelaskan.

“Buat acara apa mas?,” tanyaku, kepo.

“Tasyakuran pernikahankita,” jawabnya.

Aku tersenyum. Ada rasa bangga dan bahagia. Ternyata lelaki ini, penuh kejutan.

Karena rumah kami, tak terlalu jauh dari perkebunan, mas Manaf mengajakku berjalan kaki. Aku yang sudah bersiap memakai sunblock sebelumnya, eh ternyata…

“Di sini, ternyata sejuk ya mas…,” kataku sambil menyibak dedaunan kopi, saat memasuki area perkebunan.
Aku menengadahkan wajahku ke atas, untuk menatapnya. Maklum, mas Manaf perawakannya lebih tinggi dari aku.

“Ehh, apa….ehh iya..iya, sejuk”, jawabnya sedikit gugup.

Ya Alloh, akupun menjadi salah tingkah. Ternyata, sedari tadi dia mengawasiku.
Mata kami, langsung bersirobak. Ada desir halus di dada ini, yang selanjutnya seperti detak jam dinding yang tak beraturan.
Dan…
Akibat tak menguasai kecamuk di hati, menginjak ranting kering, langkahku oleng, aku terhuyung, dan itupun ke arahnya.
Mas Manaf sampai kaget, dia segera menyangga dan mendekap tubuhku.

“Kamu kenapa dek?”, Tanyanya khawatir. Dan masih mendekapku.

Aku tak kuasa menjawab, justru semakin lemas persendianku. Aroma tubuh yang menyatu dalam hembus nafasnya, seperti menghentikan denyut jantungku untuk sesaat. Hingga….
“Juragan…”, Seseorang yang hendak lewat, menyapa kami.

“Kang Fauzan, perkenalkan kang, ini istri saya,” kata mas Manaf, setelah membantuku berdiri.

“Oh, nyonya juragan, alhamdulillah, akhirnya juragan bertemu bidadari juga, meskipun sibuk di perkebunan.” Kata kang Fauzan, sambil menangkupkan kedua tangannya.
Aku tersenyum senang, ternyata kang Fauzan, selain ramah, juga tahu untuk tidak berjabat tangan ketika diperkenalkan denganku.

“Saya teruskan pekerjaan dulu, ya, juragan,” kata kang Fauzan, permisi, sambil menganggukkan kepala kapada kami.

“Iya, kang, monggo..” jawab mas Manaf

Mas Manaf meraih tanganku, menggenggam jemariku, kemudian menatapku.

“Kamu baik-baik saja kan,” tanyanya padaku.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk.

Tanpa melepas genggamannya, dia mengajakku meneruskan langkah.

Setelah melewati indahnya pepohonan kopi, yang buahnya mulai berwarna merah, dan menurut mas Manaf, sudah siap dipanen, kami tiba di sebuah bangunan, yang memiliki halaman cukup luas untuk menjemur biji kopi. Bangunannyapun cukup besar dan luas. Seperti pabrik layaknya. Dan, ternyata, selain sebagai gudang penyimpanan biji kopi, juga sebagai tempat istirahat para pekerja.

Mas Manaf memperkenalkanku kepada para pekerja, setelah mereka berkumpul untuk istirahat.
Tak lama kemudian kang Bejo datang membawa pick up yang berisi pesanan kami untuk para pekerja.

Bersama mas Manaf dan kang Bejo, aku ikut membagikan nasi kotak dan kue tasyakuran pernikahan kami.

Dengan beralaskan tikar pandan, yang digelar kang Bejo dan pekerja lain, kami dengan gembira, makan bersama. Kulihat wajah-wajah yang tadinya lelah, nampak sumringah.
“Aku menyukai dan menikmati keindahan seperti ini mas..,” bisikku lirih.
……..

Brrr dinginnya….
Baru saja aku mengguyur tubuhku dengan air, dinginnya sudah merasuk, sampai sumsum tulangku.
Mungkin karena tempat tinggal kami berada di daerah pegunungan, dan sumber mata airnyapun, mengalir dari atas, jadi sensasinya, terasa mandi air es.
Secepatnya aku sudahi, kemudian segera berwudlu. Waktu maghrib hampir tiba.

Kuhamparkan sajadahku, selesai berhias dan memakai mukena.
Sambil menunggu adzan maghrib, aku membaca Alqur’an, yang kubawa dari rumah.
Baru beberapa ayat yang kubaca, adzan berkumandang di musholla kampung tak jauh dari tempat tinggal kami.

Aku teringat saat perjalanan menuju rumah mas Manaf, sebelum memasuki perumahan di kawasan perkebunan kopi ini, kami melewati sebuah desa yang di pinggir jalannya ada sebuah musholla tua, yang memiliki menara cukup tinggi.
Aku pastikan, kalau suara adzan tadi dari sana.

Aku segera berdiri untuk melaksanakan sholat. Sendirian saja. Mas Manaf setelah mengantarku pulang, dari perkebunan tadi siang, langsung berangkat ke pabrik pengolahan kopi. Kang Bejo ikut bersamanya.

Setelah selesai sholat maghrib, aku melanjutkan membaca Alqur’an, sampai kudengar ada langkah kaki yang menuju ke kamar ini.
Aku menghentikan bacaanku.
Ada ketukan pintu di luar.
Aku membukanya.

“Bi Sanah, aku kira mas Manaf tadi”, kataku padanya.

“Itu, Nya, juragan tadi, pas mau berangkat ke pabrik, papasan sama bibi di depan.”

“Juragan nitip pesan, supaya bilang ke nyonya, nanti, kalau juragan Manaf menjelang isya’ belum pulang, nyonya disuruh makan malam dulu.” Kata bi Sanah

“Tidak apa bi, biar saya tunggu saja,” jawabku sambil tersenyum.

“Bibi sama simbok istirahat saja, biar nanti, kalau juragan pulang, saya yang buka pintunya,” lanjutku.

“Iya, nyonya,” jawab bi Sanah.

Aku terharu, dalam usia senjanya, bi Sanah dan Mbok Ngatirah, masih saja setia membantu dan tinggal bersama kami.

Hanya sesekali, bi Sanah menengok anak cucunya. Sedangkan Mbok Ngatirah, sudah menganggap mas Manaf seperti anak sendiri. Begitupun sebaliknya.

Mbok Ngatirah berasal dari Trenggalek. Biasanya, dulu, kalau ibu mas Manaf silaturrahmi ke saudara yang di Kediri, sekalian mengantar mbok Ngatirah tilik anak cucunya.
Bi Sanah yang menceritakan semu itu padaku.

Selesai sholat isya’, Mas Manaf belum juga pulang.
Meski bibi dan simbok menyuruhku untuk makan, aku enggan, malu dan kasihan, kalau suami belum pulang dan belum makan, masa aku bisa enak-enakan tidur dengan perut kenyang.

Aku terus menunggu, sampai akhirnya tak kuasa menahan kantuk, aku tertidur di sofa ruang tamu.

Aku kaget, saat merasa ada sesuatu yang dingin, menyentuh bibirku. Dan lebih kaget lagi saat merasa ada yang memelukku, erat…dan….
Aku membuka mata, mas Manaf menatap dan membelai rambutku.

Ya Alloh, aku tadi tidur di sofa, dan sekarang di ranjang bersama mas Manaf.

Aku melepaskan diri dari dekapannya dengan halus, takut dia akan tersinggung.

“Mas manaf sudah makan belum?,” Tanyaku menetralisir debaran yang masih bergejolak karenanya.

“Belum, tapi tadi sudah makan roti sama minum kopi,” jawabnya, masih terus menatapku.

“Kamu belum makan kata simbok tadi,” lanjutnya.

Aku cuma senyum, mendengarnya. Masih deg-degan dan tak menyangka saja, dia melakukan sesuatu padaku, tanpa sepengetahuanku.

“Ayo aku temani makan, kasihan kan, kalau jauh-jauh aku boyong, eh…kubiarkan kelaparan,” katanya sambil mengedipkan mata padaku.

Aku merasa hal itu aneh, namun akhirnya aku tersenyum malu. Ternyata dia romantis juga. Aku kira karena dia tak banyak bicara dan terlihat tenang, aku memastikan dia kaku dan akan susah memulai menyatukan langkah bersamanya.

“Enggak ah, udah terlalu malam, nanti gendut”, tolakku halus.

“Kalau kubuat gendut mau”, ucapnya sambil memegang perutku

Deg…
Aku langsung diam. Namun teringat kemarin malam aku sudah mengecewakannya, dan tak memberikan haknya, akhirnya, aku tersenyum …mencoba ikhlas untuknya.

” Kita wudlu dulu ya mas”, ajakku.

Aku masih ingat pesan pak kyaiku.

Dan….akhirnya, dengan penuh kelembutan, mas Manaf memberiku nafkah batin.

Meski perlahan, sakitnya tetap kurasakan, namun, rasa sakit yang membanggakan semua wanita, yang mempertahankan mahkotanya terkoyak hanya untuk lelaki halalnya, di malam pertamanya.

………..

Pagi sekali, aku terbangun dari tidurku. Dalam remang, aku melihat noda di sprai tempat aku berbaring.
Mungkin, inilah yang dinamakan penanda kalau aku telah tak perawan lagi.

Kulihat, Mas Manaf masih terlelap di sampingku.
Tak mau membuatnya terbangun, pelan-pelan aku turun dari atas ranjang. Untunglah, kami tadi malam langsung mandi setelah melakukan hubungan.
Perlahan aku berjalan, entah mengapa, sekarang aku merasakan langkahku berat dan tertatih. Ada nyeri yang kurasakan, di area paling berharga milikku. Terlebih saat aku buang air kecil dan menyiramnya.

Aku bersandar di dinding kamar mandi.
Air mataku menetes, merasakan seperti ada rasa gimana gitu, di atas kedua pahaku, sehingga untuk berjalan rasanya berat.

Untuk beberapa saat aku memejamkan mata.
Dan saat aku membukanya, kulihat mas Manaf sudah ada di depanku.

“Aku tadi bangun, dan melihatmu berjalan masuk kesini”,

“Sakit ya dek?,” tanya Mas Manaf.

Ada rasa khawatir dalam tatapannya.

Aku hanya mengangguk pelan.

“Aku gendong ya,” pintanya

Tanpa menunggu jawabku, dia langsung mengangkat tubuhku. Aku pasrah saja saat dia mendekapku di dadanya.

Dengan perlahan, dia mendudukkanku di pinggir ranjang. Mengelap keringat di dahiku, dan mengusap bekas tetes air mataku, lalu, mencium keningku dengan lembut.

“Istirahatlah dulu, sebentar lagi Subuh,” katanya.

Setelah mengucapkan itu, dia keluar kamar.
Aku menatapnya sampai hilang dalam pandangan.
Detik itu juga, aku merasa telah jatuh cinta padanya.

Tak lama kemudian, mas Manaf masuk ke kamar, dengan nampan di tangannya.
Ternyata dia membawakanku susu hangat, dan roti kering.

“Minum susunya, dan makanlah kue ini, biar sedikit enakan,” katanya

“Maaf ya mas, jadi merepotkan,” ucapku, malu, sambil mengambil gelas susu dan meminumnya sebagian.

Dia hanya menggeleng dan tersenyum, mengambil kue kering, lalu menyuapkannya padaku.

Aku tersenyum bahagia. Tak kusangka, akan seindah ini, memiliki seorang suami yang perhatian dan diperlakukan bak ratu di istananya.
Semoga, hanya akulah ratu di hatinya.

****
Setelah malam itu, aku sangat bahagia.
Mas Manaf, tak membiarkanku bekerja, meskipun hanya menyapu lantai.

Setiap pagi, mbok Ngatirah, menyiapkan susu hangat dan jamu pengantin di sore harinya.

Mas Manafpun, tak hanya mengajakku ke perkebunan. Dia, juga mengajakku, ke pabrik pengolahan kopi. Mengenalkanku pada relasi dan para pegawainya.

Awalnya, aku merasa minder, malu, dan canggung, berada diantara mereka. Namun sambutan yang ramah, membuatku, mampu mengendalikan perasaan itu.

Tak pernah terlintas sedikitpun di benakku, menjadi seorang istri juragan kopi, yang begitu dihormati.

Yang kutahu, mas Manaf juragan di perkebunan. Itupun kudengar dari tetangga yang asik ngerumpi saat membantu/rewang, di acara pernikahanku.

Dan yang membahagiakanku, ingin kukabarkan pada semua, yang meragukan pernikahan karena perjodohan, lihatlah….aku telah bahagia dan aku telah jatuh cinta…

…….*****……

Memasuki minggu ke-4 pernikahan, aku merasa, ada yang berbeda dengan diriku.

Tubuh rasanya mudah lelah, dan sering terasa mual. Apalagi kalau mencium bau masakan sama parfum.

Pagi ini, sebelum mas Manaf berangkat ke pabrik, aku minta tolong kepadanya untuk mebelikan aku obat cacing.
Dia tertawa mendengar permintaanku.

“Kok beli obat cacing sih dek?,”

‘Buat apa ya?”, tanyanya heran.

“Buat aku dong mas,” terpaksa kujawab meski terdengar memalukan

“Inikan di area perkebunan, yang terkadang jalan yang kita lewati saat memantau pekerja, becek di waktu hujan.”

“Kan, emak dulu kalau anaknya malas makan dan mual, dibelikan obat cacing di tokonya mbak Kiptiyah mas.”

“Emang gitu ya dek”,

Mas Manaf mengangguk-anggukan kepalanya, waktu kujelaskan itu.

“Iya, deh nanti aku belikan,” katanya, sambil senyum-senyum bikin aku sedikit keki.

Setelah mas Manaf berangkat, aku memanggil bi Sanah.

“Ada apa Nya,” katanya, sambil mendekat

“Itu bi, nanti kalau pas belanja, tolong saya dibelikan mangga ya,”

“Iya Nyonya, berees,” jawab bibi sambil mengangkat jempol tangan.

“Bibi ke belakang dulu ya Nya,”

“Iya bi,”

Heemm, daripada bengong sendirian lebih baik aku jalan-jalan ke halaman belakang. Bosan kan kalau cuma duduk manis. Mau bantu mbok Ngatirah di dapur nanti malah mual lagi.

Wow, ternyata di halaman belakang banyak pohon yang sedang berbuah. Ada Jambu air, Luba-lubi, sirsak, mangga juga ada.

Pasti mas Manaf yang menanam. Dia kan suka sekali berkebun.
Haduh, aku kok jadi makin pingin metik buah mangga ya.

Setelah puas menikmati indahnya pepohonan, di halaman belakang, aku masuk ke dalam rumah lewat pintu samping.

Bi Sanah sudah kembali dari belanja. Kasihan, biasanya ada bakul sayur keliling yang lewat jalan depan. Tapi hari ini tidak terlihat.

“Maaf Nyonya, yu Tri yang biasa jualan sakit.

“Jadi, ndak jualan hari ini,”

“Ini tadi bibi beli di pertigaan, jalan mau masuk perumahan,” lanjutnya.

“Masya Alloh, bibi capek dong, kan lumayan jauh.”

“Istirahat dulu bi, ini minum dulu.”

Aku menuangkan air ke dalam gelas, lalu kuberikan pada beliau.

“Mangganya, ada Nyonya, kebetulan pas musim,” kata bi Sanah.

Kubuka kantung belanjaan. Hemm, benar ada empat biji buah mangga. Kuambil satu segera kukupas, kucuci dengan air kran lalu kupotong dadu.

Aku menaruhnya di piring, dan membawanya ke ruang tamu.
Baru akan memakannya, kudengar, suara mobil mas Manaf memasuki halaman. Lho, kok sudah pulang, gak biasanya pulang jam segini.

Aku menaruh piring manggaku, lalu melangkah ke teras depan.

Setelah mematikan mesin, mas Manaf langsung keluar dari mobil. Setelah melihatku, dia langsung tersenyum. Aku segera menyambutnya dengan senyum. Ku cium tangannya. Dia mencium keningku, lalu mengajakku masuk sambil menggenggam tanganku.

“Nggak jadi ke pabrik ya, mas,”

“Kok, sudah pulang,”

“Jadi kok, cuma sebentar, tadi langsung ke Apotik,”

“Ke Apotik?,”

“Mas, sakit, ya?,”

Aku langsung memegang dahinya, khawatir dia beneran sakit.

“Enggak, tadi, kamu kan minta dibeliin ini,” katanya, sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celana.

“Masya Alloh, kan bisa nanti, sepulang kerja mas,” aku agak sungkan, dan merasa bersalah, sudah mengganggu jam kerjanya.

Tapi, kok nggak cuma obat cacing ya.

“Mas, yang ini apa?,”
Tanyaku. Sebenarnya sedikit tahu sih, cuma heran aja, kok beli beginian, aku kan gak nitip.

” Itu, di kemasan obat cacingmu kan, ada petunjuk pemakaiannya,”

“Nah, mas kan ingat, dari mulai kita nikah, dek Uswa kan, belum datang, tamu bulanannya,”

“Jadi, sebelum, diminum, baiknya, di cek dulu ya,”

Aku menatap mas Manaf, antara kagum dan seakan tak percaya, kalau dia benar-benar begitu detail dan perhatian terhadapku.

Dan, apa itu tadi, yang dikatakannya, masa sih aku hamil, secepat ini….
Memang sih, aku telat, dan sedikit ada sesuatu yang berbeda dari biasanya

“Iya, deh, besok pas bangun tidur, aku cek dulu ya mas,”

“Oh, ya mas, ini ada mangga, tadi bi Sanah yang kuminta membelikan,”

“Aku baru akan memakannya tadi, tapi dengar suara mobil mas di depan,” kataku, sambil mengambil sepotong, lalu kusuapkan padanya.

“Segar dan manis, kayak kamu dek.” Katanya, menggodaku

Mas Manaf nampak suka, dengan mangga yang kusuapkan. Lalu dia mengambil sepotong lagi dan menyuapkan padaku. Hatiku berbunga, tapi…

Huekkk..
Aku memuntahkan potongan mangga yang barusan kukunyah.

Huekkk…
Perutku tambah mual rasanya

Mas Manaf langsung kaget, dan buru-buru memijit punggung dan tengkukku.

Bi Sanah dan mbok Ngatirah, yang mendengar aku muntah, langsung gupuh, mendekat dan memberiku minum air hangat.

Aku merasa nggak enak hati jadinya. Sudah minta di beliin bi Sanah jauh-jauh, disuapi suami, eh…malah ku muntahin.

“Maaf, kataku, sambil memegang tangan mas Manaf,”

“Iya, gak apa,”

“Masih mual?,” Tanyanya sambil mengelap bibirku dengan sapu tangannya.

“Sudah enggak,” jawabku sambil menggeleng pelan.

“Kok aku masih pingin mangga ya mas,”

Heeeh…

Mendengarnya, Mas Manaf, bi Sanah, sama simbok, melongo dan kompak bilang gitu.

****”””****

“Yakin, masih mau mangganya dek?,”

“Nggak takut muntah lagi?,”

“Iya, mas,”

“Tapi, yang di belakang ya mas,”

“Yang mana?,”

“Yang di pohon,”

“Tadi pagi, pas mas berangkat ke pabrik, aku ke halaman belakang lho mas,”

“Ada pohon mangga yang sudah berbuah, masih muda sih, tapi kok kayaknya suegerr ya mas,”

“Wah, jangan-jangan, Nyonya lagi ngidam, juragan,” kata bi sanah

“Apa iya, ya bi,” ucapku, sambil meraba, dan mengusap-usap perutku.

‘Makanya dek, itu obat cacing jangan diminum dulu,”

“Nanti kalau hamil, kan kasihan dedek bayinya,”

“Iya, mas.”

“Tadi kan, aku dah bilang, mau di cek dulu pas bangun tidur.”

“Sekarang, ambilin mangganya dulu ya mas, takutnya, kalau beneran hamil, biar gak ngileran dede bayinya,” Rajukku.

“Iya, sayang, mas ganti baju dulu ya,”

Mas Manaf nampak bahagia sekali. Mungkin, dia yakin kalau aku benar-benar hamil.

“Biar mbok buatin bumbu rujaknya sekalian ya, Nya,” kata simbok sambil permisi menuju ke dapur. Bi Sanah mengikutinya dari belakang.

Setelah berganti baju dengan celana pendek damn kaos oblong, mas Manaf langsung mengajakku ke halaman belakang.

Saat dia mau memanjat pohon mangga, aku langsung berteriak..

“Jangan mas!,”

“Hah??? Katanya mau mangga,”

“Iya, tapi jangan manjat, takut jatuh,”

“Pakai itu aja, mas,” kataku, sambil menunjuk batang bambu yang ada di pojokkan.

“Oh, iya, saking senangnya, sampai lupa aku,”

“Biasanya, kalau pas kepingin buah yang sudah matang, metiknya ya pakai ini dek,”

Aku tersenyum mendengarnya. Kalau dilihat-lihat, suamiku makin hari, makin kinclong. Apalagi pas pakai pakaian kayak gini. Kelihatan berotot, dan…

Aduh, aku kok jadi mikir ngeres gini ya…
Tapi, emang iya sih, meski usianya sudah 37 tahun, dia masih terlihat muda.
Gak tau kenapa, sekarang makin ganteng aja. Padahal, pas waktu nikah dulu, udah keliahatan seperti duda beranak dua, dan aku cuma bisa mesem saja, pas melihat sudah ada sedikit uban di rambutnya.
Kalau ingat nelangsanya aku pas mau dinikahin sama dia, aku jadi malu sendiri.

“Dah cukup belum dek!,”

“Hah, apa mas,’ aku tersadar dari lamunan, mendengar teriakan mas Manaf.

“Mangganya mau berapa banyak lagi,”

“Masya Alloh!,” Sudah mas,”

“Kok banyak banget sih mas,” protesku, sambil ikut memunguti buah mangga yang jatuh.

“Lha dari tadi, ditanyain, gak jawab, tak kirain masih kurang,”

“Ngelamun, ya,”

“Hayo, ngelamunin siapa?,” Guraunya, sambil mendekat dan mencubit pipiku.

“Ada, lah,” jawabku mesam-mesem, balik menggodanya.

Melihatku seperti itu, mas Manaf jadi gemes, dan memelukku erat sambil membisikkan…

“Awass ya, kalau sampai mikirin yang lain,”

Aku jadi tertawa mendengarnya. Bi Sanah sama Mbok Ngatirah yang melihat kelakuan kami dari kejauhan, ikut tertawa.

****””””’****

Hemm, badanku rasanya kembali segar, setelah mandi. Tadi, habis makan rujak buah mangga, yang dipetik mas Manaf, aku langsung berkeringat. Bumbu rujak buatan Mbok Ngatirah rasanya sedap, membuatku ketagihan. Apalagi pake dipeluk dan disuapi sama suami. Aduh, lama-lama, aku makin cinta sama dia.

Aku segera berhias. Tadi, selesai makan rujak buah, mas Manaf bilang, ada tamu penting yang mau datang ke rumah.

Aku jadi penasaran. Kok mas Manaf pakai pesan makanan dari luar. Banyak lagi. Pasti tamunya istimewa. Aku jadi deg degan. Siapa ya….

****””””***”

Setelah selesai mandi dan berhias sekedarnya, aku turun ke lantai bawah, menuju ruang makan.
Di sana sudah ada mas Manaf dan bi Sanah, yang lagi sibuk menata hidangan.

Melihatku mendekat, mas Manaf langsung tersenyum.”

“Aku bantu ya mas,”

“Boleh, tapi kalau perutnya mual lagi, duduk saja ya,”

“Iya, mas,”

“Emang, siapa sih mas tamunya,,”

“Dr. Nizar sama istrinya dek,.

“Teman sekolah ya mas,” kataku asal nebak.

“Iya, lebih tepatnya, teman pas kuliah.”

“Udah jam segini, kok belum datang ya mas,”

“Emang tinggalnya di mana sih mas?.”

“Di Tanjung Karang dek, tapi sudah otw dari tadi pagi kok.’

“Katanya sih, mau mampir ke tempat saudaranya sebentar,”

“InshaAlloh sebentar lagi sampai.’

Aku cuma menganggukan kepala saja mendengar penjelasan mas Manaf.

Alhamdulillah, akhirnya tamu yang kami tunggu-tunggu, sebelum isya’ sudah datang.

Mas Manaf terlihat gembira, dan segera menuju teras depan, saat sebuah Fortuner warna Metalik, memasuki halaman rumah.

Aku terpana dan kagum, saat melihat sepasang suami istri bergandengan tangan, dengan melambaikan salah satu tangannya ke arah kami.
Mereka nampak serasi.

Mas Manaf memperkenalkan mereka padaku. Lalu mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah. Aku sedikit risih saat keduanya menatapku, dan dengan jelas kusadari, melirikku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tak ingin su’udzon, aku menebar senyum ramah dan menganggap mereka hanya ingin lebih mengenalku.

Setelah beberapa saat melepas kangen dengan mas Manaf, mereka memberi selamat atas pernikahan kami.

Aku permisi sebentar ke belakang. Kemudian kembali lagi ke ruang tamu, untuk menghidangkan minuman dan kue basah buatan Mbok Ngatirah.

Aku mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan yang kusajikan.

Dengan senang hati, mereka menikmatinya. Aku senang, mereka menyukainya.

Karena sudah masuk waktu Isya’ mas Manaf mengajak kami untuk berwudlu dan sholat berjamaah.

Setelah itu, aku mempersilahkan mereka untuk makan bersama.

Suasana di meja makan nampak menyenangkan, karena diselingi senda gurau. Mengenang saat masa-masa mereka di bangku kuliah. Aku yang terbiasa diajarkan untuk tak berbicara saat sedang makan, terpaksa sesekali harus ikut tersenyum dan menjawab pertanyaan yang mereka ajukan.

Dari cerita mereka, aku jadi tahu kalau dulu mbak Rafida, istri dr.Nizar pernah ada hati dengan mas Manaf.

Mbak Rafida salah satu wanita tercantik di kampus mereka. Setiap ada pentas seni atau kegiatan kampus lainnya dia selalu diminta menyanyi. Suaranya bagus.

Kata dr. Nizar, mbak Rafida pernah urung naik ke panggung, gara-gara mas Manaf tak mau diajak berjoget.

Mas Manaf sok jaim kata dr. Nizar.
Sambil tertawa.

Aku cuma tersenyum mendengar semuanya. Tapi, ada cemburu saat tahu mbak Rafida pernah membelikan buah durian satu keranjang penuh buat mas Manaf, saat piknik di sebuah telaga, namun mas Manaf tetap pura-pura cuek dan jaim, sampai akhirnya, mbak Rafida berhasil memaksa menyuapi mas Manaf dengan buah durian yang dibelah mas Nizar.

Sayangnya, mbak Rafida harus menerima kenyataan kalau mas Manaf lebih memilih mbak Kania sebagai calon istri.

Akhirnya, dr.Nizar berhasil mengobati lara hati mbak Rafida, dan mempersuntingnya sebagai istri.

Mas Manaf cuma mesem saja dan melirikku mendengar dr. Nizar menceritakan kisah mereka.

Ah, tak tahukah kamu mas, ada gelisah dan rasa tak nyaman di palung hatiku.

Aku membayangkan, mungkin saat itu aku masih kecil, dan masih umbelan hidungku. Belum pantas bertemu denganmu.

Aku tiba-tiba saja diserang rasa tak suka kalau mas Manafku pernah disuapi mbak Rafida.

Jangan nangis, jangan nangis Uswa…aku menguatkan hatiku dan menahan agar wajahku tak menampakkan gambaran perasaan hatiku yang tiba-tiba merasa kecil dan tak lebih layak untuk mas Manaf bila dibandingkan mbak Rafida. Aku hanya gadis desa yang hanya tamatan SMA. Batinku merintih lara.

****””****

Setelah selesai makan malam, kami melanjutkan perbincangan di ruang keluarga.

Ternyata, selain ramah, dr Nizar juga seorang yang humoris dan cerdas. Terlihat dari caranya bicara yang mampu mencairkan suasana, bahkan saat aku merasa kikuk ketika mereka membicarakan tentang mbak Kania dan kang Septian (nama lengkap dari kang Asep), dr. Nizar langsung melihat ke arahku dan bilang:

” Tenang aja dek Uswa, mas Manafnya sudah ilfil kok sama si Kania”

Candaan dr. Nizar membuat pipiku merona karena malu. Namun saat itu juga, sempat ada fikiran negatif melintas begitu saja (ahh… seandainya mbak Rafida belum menikah denganmu dr.Nizar, mungkin mas Manaf akan menyesal dan jatuh cinta pada mbak Rafida).
Entah mengapa aku tiba-tiba menjadi nelangsa, dan jika memang ada penyesalan seperti itu dibenak mas Manaf, adakah ruang untukku mendapatkan cinta yang benar-benar tulus darinya, bukan hanya karena kompromi, mencoba berdamai dengan takdir seperti yang aku rasakan dulu di awal menikah dengan mas Manaf.

Meski ada gelisah, aku tetap berusaha menjadi pendengar yang baik dalam perbincangan mereka, yang seakan ingin memberitahuku dengan sejujurnya kisah yang pernah ada sebelum mas Manaf mengenal keluargaku dan akhirnya memutuskan untuk menyuntingku.

Aku sedikit menangkap sendu di netra mas Manaf, saat dr. Nizar ikut jengkel dan marah ketika mendengar mbak Kania main hati di belakang mas Manaf, dengan alasan menyakitkan.
Ternyata mbak Kania lebih memilih kang Septian karena lebih suka hidup mewah di kota. Jawaban yang diberikan mbak Kania setelah ketahuan selingkuh.

Mas Manaf juga baru tahu kalau Mbak Kania sebenarnya tidak mau kalau seandainya menikah dengan mas Manaf, dia harus tinggal di perumahan yang berada di area perkebunan kopi.
Perasaan dikhianati dan penyesalan akan pilihan yang salah mengingatkan ketika pertama kali mas Manaf mengenalnya.

Kepribadian dan sikap yang ditunjukkan mbak Kania begitu membuat mas Manaf memujanya.
Pada awalnya mas Manaf lebih tertarik untuk memilih mbak Kania daripada mbak Rafida sebagai calon ibu yang akan melahirkan anak-anaknya, karena melihat keluwesan dan kemanjaan mbak Kania, saat menyuguhkan tarian tradisional Jawa, saat pentas seni di kampus mereka.
Perhatian dan kelembutan serta sikapnya yang santun alias njawani, dianggap mas Manaf akan cocok untuk dijadikan calon pendampingnya.

Ternyata, mas Manafku pernah begitu lugu dan mudah rapuh, sampai harus menunggu lama baru bisa move on dari laranya.
Atau mungkin juga, ini adalah cara Alloh memberiku waktu untuk memantaskan diri ketika tiba masanya takdir mempertemukan kami.

Ya Alloh, jika memang itulah rahasia indahMu, maka jadikan pecintaMu ini, memadukan langkah karenaMu dalam ikatan yang kuat dan suci.

Karena saking asyiknya kami bertukar cerita, tak terasa waktu terus merangkak naik.

Akhirnya kami menyudahi obrolan dan segera beristirahat, karena sebelumnya pada saat dr. Nizar telepon mas Manaf kalau mereka akan bersilaturrahmi, kami akan mengajaknya berkeliling perkebunan dan baru sore harinya akan berangkat kembali ke Tanjung Karang lagi.

Dari pembicaraan mereka tadi aku juga menjadi tahu, kalau selain untuk bersilaturtahmi, dr. Nizar dan mbak Rafida diminta teman-teman Alumni Almamaternya untuk hadir dalam “Malam Temu Alumni ” di sebuah gedung yang tak jauh dari kampus mereka dahulu.

Menurut dr. Nizar, selama ini dia tidak pernah mau mengundang mas Manaf ke acara seperti itu, karena takut mas Manaf masih belum bisa move on dari mbak Kania.

Setelah mendengar kabar kalau mas Manaf sudah menikah, barulah ada keberanian dari dr. Nizar untuk mengajaknya berkumpul lagi dengan teman se-angkatan.

Setelah mempersilahkan mereka masuk untuk beristirahat di kamar tamu, aku dan mas Manaf langsung naik ke lantai atas menuju kamar kami untuk segera istirahat agar esok pagi kembali bugar. Saat hendak berbaring mas Manaf berbisik…

“Dek.. jangan lupa ya,”

“Apa mas,’ jawabku

“Yang tadi..,itu lho” katanya sambil menggelitikku

“Apa sih mas,” jawabku manja.

“Tes packnya,’ jawabnya sambil tersenyum, lalu menarik selimut dan tidur.

Aduh, tak kirain apa, emang iya sih tadinya lupa, untung diingatkan. Akupun menutup tubuhku dengan selimut menyusulnya tidur.

Tengah malam aku terbangun, kerongkonganku rasanya kering, aku beranjak dari tempat tidur untuk menuju ruang makan,”
Ketika menoleh ke samping tempat mas Manaf berbaring tadi, dia tak kudapati di sana. Mungkin sudah bangun untuk tahajud fikirku.

Dengan tanpa memakai jilbab, dan tubuh hanya memakai lingeri, aku berjalan menuruni anak tangga. Entah karena masih mengantuk mungkin, saat hendak berbelok ke arah ruang makan, tubuhku oleng karena pinggangku terbentur sesuatu. Karena syok dan kaget aku sempat mengaduh. Lalu kurasakan seseorang menopang tubuhku agar tak terjatuh, dan tanpa sadar tangankupun memeluk pangkal lengannya dengan erat, hingga tatap mata kami bertemu dan….
Deg…Ampuni aku ya Alloh…ternyata bukan suamiku yang aku peluk, tapi dr. Nizar.

Jantungku berdegup kencang. Betapa malunya aku.
Segera kulepaskan pelukanku padanya, begitu juga dengannya. Kami sama-sama merasa kikuk dan saling meminta maaf.

Setelah dr. Nizar menuju kamarnya, aku sedikit merasa lega, kuhela nafasku pelan kemudian melanjutkan langkahku menuju meja makan, tapi…deg…di sana …disebelah kulkas kulihat seseorang sambil memegang botol minuman di tangannya, memandangku dengan tatapan berbeda dari biasanya.
Aku merasa takut dan gelisah….

****”””””‘****

Uswa menangis sesenggukan di dalam kamarnya, dia tak menyangka kejadian memalukan yang tak pernah ingin dia alami meskipun itu hanya dalam mimpi, disaksikan oleh suaminya. Sampai membuat mas Manafnya tanpa sepatah katapun, langsung pergi melewatinya begitu saja dengan wajah memerah, sambil menyingkirkan kursi di dekat meja makan yang menghalanginya.

Bahkan saat Uswa memanggilnya, dia tetap mengacuhkan dan segera naik ke lantai atas, membuka pintu kamar, lalu mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi lalu menguncinya dari dalam.

Uswa semakin menyalahkan dirinya, yang begitu ceroboh. Dia tak pernah menyangka akan ada kejadian seperti ini.

Awalnya, malam itu saat melihat mas Manaf langsung tidur tanpa memeluknya seperti malam sebelumnya, Uswa sulit untuk memejamkan mata, meski sudah dicobanya. Dia terus gelisah.

Akhirnya Uswa beranjak turun dari ranjang dan sengaja berhias serta memakai lingeri lalu mengurai rambutnya yang hitam dan panjang, karena berharap nanti saat suaminya terbangun seperti biasa ketika hendak tahajud, maka ia akan terlebih dahulu berhasrat melihat betapa cantiknya dia.

Tak rela rasanya jika suaminya memikirkan mbak Kania ataupun mbak Rafida, terlebih lagi mbak Rafida sekarang menginap di rumahnya.

Ah Uswa, ternyata Alloh tak menyukai su’udzonmu pada suamimu. Dan sekarang apa yang akan difikirkan dr. Nizar tentangmu.

Kecamuk di hati Uswa seketika terhenti saat melihat suaminya keluar dari kamar mandi.

“Mas, maaf….aku tidak menyangka akan seperti itu, aku malu mas,” kataku sambil berurai air mata.

“Kau pikir hanya kamu yang malu, aku lebih malu dek!”

“Aku ini suamimu dek!’ Dan setiap suami pastinya akan merasa marah bahkan jijik kalau istrinya berada dalam pelukan lelaki lain,”

“Mas Manaf cemburu ya,” pertanyaan bodoh yang justru membuatnya semakin jengkel.

“Kalau seorang suami tidak cemburu melihat istrinya seperti itu, maka itu sama saja membiarkan istrinya berbuat dosa, dan aku akan ikut menanggung dosanya dek!” Kata mas Manaf sambil menunjuk dadanya.

“Kamu seharusnya tahu batasanmu, dimana kamu harus memakai pakaian seperti itu, apalagi sekarang di rumah ini ada tamu laki-laki yang bukan muhrimmu.”

“Aku semakin diliputi perasaan bersalah, mataku semakin sembab karena air mataku semakin menderas, tubuhku tiba-tiba menggigil, lalu ….gelap…dan aku tak ingat apa-apa lagi”.

****””‘””’****

Saat merasakan ada tetes air yang membasahi wajahku, lalu bau minyak kayu putih yang terhirup dari nafasku. Perlahan mataku terbuka.

Aku merasa heran ketika melihat ada mbok Ngatirah dan bi Hasnah di depanku, dan lebih kaget lagi karena ada mas Manaf dibelakangku, menopang tubuhku dan memelukku dari belakang.Tangan kirinya menggengam tanganku dan tangan kanannya mengelap keringat dingin didahiku.

“Aku kenapa mas,” tanyaku bingung.

“Kamu pingsan dek,” jawab mas Manaf sambil menunduk. Dia membisikkan sesuatu di telingaku.

“Maafkan mas ya, seharusnya aku tak sekasar itu padamu.”

Aku mencoba mengingat kembali semuanya, dan menyadari apa yang baru saja terjadi. Lalu aku menggelengkan kepalaku sambil menunduk.

“Aku yang salah mas, aku akan menerima hukuman apapun yang akan mas berikan.”

Mengatakan seperti itu, dadaku terasa sesak dan bahuku terguncang.

Aku pasrah seandainya mas Manaf tak mau lagi menerimaku dan memperlakukanku seperti sebelumnya.

Namun yang lebih aku takutkan bagaimana jika seperti yang dikatanya tadi, mungkinkah setelah marah dia juga akan merasa jijik menyentuhku. Atau bisa saja terfikir olehnya untuk memilih meninggalkanku karena kecerobohan dan kebodohanku yang melukai hatinya. Dan membutnya membuka luka lama yang baru saja pulih.

Pagi harinya, saat kami sarapan di meja makan, aku tak mampu mengangkat kepalaku. Tak sanggup rasanya memandang wajah suamiku dan pasangan suami istri di depannya.

Aku memilih untuk tidak sarapan dan hanya meminum susu hangat saja. Untunglah pada saat makan malam kemarin karena mual, aku hanya memakan buah dan air perasan jeruk lemon, sehingga mbak Rafida tidak curiga.

Setelah itu, aku mengatakan kurang enak badan sehingga tidak ikut melihat-lihat perkebunan.

****”””””****
Setelah Mas Manaf berangkat ke perkebunan kopi bersama dr. Nizar dan mbak Rafida, aku segera menemui bi Sanah dan mbok Ngatirah di dapur, untuk membantu mereka menyiapkan makan siang nanti.

Namun Mbok Ngatirah melarangku dan menyuruhku untuk istirahat saja, karena mengetahui keadaanku tadi malam. Beliau juga nampak sedikit cemas saat aku menolak ketika mbak Rafida mengajakku turut serta melihat perkebunan kopi dengan alasan kurang enak badan.

Mbak Rafida yang khawatir mendengar alasanku justru menyuruh dr. Nizar untuk memeriksa keadaanku. Dengan gugup aku langsung menolaknya. Dr. Nizar sendiri mungkin tidak menyangka kalau mbak Rafida akan mengatakan itu, sampai-sampai ia bingung harus memberi jawaban apa.

Untunglah mas Manaf langsung bilang kalau aku mungkin agak lelah serta masuk angin saja, jadi biarlah aku istirahat saja di rumah. Mas Manafpun bilang agar mbak Rafida tidak perlu khawatir karena sudah ada bi Sanah dan mbok Ngatirah yang akan menjagaku.

Karena aku terus memaksa untuk membantunya, akhirnya mbok Ngatirah mengizinkanku untuk memotong buah dan mencuci sayuran.

Bi Sanah yang selesai membantu mbok Ngatirah menyiapkan bumbu-bumbu langsung melanjutkan pekerjaan yang biasa dilakukannya, menyapu lantai dan mengepelnya, lalu mengambil cucian kotor dan memasukkannya ke dalam mesin cuci.

Mbok Ngatirah mengambil bumbu yang tadi sudah disiapkan bi Sanah lalu memblendernya, kemudian menggorengnya.

Tiba-tiba saja aku merasa mual mencium aroma bumbunya. Segera masuk ke kamar mandi, lalu muntah.

“Nyonya!” Nyonya!’

Mbok Ngatirah mengetuk pintu kamar mandinya, sambil memanggilku. Beliau merasa sangat khawatir.

“Ya Mbok,” jawabku sambil membasuh mulutku dengan air, mengelapnya dengan tisu toilet, kemudian membuka pintunya.

“Nyonya kalau masih sakit, istirahat di kamar saja ya”.

Aku yang tak ingin membuatnya bertambah khawatir akhirnya mengangguk dan mengiyakan saja.

Tiba-tiba aku ingat sesuatu.

Aku langsung naik ke lantai atas kemudian masuk ke kamar dan mencari lingeri yang aku pakai semalam.

Tapi aku tidak menemukannya.

Aku memanggil bi Sanah, dan menanyakan apakah beliau mencucinya.

“Tidak Nyonya,” jawab bi Sanah.

Aku terus mencarinya. Seingatku tadi pagi aku sudah menaruhnya di keranjang pakaian kotor.

Aku masih terus mencarinya. Dan alhamdulillah, sekarang aku ingat ternyata aku tadi mengambilnya lagi dan menaruhnya di gudang belakang.

Buru-buru aku keluar kamar menuju gudang mengambilnya lalu meminta pemantik pada Mbok Ngatirah yang langsung memberikannya padaku namun dengan tatapan heran. Belum sempat Mbok Ngatirah bertanya lebih lanjut, aku segera bergegas ke arah pintu belakang kemudian menuju halaman belakang. Aku mencari tong sampah, memasukkan lingerinya dan menyalakan pemantik.

Aku ingin segera melupakan semuanya. Meskipun logikaku mengingkari bahwa tak akan mudah bahkan tak akan bisa hilang dan kembali seperti semula.

Namun setidaknya, dengan membakarnya aku ataupun mas Manaf tak melihat lagi di almari.

Setelah melihat sudah benar-benar terbakar, aku membalikkan badan untuk kembali masuk ke dalam rumah. Aku kaget melihat mbok Ngatirah menyaksikan apa yang aku lakukan. Ada tatapan heran sekaligus khawatir dimatanya.

Aku mencoba tersenyum untuk membuatnya percaya kalau aku baik-baik saja. Mbok Ngatirah sedikit lega. Kemudian kami masuk ke dalam rumah, dan simbokpun kembali melanjutkan pekerjaannya.

**** ****

Jam menunjukkan pukul 12.30 ketika mas Manaf, dr. Nizar dan mbak Rafida kembali dari perkebunan.

Aku melihatnya dari balkon atas.

Meski terlihat lelah, namun mereka nampak senang, terutama mbak Rafida.

Aku memutuskan untuk turun dan menuju ruang tamu menyambut kedatangan mbak Rafida. Biarlah sejenak aku menahan sesak didadaku ketika harus berada di dekat dr. Nizar dan berusaha setenang mungkin untuk menghargai keberadaan mereka.

Kasihan mbak Rafida, dia sudah datang jauh-jauh untuk menemui kami, masak aku harus menghindarinya karena permasalahan yang tidak dia diketahui. Dan mudah-mudahan saja mbak Rafida tidak mendengarnya. Kalau sampai dia tahu entah apa aku sanggup bertemu dan bercengkrama dengannya lagi.

Setelah mengucap salam mbak Rafida langsung mendekat ke arahku.

” Aduh, rasanya lega mbak Uswa, tadi di sana menyenangkan sekali, tapi aku terus teringat kamu, gimana? Sudah enakan?” Tanyanya padaku.

“Alhamdulillah sudah mbak,’

Aku sebenarnya malu mbak Rafida memanggilku mbak. Padahal aku sudah bilang panggil dek atau namaku saja, soalnya usia kami terpaut cukup jauh. Tapi dia malah tertawa dan bilang “udah gak apa-apa, enakan gini kok, biar lebih nyaman,” kata mbak Rafida.

Setelah membersihkan tangan dan berwudlu kami sholat berjamah di Musholla yang ada di rumah. Lalu setelahnya aku mempersilahkan mereka untuk makan siang, kemudian mereka beristirahat sebentar sebelum pamit pulang ke Tanjung Karang.

Saat melepas kepergian mereka, kami memberinya oleh-oleh kopi buatan pabrik kami. Saat itu juga sebelum masuk ke dalam mobil mbak Rafida mengingatkan kami.

“Jangan lupa untuk datang ke Temu Alumni ya, awas lho kalau sampai nggak datang” katanya seraya melambaikan tangan.

Aku dan mas Manaf hanya tersenyum sambil mengangguk.

****””****
Setelah kepergian dr. Nizar dan mbak Rafida, Mas Manaf langsung berbalik tanpa menoleh kepadaku, atau menggenggam jemariku apalagi mengajakku masuk dengan lirikan mata yang menggoda serta senyum mesra yang menghias sudut bibirnya seperti yang biasa dilakukannya, dia langsung masuk ke dalam rumah.

Aku tertegun untuk sesaat, meski tak ada tatapan sinis, atau wajah yang menunjukkan kemarahan, namun dalam diamnya itu aku justru semakin pilu. Aku lebih suka ia memarahiku seperti tadi malam lalu kembali menunjukkan perhatiannya.

Entah mengapa sekarang jika melihat sedikit saja dia mengabaikanku hatiku merasa tak berharga lagi di matanya. Namun meskipun sedih aku telah berjanji dalam hati kecilku untuk menerima apapun akibat dari kecerobohan dan kebodohanku.

Setelah melihatnya mengacuhkanku begitu saja, aku tetap mengikutinya sampai ia berhenti di ruang makan menyapa mbok Ngatirah dan bi Sanah serta mengucapkan terima kasih sudah menjamu dr.Nizar dan mbak Rafida dengan baik.

Aku langsung merasa malu mendengar ucapannya yang berbanding terbalik dengan yang kulakukan meskipun itu tanpa sengaja.

Tak mau mendengar percakapan mereka lagi, dan tak mau semakin nelangsa melihat sikap mas Manaf yang seakan menganggap aku tidak ada, dengan menahan sesak di dada dan runtuhnya bendungan air mata, aku yang tak ingin ada kecurigaan dihati mbok Ngatirah dan bi Sanah, perlahan melangkah pergi menaiki anak tangga kemudian masuk ke kamar menghempaskan tubuhku ke tempat tidur memeluk guling dan akhirnya tak sanggup lagi menahan derasnya air mata.

****”””””‘****

Disaat aku semakin larut dalam kesedihan, dan mataku semakin sembab, aku merasa ada tangan yang menyentuh bahuku . Aku tetap diam karena tak kuasa lagi menggerakkan badan untuk sekedar menolehpun rasanya tak berdaya lagi.

Entah mengapa tubuhku semakin lemas dan tak ingin rasanya ada yang menatap wajahku saat seperti ini. Sampai akhirnya ia menguncang bahuku lalu membalikkan tubuhku serta mendekapku di dadanya sambil menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagaian wajahku.

Meski tak melihat dan menatapnya aku tahu kalau ia yang memelukku, dia suamiku, mas Manaf.

Merasakan pelukannya yang begitu hangat aku sedikit terobati, dan seperti tetes embun yang membawa segar udara pagi membuat nafasku yang tadinya sesak perlahan mereda seiring kecupan hangatnya di dahiku.

Aku masih sangat malu untuk menatapnya, sampai ia bertanya:

“Tadi kata mbok Ngatirah dek Uswa muntah lagi ya?”

Aku hanya menunduk dan tak menjawabnya.

“Gimana hasil tesnya?’ tanyanya lagi sambil memegang daguku dan menengadahkannya ke arahnya.

Aku menggelengkan wajahku sambil kembali menunduk

“Belum positif?”

Ketika dia menanyakan itu, aku mulai menatapnya. Dan melihat ada lipatan di dahinya. Seakan heran dan meminta jawaban dari pertanyaannya.

“Belum di tes, itu…,” jawabku sambil menunjuk tespacknya di atas meja rias.

“Iya, mas ngerti kok, pasti adek gak sempat kan,’ katanya lagi

“Ngak usah di cek ya mas,” kataku pelan setengah berbisik karena rasanya mau nangis lagi.

” Kenapa?, masih marah sama mas ya.”

“Bukan begitu mas, takutnya nanti kalau beneran positif, aku malah jadi sedih,’ jawabanku sengaja kugantung.

“Lho, kok malah sedih, harusnya kan bahagia.”

“Mas, aku takut kalau kejadian waktu itu, akan membuat mas tak bahagia lagi meskipun tahu kalau aku positif”

“Aku tidak mau moment yang pertama aku alami ini, justru disambut dengan acuh olehmu mas, kasihan kan kalau baru tumbuh saja sudah diacuhkan ayahnya hanya karena kesalahan ibunya,” terangku sambil mengusap bulir air mata yang kembali merembes di pipiku.

Tanpa menjawab mas Manaf langsung mengusap perutku, mencium dahiku, kemudian menghapus air mataku lalu kembali mendekapku dengan hangat sambil berbisik mengatakan “aku akan berusaha menjadi suami yang baik dan sabar untukmu dek”

Saat itu juga aku merasa menjadi wanita yang benar-benar beruntung memiliki suami sepertinya.

*****””””‘”””*****

Duniaku seakan kembali dipenuhi indahnya bunga dan aroma cinta yang semakin menguar dari wewangiannya saat dia begitu mencintaiku dan kembali menunjukkan perhatiannya padaku.

Seperti bunga yang mekar dan kembali merona setelah layu sebelumnya.

Dimataku kini engkau bukan hanya pribadi yang bertanggung jawab dan memiliki ketulusan tapi lelaki pujaan yang tak bisa membuatku ke lain hati.

Saat itu juga di bilik kecil sudut hatiku yang paling dalam berbisik akan setya mencintaimu dan mempersembahkan milikku hanya untukmu lelaki halalku. Dan agar nanti engkau tiada tergoda dengan yang lain, aku akan menjadi seperti inginmu, seliar apapun fantasimu, asalkan dengan cara yang halal aku rela menjadi liar untukmu.

*****'””‘””******
Menunggu malam ini segera berlalu, rasanya seperti orang yang kena diare terus mau masuk toilet umum ee malah disuruh mengantri menunggu giliran.

Begitupun denganku, gelisahku sekarang adalah menunggu masuk waktu sebelum Subuh, kata mbak Hani kakak iparku, pas aku mau diboyong mas Manaf ke rumahnya “nanti kalau suamimu sudah memberi nafkah batin, terus kamu telat haidnya, minta dibeliin alat buat ngetes kehamilan ya,”

“Dan jangan lupa, makainya pas udah bangun tidur, biasanya menjelang subuh itu air seninya cepat dan akurat lho dik.”

Waktu itu aku cuma mengganggukkan kepala saja. Maklum disentuh saja belum, jadi belum ada bayangan ke arah itu.

Mengingat semua itu aku cuma mesam-mesem sendiri. Ternyata sekarang aku mengalaminya, telat datang bulannya dan jadi tahu apa yang harus aku lakukan.

Tadipun, saat mas Manaf selesai mandi wajib, sebelum ke musholla belakang buat tahajud, sempat mengingatkan aku.

“Jangan lupa ya dek,” katanya sambil memencet hidungku.

“Apanya mas,” tanyaku bermaksud menggoda.

Dia cuma mengedipkan mata ke arah perutku sambil tersenyum, aku jadi gemas dibuatnya.

Dan sekarangpun, setelah mencelupkan alat pendeteksi kehamilan ke dalam air seniku, aku bertambah deg-degan.

“Dek, sudah belum?”. Suara mas Manaf yang sudah selesai tahajudpun terdengar dari depan pintu.

“Sebentar mas, ini juga lagi nungguin,” jawabku sambil menepuk dada untuk mereda debaran.

Ternyata dia juga gak sabar untuk melihat hasilnya. Biasanya kalau kami selesai tahajud dia langsung lanjut berdzikir sampai masuk waktu subuh.

Ceklik!

Mas Manaf yang ternyata bersandar di dinding sisi pintu kamar mandi langsung kaget dan segera mendekat sambil bertanya,

“Gimana hasilnya dek?”.

Aku menunduk dan menggeleng pelan. Lalu duduk di sisi pembaringan.

Mas manaf yang melihatku begitu langsung mendekat, mengelus pundakku dan bilang

“Kalau masih negatif ya gak apa-apa dek, nanti kita coba lagi,” katanya bermaksud menghiburku.

“Kata siapa negatif mas,” jawabanku membuatnya heran dan langsung menghadapkan tubuhku ke arahnya.

” Lho, lha itu tadi adek gelengin kepala, ini maksudnya apa sih,” tanyanya curiga.

Prankkk!

Sambil beranjak berdiri, aku menunjukkan hasilnya, dan…

“Maksud aku tadi…Nggak salah lagi, positiffff….,” Aku tertawa senang bisa memberi kejutan lagi untuknya. Dan semakin gembira dan bahagia lagi ketika melihatnya cemberut sekaligus takjub, kemudian sujud syukur lalu berdiri dan bilang “Alhamdulillah, selamat menjadi calon ibu yang baik ya sayang…mudah-mudahan anak kita ini, nantinya bisa menjadi khalifah dibumi yang bisa menjadi Uswatun Hasanah, sekaligus amanah mempertanggungjawabkan persaksiannya saat di alam ruh, diciptakan hanya untuk beribadah, sehingga semua yang dilakukannya bernilai ibadah,”

“Aamin”

Kutengadahkan tanganku ketika mengamini harapan dalam do’anya.

Aku bahagia sekali mendengarnya, apalagi setelah itu dia kembali memelukku dengan bahagia, menghujaniku dengan ciuman yang bikin aku tambah ketagihan dan tak ingin dia mengakhirinya.

*****””””””*****
Melewati malam dalam dekapan hamba Alloh yang senantiasa mengingatkanku, bahwa selain gairahnya untukku dalam bingkai kecintaan karena Alloh yang senantiasa diniatkan ibadah, dia juga harus lebih gairah mencinta dalam kesendirian di sepertiga malamnya.

Sedingin apapun malam yang kami lalui yang justru membutnya teringat kalau dia tak akan sanggup melihat dan merasakan Malaikat Malik yang begitu gembira menerima perintah tuhanNya, melempar mereka yang terlena dalam surga dunia tanpa sedikitpun mensyukuri keindahan dan kenikmatan itu adalah anugerahNya.

Siapapun tak akan sanggup menahan siksa seperti yang digambarkan dalam kitab suciNya, maka hatiku menjadi tenang karena tak akan cemburu dengan semua itu, justru ku katakan “selalu ingatkan dan ajaklah aku untuk mencintai kekasih abadimu.”

Ada bahagia direlung hatiku, jika cintanya terpaut selalu pada kekasih abadinya tanpa melupakan kewajiban memberi nafkah batinnya padaku dalam bingkai ibadah, inilah ciptaan Alloh yang akan menjadi perantara aku mendapatkan harumnya surga, surga dunia dan surga yang sesungguhnya.

Aku akan menjadi hamba yang paling bahagia jika diberi anugerah seperti itu, maka aku akan senang mengatakan kepadamu seperti syair atau apalah itu yang dulu sering membuat para santri di pesantrenku menyenandungkannya sambil tersipu malu ” Aina ila aina, wa anni tabi’tuka walau anta a’thoru li a’las sama’i”.

Meski dulu aku tak begitu paham maksudnya, hanya ikutan mbak-mbak yang sudah lebih lama menuntut ilmu di pesantren. Aku masih mentah dalam kajian ilmu agama, untunglah suamiku ternyata selain seorang sarjana dia juga pernah nyantri di sebuah pesantren saat menuntut ilmu, bahkan tetap melanjutkannya di sela-sela waktu kuliahnya.

Aku mengetahui semua, saat terlena mendengarkannya melantunkan ayat suci, indah dan tepat dalam membaca tajwid dan makhrojnya. Saat aku memujinya dihadapan mbok Ngatirah, beliau menceritakan semuanya.

Ternyata selain tampan, pekerja keras dan berwawasan luas, mas Manaf juga putera berbakti yang berharap bisa tetap memberi hadiah terindah kedua orang tuanya disaat telah menghadap Sang Khalik.

Cinta yang tiada terbatas, mencintai karena Alloh, akan membawa yang dicintainya berjumpa dan berkumpul di surganya Alloh.

Selesai menunaikan tahajud, mas Manaf berbalik kearahku dan mengusap perutku, mulutnya terdengar berbisik di saat dia mencium perutku yang mulai sedikit ada perubahan.

“Di do’ain apa sih mas?” tanyaku penasaran.

“Ada deh,tentunya do’a terbaik untuk ibu dan anak ini nantinya.”

Mendengar jawabannya jadi serasa adem rasanya. Saat itu juga senandung do’a kupersembahkan untuk semua calon ibu, semoga mendapatkan perlakuan yang sama dari calon ayah jabang bayi yang dikandungnya.

“Oh ya dek, sebentar lagi kan sudah memasuki hari ke-80,”

“Menurut pak kiyai dulu, ruh akan ditiupkan dan takdir manusia akan ditulis baik rizkinya, jodoh dan ajalnya saat usia kandungan berusia sekitar 120 hari.”

“Jadi sebaiknya kita semakin mendekat dan senantiasa berdo’a meminta yang terbaik untuk anak kita.”

“Iya mas, terima kasih sudah diingatkan.”

“Aku boleh minta hadiah kan mas?”

“Maksud adek?”

“Sebagai calon ibu, aku kepingin ada banyak untaian do’a untuk calon anakku ini mas”,

“Kalau diperbolehkan, aku ingin kakek dan nenek calon bayiku ini, ikut hadir mendo’akan kesehatan dan keselamatan kami mas.”

“MasyaAlloh, iya dek, aku juga bermaksud demikian.”

“Nanti setelah temu alumni, biar aku minta kang Bejo menjemput mereka ya,’

“Maaf aku tidak bisa ikut menjemputnya, di pabrik ada rapat pemegang saham.”

‘Emang kita jadi datang di acara temu alumni ya mas.”

“InshaAlloh jadi dek, sudah lama aku tidak bertemu teman-teman lamaku.”

“Siapa tahu pernah ada salah, kan ada kesempatan untuk saling meminta maaf.”

“Iya sih mas, tapi jangan sampai khilaf ya.”

“Maksud adek?.”

“Ya takutnya ketemuan lagi sama mantan jadi lupa kalau ada istri.’

“Kok kamu mikirnya kearah itu sih.”

“Ya nggak tahu mas, kok akhir-akhir ini aku kayaknya lebih sensitif ya.”

“Ya dido’ain saja yang baik, kan memang resikonya punya suami mapan dan ganteng emang gitu, bawaannya cemburuan,” gurau mas Manaf sambil memencet hidungku.

“Ihh bukan gitu mas, kayaknya bawaan bayi nih,” aku cemberut mengucapkan itu.

Sebel tapi senang melihat hobbi barunya yang suka memencet hidung aku.

Melihatku begitu dia tambah semakin menggodaku.

****””‘”””****
Pagi ini mas Manaf tidak berangkat ke pabrik, sesuai janjinya pada dr.Nizar, kalau kami inshaAlloh akan hadir dalam temu alumni, maka mas Manaf langsung menghubungi dr. Nizar dan teman se-angkatan yang tergabung dalam forum Mahasiswa daerah yang sama-sama kuliah di Universitas yang sama yang berada di Pulau Jawa.

Rencananya kami akan pesan tiket secara kolektif dan boking hotel yang tak jauh dari kampus dan gedung tempat pertemuan berlangsung.

Akupun mulai mempersiapkan apa yang harus kami bawa.

“Bawa baju sekedarnya saja dek,” kata mas Manaf

“Iya mas.”

“Jangan lupa vitamin, obat dan susu buatmu.”

“Susunya beli di sana saja ya mas, ini tinggal 1 duz kecil.”

“Ya sudah, tapi jangan sampai lupa ya, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”

“Ya mas, inshaAlloh nanti saling mengingatkan saja, takutnya aku nanti juga lupa.”

“Ini kira-kira kandungan aku nggak apa-apa ya mas?.”

“Mudah-mudahan dek, kemaren kan sudah diperiksa sama dokter Hetty, inshaAlloh kandungannya kuat, tapi jangan lupa minum vitaminnya.”

“Tadi dr. Nizar bilang kalau sudah ada kesepakatan dengan pemilik hotel tempat kita menginap, kalau setelah landing akan ada kendaraan yang disiapkan untuk menjemput kita.”

“Emang masih jauh ya mas dari bandaranya?’

“Ya lumayan sih, sekitar 30 menit, tapi nggak usah khawatir, nanti kalau kamu capek dan pegal pinggangnya kalau harus duduk terus, tiduran saja dipangkuanku.’

“Aduh!, Jangan dong mas, masa mentang-mentang hamil terus jadi manja, malu dong sama yang lain.”

“Emang kenapa mesti malu, paling mereka mikirnya kita lagi menikmati bulan madu.”

“Lagian mana sempat mereka memikirkan orang lain, orang kan biasanya sibuk dengan pasangan masing-masing.”

“Itukan kalau kamu mas, nggak begitu kepo kayak emak-emak jaman now.”

“Kalau aku kan kenalnya cuma sama mbak Rafida dan dr. Nizar, sama yang lain belum pernah ketemu.”

“Nanti kalau yang lain kepingin kenalan, terus mengajak ngobrol masak harus dijawab sambil tiduran, kalau dicuekin saja kan nggak sopan mas.”

“Iya juga sih dek, tapi nggak apa-apa kok namanya saja lagi hamil, pasti mereka maklum dek.”

“Emang mereka sudah tahu kalau aku lagi hamil ya mas.”

“Ya belum sih, aku kan belum bilang ke mereka kalau kamu lagi hamil.”

“Jangan bilang dulu ya mas, aku kan malu.”

“Lho kenapa mesti malu, kan sudah punya suami, yang belum punya suami saja kadang nggak malu hamil diluar nikah.”

“Aduh mas, jangan bilang begitu dong…aku ini lagi hamil lho, nggak boleh membicarakan keburukan orang lain.”

“Bukan bermaksud begitu dek, aku cuma ingin kamu nyaman saja saat kusuruh tidur di pangkuanku, daripada menahan lelah dan capek kalau harus duduk terus.”

“Iya deh, nanti pas perjalanan dari bandara ke hotel, mudah-mudahan aku nggak kecapekan biar nggak ngerepotin kamu mas.”

“Kok masih saja bilang begitu, aku kan nggak merasa direpotin dek.”

“Ya sudah, nanti pas di pesawat sampai perjalanan ke hotel, aku mau dipangku terus deh, biar yang lain jadi ikutan pangku istrinya,”

Aku mengatakan itu sambil menggelayut manja di lengan suamiku.

“Waduh!, kalau niatnya kayak begitu ya nggak benar dek,’ kata mas Manaf sambil mencubit pipiku.

“Aduh, aku kan cuma bercanda mas,” kataku berpura-pura kesakitan sambil mengusap pipiku yang baru saja dicubitnya.

Mas manaf tahu kalu aku hanya pura-pura, makanya dia malah mencubit lagi dan lagi.

Aku sampai harus menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku.Tapi dia malah menggelitik pinggangku.

“Sudah ah mas, nanti malah kelupaan lho mana yang harus dibawa.’

Aku menahan tangannya saat mengatakan itu. Akhirnya dia menghentikan candaannya.

“Nah sudah semua mas, besok tinggal checklist lagi siapa tahu perlu ada tambahan yang mesti dibawa.”

“Oke!” katanya, sambil mengangkat dan menyisihkan koper yang didalamnya baru saja kuisi pakaian dan perlengkapan lain yang kami butuhkan.

Semoga saja perjalanan kami nanti diberi keselamatan dan lancar sampai tujuan.

****””””****
Sayonara untukmu…tetaplah menunggu agar dapat kuhirup sejuk udara pagimu.

Hari ini meninggalkan jejak roda empat pada pertiwi, yang memberi subur pepohonan yang menjadi harapan bagi kami. Disela rimbun dedaunannya mulai bermekaran bunga putih yang harumnya berbaur dengan kesejukan udara pagi, semakin membuatku tak ingin pergi.

Dan saat deru mobil yang mengantar kami ke bandara semakin menjauh bisik hati mengatakan melihat dan merasakan indahmu dan aromamu aku pasti rindu untuk segera kembali.

Meski cukup memakan waktu perjalanan menuju ke bandara, setelah melewati area perkebunan aku lebih banyak diam karena grogi. Ada resah karena belum pernah sekalipun masuk ke dalam bandara apalagi naik pesawat.

Mas Manaf tahu aku belum pernah naik pesawat terbang meskipun bepergian agak jauh.

Sampai akhirnya aku meminta dia untuk menjelaskan apa saja yang harus aku lakukan nanti ketika berada di sana. Saat dia memintaku untuk santai saja dan menikmati perjalanannya aku justru semakin nervous.

Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga di bandara Raden Intan. Saat

Memasuki lobby bandara, aku melihat sudah ada mbak Rafida, dr. Nizar dan delapan orang lainnya yang ternyata sedang menunggu kedatangan kami.

Mas Manaf segera mengajakku mendekat, setelah melepaskan genggaman tangan kirinya dari jemariku kemudian memeluk dr. Nizar dan sahabatnya yang lain, lalu menangkupkan tangan pada para wanita yang berada di samping mereka, sambil memperkenalkan aku.

Aku melakukan hal yang sama, bedanya aku hanya menjabat tangan mbak Rafida dan teman wanitanya, lalu menangkupkan tanganku pada dr. Nizar dan yang lainnya.

Aku baru tahu kalau tidak semua teman mas Manaf itu muslim, mereka ada yang beragama Kristen dan Hindu, bahkan ada dua teman wanita muslim yang tidak berjilbab bahkan memakai rok sedikit di bawah lutut. Namun mereka nampak ramah dan sopan dalam menyambut kami.

Beberapa saat kemudian terdengar pemberitahuan agar semua penumpang segera memasuki badan pesawat.

Saat menaiki tangga pesawat aku mulai diserang demam, terlebih lagi saat telah masuk ke dalam dan duduk di kursi pesawat.

Keringat dingin mulai membasahi tangan, dahi dan tengkukku. Aroma dan hembusan AC di dalam pesawat mulai membuatku tidak nyaman apalagi saat pesawat mulai take off, ya Alloh…jangan sampai aku muntah di dalam pesawat, aku bisa malu sama teman-teman mas Manaf yang duduk tak jauh dari kami.

Aku menggenggam erat jemari suamiku, dia nampak kaget merasakan begitu dingin telapak tanganku ini. Ada rasa khawatir di raut wajahnya. Aku mencoba untuk mengangguk dan tetap tersenyum agar dia tak terlalu mengkhawatirkan aku.

“Kamu takut dek?.”

“Tidak mas, aku cuma sedikit mual.”

“Ini cuma sebentar kok dek, nanti setelah transit di Jakarta, mudah-mudahan kamu sudah bisa menyesuaikan kondisi di dalam pesawat untuk meneruskan penerbangan berikutnya.”

“Transit di Jakarta mas?.”

“Iya.”

“Terus kita naik apalagi?,”

Pertanyaan bodoh yang kuberikan membuatnya hampir tertawa, namun ia segera menutup mulut dengan telapak tangannya lalu tersenyum sambil meremas jemariku.

“Ya tetap naik pesawat dek, mungkin agak lama, tapi kalau dibuat tiduran tidak terasa kok, nanti pas bangun pasti sudah sampai.”

Mas Manaf mungkin mencoba menghiburku saja. Tapi dari yang aku dengar memang iya sih cuma sebentar kalau naik pesawat.

Memang benar, tidak berapa lama kemudian pesawat yang kami naiki sudah mendarat, setelah sebelumnya memberiku hadiah sedikit goncangan yang mengaduk isi perutku.

Alhamdulillah, untunglah tadi waktu mau berangkat dari rumah mbok Ngatirah menganjurkan dan mengajarkanku memakai kendit berupa selendang kecil yang diikatkan di bawah perutku. Kata simbok ini lebih manjur dari korset buatan luar negeri. Aku tertawa waktu mendengarkan gurauannya, yang ternyata ada benarnya.

Dan belum lega menghirup nafas di luar pesawat ketika di Jakarta, kami sudah harus melanjutkan penerbangan. Anehnya aku sudah tidak senervous tadi meski masih terasa mual ketika berada di dalam pesawat.

Mas Manaf menyelimuti tubuhku dengan selimut. Dan memberiku tisu basah yang harumnya aku suka. Dia selalu ingat aku tidak suka bau minyak wangi ataupun parfum. Makanya dia tadi menyempatkan diri membeli tisu basah dengan “aroma bayi” begitu dia menyebutnya.

Terimakasih suamiku, sesuatu yang sederhana namun mahal bahkan tak ternilai untuk kami para wanita yang sedang hamil muda dan hanya mau serta tahan dengan aroma yang diinginkan jabang bayinya.

*****”””'”*****
Kuuntai do’a memohon selamat pada yang maha segalanya, seandainya harus saat ini akhir takdirku, maka biarkan aku kembali padaMu membawa bekal iman dan amal yang Engkau ridloi.

Genggaman tanganku pada jemarinya semakin erat saat pesawat yang kami tumpangi terasa membentur sesuatu dan seandainya naik mobil mungkin seperti melewati jalan yang tidak rata, tapi ini di angkasa.

Aku yang tadinya sudah merasa nyaman, kini mulai gelisah dan tak henti berdo’a. Namun karena dia merengkuhku dengan tangan kanannya dan menyandarkan kepalaku pada bahunya serta terus membiarkanku menggenggam jemari kirinya, ada perasaan nyaman di dadaku apalagi saat tangan kanannya mengusap-usap punggungku berharap agar aku tidak khawatir dan semua akan baik-baik saja.

“Tenang dek, cuacanya memang kurang baik,”

“Ada sedikit awan yang menghalangi perjalanan, ini sudah biasa kok.’

Aku cuma menggangguk pelan, mempercayainya sepenuh hati dan berkhusnudhon adalah perantara diantara do’a yang diijabah.

Entah karena larut dalam do’a atau perasaan nyaman dalam rengkuhnya, aku tidak menyadari kalau pesawat akan mulai landing. Aku baru menyadarinya saat terdengar suara kru pesawat meminta kami untuk mengencangkan sabuk pengaman serta memberitahukan pesawat akan segera mendarat.

Aku baru lega setelah kakiku menuruni anak tangga pesawat, saking senangnya setelah sampai di bawah aku langsung mencium mas Manaf yang sedang membetulkan jilbabku yang tertiup angin.

Dia sampai kaget dan mengedipkan dua matanya memberi isyarat sambil berbisik pelan.

“Jangan di sini, banyak orang,” katanya

Aku segera menutup mulut, dan merasa malu sendiri atas kelakuanku tadi.

Melihat wajahku yang mungkin sudah seperti kepiting rebus karena malu, mas Manaf jadi merasa kasihan, lalu dia segera menggenggam tanganku dan memberi kode untuk segera melangkah keluar.

Baru saja kami berjalan beberapa langkah, tiba-tiba di belakang kami ada suara “ehm…ehm…”

Kami diam saja, sampai akhirnya baru menengok saat ada yang berbisik di belakang yang sudah pasti ditujukan pada kami.

“Suasananya jadi romantis ya….”

“Ya iyalah… kan ada yang sekalian mau bulan madu.”

Aduh, itu kan suaranya mbak Irene sama mbak Firsya.

Kami menengok, dan mereka berdua tertawa lirih sambil menutup mulut. Mbak Rafida dan dr. Nizar yang ada di belakang cuma senyum-senyum, tapi aku justru semakin malu.

Aku yakin mereka tadi menyaksikan kelakuanku yang kekanak-kanakan. Kulirik mas Manaf, dia kok malah mesam-mesem sih.. pasti merasa paling ganteng sejagat deh, sudah disosor istrinya di tempat umum. Wahh kalah telak aku.

Akhirnya setelah selesai melewati ruang pemeriksaan dan membawa koper serta barang bawaan masing-masing, kami segera melepas penat sambil duduk di bangku kosong yang ada, menunggu mobil jemputan yang disediakan pihak hotel tempat kami menginap nanti.

Mas Manaf permisi ke toilet sebentar diikuti dr. Nizar dan teman pria lainnya.

Aku menunggu bersama yang lain, sambil sesekali tersenyum dan menjawab obrolan mereka.

Ada perasaan malu saat mbak Irene mengatakan:

“Nggak nyangka mas Manaf jadi jinak sama mbak Uswa ya,”

Bermaksud bergurau mungkin, tapi saat semua tertawa aku jadi semakin malu, salah tingkah dan sekaligus kepo.

“Emang mas Manaf dulu kayak apa sih mbak?” tanyaku penasaran sekaligus menghalau perasaan malu.

Belum sampai mereka memberi jawaban, mas Manaf, dr. Nizar dan temannya sudah kembali berjalan ke arah kami.

“Nih minum dulu, biar sedikit enakan,” kata mas Manaf ketika sudah mendekat.

Tangannya menepukku lalu memberikan juice jambu biji untukku.

“Terimakasih mas,” jawabku sambil mengambil gelas juice dari tangannya.

“Yang itu apa mas?” tanyaku sambil menunjuk gelas berisi minuman berwarna hitam yang baru saja di seruputnya.

” Kalau yang ini kopi,” jawabnya.

“Boleh minta sedikit mas?,” bisikku pelan.

“Waduh, jangan dong ..nanti kalau hitam gimana?,”

“Apanya yang hitam mas?,”aku masih belum paham maksudnya.

“Ya dedek bayinya dek, kata mbok Ngatirah kan jangan diminumin kopi, biar nggak hitam,” jawabnya pelan

“Iiih itu kan mitos kata kamu waktu itu mas, kenapa sekarang jadi percaya sih,” ucapku manja sambil mencubit lengannya.

Mas Manaf cuma tertawa perlahan. Selalu saja bikin aku gemas. Emang nggak tahu apa kalau akhir-akhir ini aku suka kepengen apa yang dia makan atau minum, meski terkadang aku muntahin.

“Mesra teruss…,” Kali ini mbak Firsya sama suaminya yang komentar diiringi gelak tawa yang lain.

Aku yang sudah tidak canggung lagi karena tahu mereka juga pasangan romantis, cuma membalas dengan senyum.

Bersama mereka rasanya sangat menyenangkan. Sama-sama membelikan minum atau makanan ringan untuk pasangan masing-masing, dan saling bercanda satu sama lain.

Saat kami asyik menikmati kebersamaan, dua buah mobil jemputan yang kami nantikan telah tiba.

Setelah memasukkan koper dan barang bawaan ke dalam bagasi, kami masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat kami menginap.

*****”””””””*****
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Ternyata tak lebih dari 40 menit perjalanan dari bandara BAS ke hotel SB tempat kami menginap sekaligus tempat diadakannya temu alumni.

Setelah mengambil kunci di resepsionis, kami langsung menuju kamar masing-masing untuk segera beristirahat atau secepatnya membersihkan diri seperti yang aku lakukan.

Rasanya bau kendaraan seperti menempel bercampur keringat di tubuh membuat perutku mual dan serasa ingin muntah.

Aku segera membuka koper. Mengeluarkan pakaian ganti, handuk dan peralatan mandiku. Kulihat mas Manaf merebahkan tubuhnya di atas bed cover, setelah menelepon seseorang.

Mungkin lelah karena terus terjaga, agar aku bisa nyaman di dalam pesawat tadi.

Setelah mandi dan berganti baju, aku mendekat padanya. Ku kecup keningnya lalu kubisikkan sesuatu.

Dia langsung membuka mata, dan tertawa lirih lalu memencet hidungku. Setelah itu beranjak menuju kamar mandi.

Baru saja aku hendak menyisir rambut, mas Manaf memanggilku.

“Yang…handuknya dong,’

Aku tertawa mendengarnya. Lalu kuambilkan handuk dan kuberikan padanya. Dia menarik handuknya, aku berpura-pura menahannya. Sampai dia gemas dan bilang:

“Mau ikut mandi lagi ya…”

“Ogah ah, dingin,” jawabku sambil melepas handuknya.

Dia menerimanya sambil terkekeh.

Aduh, gara-gara bisikanku tadi dia jadi nakal sekarang. Nggak tau kenapa tadi aku reflek aja bilang [Sayang, aku dah bersih lho…kamu mandi dulu ya biar wangi, dedeknya minta dimandiin di sini lho…tapi maunya yang nempel bundanya yang wangi tuh].

Manjur kan…sekarang dia juga sudah berani panggil sayang ke aku tadi. Aku rasa tidak ada salahnya memulai sesuatu yang membuat hubungan kami tambah mesra. Kan sudah halalan toyyiban.

Selesai memakai bedak dan mengoles tipis lipstik di bibirku, aku segera duduk di sisi tempat tidur. Mas Manaf yang berada di dalam kamar mandi, memanggilku lagi. Kepalanya terlihat menyembul ke luar.

“Yang…bajuku mana?”

Aku tertawa melihatnya. Saking semangatnya pas aku bisikin tadi, sampai lupa membawa baju ganti ketika masuk ke kamar mandi.

Aku mengambilkan baju ganti untuknya yang tadi aku ambil dari koper lalu kutaruh di atas seprai di samping ia tidur tadi.

Sambil menutup mulut menahan tawa, aku memberikan baju gantinya. Aku lihat dia sedikit cemberut, mungkin tahu aku menertawakannya.

Tak lama kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi, dan langsung saja memeluk dan mencium bagian sensitifku berkali-kali. Aku menggelinjang menahan geli sekaligus hasrat yang ikut membuncah ketika merasakan cumbuannya yang lain dari sebelumnya.

Saat posisi kami sedang ingin menunaikan hasrat lebih dalam, tiba-tiba ada suara pintu diketuk dari luar.

Dengan sedikit panik, kami segera membetulkan pakaian masing-masing.

Setelah merapikan jilbab dan lipstik yang sempat tak karuan aku segera membuka pintu.

Layanan kamar, bisikku ketika meihat ada pelayan hotel yang membawa pesanan berupa minuman dan makanan, sudah berada di depan pintu.

“Maaf tadi ada yang menelepon untuk dibawakan pesanannya kemari,” katanya sopan.

Mas Manaf yang mendengar langsung mengiyakan dan menyuruhnya masuk.

Aku mengucapkan terimakasih dan memberinya sedikit uang tip sebagai rasa terimakasih sudah memberi pelayanan yang baik kepada kami.

Ketika dia sudah permisi keluar setelah mempersilahkan kami untuk menikmati hidangan yang dibawanya tadi, aku segera menutup pintu. Aku yang masih berdiri di dekat pintu melihat ke arah mas Manaf. Kami saling pandang kemudian tersenyum lalu tertawa mengingat apa yang baru saja kami lakukan.

“Aduh mas, kenapa sih nggak bilang kalau kamu tadi pesan makanan,” kataku sedikit protes

“Iya maaf, tadi kan nggak tahu bakal ada tawaran yang lebih menggoda daripada layanan hotel.”

Mendengarnya mengatakan itu, air mataku sampai menetes karena tak kuasa menahan tawa.

Yaa Alloh, ternyata perbedaan usia tak membuat jarak dan kekakuan dalam hubungan kami, justru sebaliknya.

Memang benar kata bapak dulu, kalau perbedaan masa baligh antara lelaki dan perempuan itu menunjukkan ada suatu rahasia Tuhan dibalik semua itu.

Dari yang pernah kudengar juga, awal menstruasi bagi wanita bisa berpengaruh saat menginjak monopouse, dan ada juga yang bilang perempuan itu lebih cepat dewasa, jadi malah lebih bagus kalau jarak usia suami lebih sedikit minimal sekitar lima tahunan jarak usia dengan sang istri.

Tapi itu belum tentu sepenuhnya benar, karena ada juga pasangan yang usianya sama tapi tetap romantis dan damai saja. Seperti mbak Rafida dan dr. Nizar atau mbak Firsya dan suaminya. Mereka kan satu angkatan meski beda fakultasnya.

Akhirnya kami tidak jadi melanjutkan memandikan dedek bayinya, karena telepon berdering dan dr. Nizar meminta kami berkumpul untuk mengecek persiapan di ballroom tempat diadakannya temu alumni besok malam.

Setelah selesai menyantap hidangan, mas Manaf menyuruhku untuk istirahat saja di kamar. Nanti setelah dari ballroom kami akan berkumpul untuk makan malam bersama teman yang lain. Aku menurut saja, toh tubuhku juga perlu istirahat. Setelah mengecupku dia keluar untuk menemui sahabatnya.

*****”””””'”””*****
Aku baru saja selesai melaksanakan sholat isya’ saat mas Manaf meneleponku dan memberitahu kalau ia tadi keluar dari hotel untuk berjamaah sholat di Masjid dengan mas Faris, teman kuliahnya dulu yang berasal dari Jombang, serta meminta maaf tidak memberitahuku lebih dulu.

Dia juga memintaku untuk langsung menuju tempat makan malam bersama setelah aku sholat.

Tanpa banyak bertanya lagi, aku mengiyakan saja meski belum tahu dimana tempatnya.

Aku berusaha memahami kalau mas Manaf saat ini, mungkin sedang melepas kangen dengan teman kuliahnya dan langsung disibukkan dengan persiapan untuk acara besok malam.

Akhirnya setelah selesai merapikan jilbab, memakai bedak dan mengoles tipis lipstik di bibir agar mas Manaf makin sayang saat melihat istrinya nggak kalah cantik sama yang lain, aku bergegas menuju tempat yang dimaksud.

*****””””””*****

Ketika melihatku datang, mas Manaf langsung menyambut dan menarik kursi untukku, kemudian mengenalkan aku pada yang lain.

Aku hanya mengangguk dan menangkupkan tangan sambil tersenyum, karena tak memungkinkan menyalami mereka semua saat semua sudah duduk bersama pasangan masing-masing dan bersiap untuk makan.

Ingin rasanya aku mencuri pandang untuk sekedar melihat yang mana sih mbak Kania itu. Tapi logikaku masih mengingatkanku untuk tak melakukannya dan menahan agar bersabar karena masih ada hari esok.

Aku sudah mulai terbiasa makan di tempat seperti ini, namun yang membuat aku kikuk adalah tatapan dr. Nizar tadi saat berpapasan denganku ketika aku hendak masuk ke ruang yang disediakan pihak hotel untuk makan bersama sekaligus tempat untuk membahas hal yang berkaitan dengan acara temu alumni besok malam.

Tatapan matanya yang diarahkan padaku berbeda dari biasanya, saat dia melihatku bersama mas Manaf waktu berangkatpun tidak seperti ini.

Entah mengapa aku menjadi risih saat menerima tatapan matanya yang seakan menikmati apa yang ada padaku.

Aku jadi teringat kejadian memalukan waktu itu. Semoga saja dia tidak sedang mengingatnya dan berfikiran kotor ketika melihatku.

Atau mungkin karena aku tadi salah niat ya…

Seharusnya meski berhias harus karena Alloh saja dan untuk suamiku.

Agar tak gugup dan salah tingkah aku mencoba menikmati makan malamnya. Tapi… mas Manaf mungkin lupa menjauhkan mangkuk sup dari hadapanku. Aromanya membuatku mual.

Ingin memindahkan mangkuk supnya, tapi kok malu kalau jadi pusat perhatian. Akhirnya aku mentoel paha mas Manah dari samping. Dia kaget lalu menoleh padaku, aku langsung berbisik “supnya…”

Dia langsung menyadari lalu mengangakat dan memindahkan mangkuk sup yang ada di depanku, menggantinya dengan salad buah kesukaanku.

” Tadi kenapa nggak ikut mas Manaf ke ballroom mbak Uswa?”tanya mbak Irene padaku.

Mendengar pertanyaan yang ditujukan padaku, aku langsung menghentikan suapanku, dan menengok ke arah mbak Irene. Tapi tenggorokanku tercekat.

“Dia agak pusing Ren…mungkin karena belum terbiasa naik pesawat”

Aku mengangguk pelan sambil tersenyum, mengiyakan jawaban yang diberikan oleh mas Manaf, meski dalam hati sedikit malu karena ucapan mas Manaf yang terlalu jujur.

“Pantesan tadi tak cari-cari kok nggak ketemu,” mbak Firsya ikut angkat bicara.

“Ayo jangan malu-malu, makannya yang banyak, biar nggak pusing lagi”.

Dr. Nizar yang duduk di sebrang meja mengatakan itu sambil meletakkan ikan bakar gurami yang tadi ada didekatnya, di samping salad buah di depanku.

Pelan aku mengucapkan terimakasih untuk menghargainya, sambil melihat mbak Rafida yang ada di sampingnya. Namun aku terkejut saat melihat mbak Rafida menatap lurus ke arah mas Manaf.

Bahkan saat dr. Nizar tersenyum mendengar jawabanku dia tetap tak mengalihkan tatapannya dari suamiku. Ada apa ini sebenarnya…kenapa sikap mbak Rafida jadi seperti itu.

Bukankah saat makan bersama di rumahku dulu dia lebih senang ngobrol denganku.

****””””””‘****

Setelah selesai makan malam, mas Manaf dan yang lain meneruskan membahas acara untuk besok malam. Aku yang merasa kurang nyaman melihat tingkah dr. Nizar dan mbak Rafida yang sekarang nampak berbeda, akhirnya memutuskan untuk permisi keluar diikuti oleh mbak Fatimah istri dari mas Faris.

Aku berjalan perlahan tak begitu tahu arah mana yang aku tuju. Sampai akhirnya seseorang mensejajari langkahku. Aku berpaling ke arahnya. Ternyata seorang wanita berparas ayu dan tinggi semampai yang tadi duduk di sebelah mbak Irene dan makan malam bersama kami.

*****””””’*****
Saat kami saling bertatap mata, dia memberikan senyum yang membuat wajah ayunya semakin cantik saja.

Aku membalas senyumnya yang bersahabat dengan anggukan kecil sambil bertanya.

“Maaf, mbak tadi kan yang duduk di sebelah mbak Irene ya?”

“Iya mbak Uswa”

Aku sedikit terkejut karena heran bagaimana dia tahu namaku. Saat mengenalkanku tadi, mas Manaf hanya mengatakan kalau aku ini istrinya.

“Maaf mbak, tadi kan kita belum resmi berkenalan, belum afdhol rasanya, saya kan belum tahu siapa mbak ini,”

Kuulurkan tanganku untuk menjabat tangannya, saat mengatakan itu. Dia tersenyum, kemudian menyambut uluran tanganku.

“Iya mbak Uswa, perkenalkan namaku Kania.”

Deg, detak jantungku seakan berhenti berpacu seketika itu, saat mendengar nama yang dia sebutkan. Takjub sekaligus merintih, merasakan betapa ayunya orang yang dulu telah membuat mas Manafku merana.

Ya Alloh, rasanya tak percaya, mahluk cantikmu ini tega melukai hati seorang lelaki seperti suamiku, yang kuanggap mendekati sempurna sebagai ciptaan terindahMu.

“Mbak Uswa mau kemana?”

“Kok nggak ikut gabung di dalam?” tanyanya kemudian

Duh, suaranya seperti buluh perindu. Aku yang perempuan saja seakan hanyut dibuatnya, bagai getaran nada yang merambat…mendayu manja.

“Tadinya sih mau langsung balik ke kamar mbak, nggak tahu kenapa kok saat melihat tempat ini rasanya kepingin jalan-jalan.”

Aku menjawabnya mengikuti apa yang terlintas di otakku saat itu.

Bagaimana aku bisa bicara jujur, kalau aku tidak nyaman berada di sana, karena pasangan suami istri yang mulai memiliki gelagat yang berbeda dari sebelumnya.

“Oo, syukurlah mbak, tadinya saya sungkan mau bilang sesuatu ke mbak Uswa.”

“Mau bilang sesuatu…apa itu mbak?” Mendengar ucapannya, kepalaku langsung dipenuhi ribuan tanya.

“Itu mbak, tolong sampaikan ke mas Manaf ya, ibunya mas Asep ingin mas Manaf dan mbak Uswa mampir ke rumah.”

Aku masih belum paham dengan apa yang dikatakan mbak Kania padaku.

Mbak kania yang melihatku nampak mengkerutkan dahi saat mencoba mengingat sesuatu yang mungkin aku lewatkan, sehingga kurang memahami perkataannya, seakan mengerti lalu mulai menjelaskan.

“Ibunya Mas Asep itu masih ada ikatan saudara dengan almarhumah mbak…maksudku ibunya mas Manaf”

“Jadi, beliau ingin bertemu dengan mbak Uswa, kan waktu menikah kami tidak bisa datang mbak.’

Aku tersenyum mendengar maksud perkataannya, kemudian menganggukkan kepala tanda mengerti dan setuju.

“Iya, mbak, nanti akan aku sampaikan ke mas Manaf.”

“Senang rasanya bisa bertemu dan berkenalan dengan mbak Kania,” ucapku jujur.

Ya, aku senang mengetahui siapa saja orang yang pernah dekat dengan suamiku. Apalagi orang yang pernah membuat hatinya terpaut.

Bukan karena ingin sekedar melihat lalu membandingkan apa yang ada padanya dan padaku.

Namun akan lebih tepat jika mengetahui apa yang membuat suamiku dulu pernah terpikat padanya agar aku bisa membenahi kekuranganku sehingga layak untuknya.

Dan…tentunya tanpa harus menjadikan aku seperti dia. Aku punya kemurnian cinta, meski hatiku juga dulu pernah terpaut namun raga ini masih perawan, yang selalu kupintakan pada yang kuasa menjaga penciptaanNya agar bisa kupersembahkan untuk hambaNya yang terbaik yang dipilihNya untukku.

Dari ujung rambut sampai ujung kakiku, tak kubiarkan tersentuh atau disentuh selain dia. Bahkan saat beberapa teman lelaki sampai putra seorang kiyai mencoba berta’aruf, sekaya dan setampan apapun tak boleh memegang apalagi menggandeng tanganku.

Siapapun engkau dengan segala kelebihanmu mbak Kania ataupun mbak Rafida, atau Kania-Kania yang lainnya, aku yakin mas Manaf telah digariskan hanya untukku.

****”””””””****
Baru saja aku hendak menyandarkan tubuh lelahku pada pembaringan, terdengar suara pintu diketuk dari luar.

Aku segera berbalik dan berjalan ke arah pintu, kemudian membukanya.

Sedikit kaget dan heran saat kulihat mbak Rafida sudah berdiri di depanku.

“Maaf, kalau udah mengganggu mbak Uswa ya,”

“Oh, nggak kok mbak, ada apa ya? mari…silahkan masuk dulu mbak”

Mbak Rafida langsung masuk begitu aku persilahkan.

“Eeh, anu..cuma mau tanya, tadi kan pas mbak Uswa keluar setelah makan malam, aku lihat Kania buru-buru pamit keluar juga lho.”

“Apa dia tadi nemuin mbak Uswa?”

“Iya, mbak,” jawabku singkat.

“Emang dia ngomong apaan ke mbak Uswa?”

“Cuma ngasih tahu kalau kita disuruh mampir ke rumah ibunya mas Asep kok mbak”

“Oo, cuma itu ya,”

Aku hanya tersenyum saja mendengarnya mengatakan itu.

Saat itu juga aku seperti menangkap kesan sinis dalam mimik wajahnya.

“Mas Manafnya kok nggak kelihatan mbak, belum kesini to”

“Iya, mbak, mungkin masih belum selesai rembukannya.”

“Mbak Rafida kok sendiri, suaminya juga masih disana to mbak?”

Aku memberinya pertanyaan yang sama. Kulihat dia terdiam sebentar, lalu terlihat salah tingkah.”

“Eeh, iya…masih disana mungkin”

“Kok mungkin sih mbak, emang mbak Rafida tadi pamit keluar juga ya”

“Enggak sih, tadi kan pas aku masuk ke toilet mas Manafnya masih ada, tapi pas aku keluar kok tidak kelihatan lagi, jadi aku ikut keluar siapa tahu dia nyariin mbak Uswa sama Kania.”

“Enggak kok mbak, tadi setelah ketemu mbak Kania, aku langsung kemari.”

“Oo, ya sudah ya…aku permisi dulu, takutnya mas Nizar nanti nyariin aku juga.”

Aku mengangguk saja, membiarkan mbak Rafida keluar dari kamar tempatku menginap.

Setelah mbak Rafida pergi, aku termenung disisi tempat tidur. Apa iya mas Manaf sudah keluar dari sana ya.

Lalu kemana dia sekarang?kenapa tidak menemui atau menghubungiku?

Mata ini sudah tak kuat menahan kantuk, tapi pikiranku masih dipenuhi tanda tanya saat tak ada ketukan dari pintu kamar ataupun dering telepon dari mas Manaf.

****””””'”****

Aku terkejut dan terbangun dari tidurku saat mendengar dering telepon yang berada di sampingku.

Astaghfirulloh, ternyata dari mas Manaf, kulihat ada 5 panggilan tak terjawab darinya. Rupanya aku benar-benar tertidur tadi pas berusaha terjaga melawan kantuk yang akhirnya tak bisa kutahan lagi.

Aku segera menerima panggilannya begitu mulai berdering lagi.

“Iya, mas….maaf aku ketiduran”

“Tolong buka pintunya dek”

Hah, tanpa menutup telepon, aku segera beranjak dan setengah berlari menuju pintu. Ketika telah membukanya, aku melihat suamiku bersandar di dinding dekat pintu masuk.

“Maaf mas” ucapku lirih sambil mencium tangannya lalu mempersilahkannya masuk.

“Sudah lama ya, mas tadi nunggu di luar?”

Dia cuma mengangguk perlahan. Kemudian tanpa melepas bajunya yang terlihat sedikit lusuh, dia duduk di tepi pembaringan.

Aku melihat ada kesedihan di raut wajahnya.

Tubuhnyapun nampak lelah dan …aku baru sadar kalau matanya terlihat sembab. Sepertinya dia habis menangis.

Ya Alloh, ada apa ini? darimana dia? siapa yang sudah membuatnya menangis?.

Melihatnya seperti itu, tak berani aku untuk bertanya lebih jauh. Aku menatapnya, menunggunya dan berharap dia sendiri yang akan memberi jawaban dari banyak pertanyaan dipikiranku, tanpa harus menanyakan padanya.

Saat melihatnya hanya tertunduk lesu, aku langsung bangkit dari sisinya.

Aku mengambil botol berisi air mineral didalamnya dan gelas dari atas meja kecil, yang ada di kamar kami. Segera kutuang airnya kedalam gelas, lalu kuberikan pada mas Manaf.

“Minumlah dulu mas,”

Dia menerimanya sambil menengadah ke wajahku. Ada sedikit senyum menghias sudut bibirnya, lalu meminumnya sampai habis.

Dia lalu meraih jemariku. Menciumnya lalu merengkuhku dalam pelukannya.

“Terimakasih sayang,” ucapnya sambil terus mendekapku erat di dadanya.

Aku merasa begitu lega, setelah mendengarnya. Kekhawatiranku sedikit berkurang.

Kubiarkan ia terus mendekapku. Entahlah baru beberapa jam saja dia tak berada di dekatku, rasanya seperti ada perasaan takut kehilangan.

Karena dia masih terlihat lelah, dan aku tanpa sengaja malah membiarkannya menunggu di depan pintu, akhirnya kuminta dia untuk segera beristirahat.

Dia mengangguk, melepas pelukannya padaku, lalu kembali meraih jemariku menciumnya berkali-kali kemudian mengecup keningku. Setelah itu merebahkan tubuhnya sambil memintaku tidur di sampingnya.

Aku tersenyum, menurut apa yang dia mau. Meski begitu, aku akan tetap sabar menunggumu memberi jawab atas semua pertanyaan yang memenuhi otakku mas.

****”””””””****
Suara adzan subuh terdengar dari alarm penanda tiba waktu sholat, yang diaktifkan di hp mas Manaf.

Aku segera bangun, dan duduk lalu menengadahkan tanganku memuji dzat yang telah menjaga ruhku serta memberiku kesempatan hidup lagi.

Saat menengok ke sampingku, aku masih melihat suamiku tidur dengan pulas. Tidak seperti hari-hari sebelumnya.

Sebenarnya tidak ingin mengganggunya, namun aku teringat dia sudah terbiasa sholat berjamaah.

Bahkan, dulu di awal pernikahan kami, saat aku sudah sholat sendiri di dalam kamar, kalau dia di rumah pasti pergi ke musholla terdekat atau berjamaah di musholla yang berada di bagian belakang rumah bersama mbok Ngatirah dan bi Sanah.

Teringat semua itu, pelan-pelan ku sentuh pundaknya, lalu kucium keningnya. Dia merasakan sentuhan dan ciumanku. Matanya perlahan terbuka.

Saat melihatku dia langsung tersenyum.

“Sudah subuh mas” ucapku pelan.

Meski lirih mengatakannya, dia nampak kaget dan segera duduk di atas tempat tidur.

“Astaghfirulloh!, aku tadi belum tahajud dek.”

“Iya, mas…maaf ya, aku juga barusan bangun.”

Dia nampak sangat menyesal saat menyadari telah melewatkan waktu tahajudnya. Aku jadi merasa bersalah.

“Kamu sudah sholat subuh dek?”

“Belum, aku mau berjamaah dengan kamu mas,”

“Alhamdulillah, ayo kita wudlu dulu.”

Aku mengangguk dan tersenyum. Senang rasanya bisa berjamaah bersamanya kali ini.

Sebelum beranjak dari tempatnya, kulihat dia berdo’a terlebih dahulu. Mungkin dia teringat kalau belum berdo’a pas bangun tadi.

****”””””****

Setelah mandi, berwudlu dan selesai sholat lalu berdo’a, aku mencium tangannya. Dia merengkuhku kemudian mencium keningku.

Lalu, hening…

Kami sama-sama terdiam lalu melipat sajadah masing-masing.

“Kita nanti pesan atau sarapan dengan yang lain ya mas?”

Aku berusaha memecah kebisuan diantara kami.

“Kita pesan saja dek, setelah itu kamu siap-siap ya, kita akan keluar”

“Kemana mas?”

Mendengar mau diajak keluar, tiba-tiba aku jadi girang. Mas Manaf sedikit tersenyum melihatku antusias.

“Ke rumah ibunya Asep dek”

Deg, aku langsung kaget dan terdiam mendengarnya.

Aku belum menyampaikan pesan mbak Kania tadi malam, lalu sekarang….bagaimana bisa secara tiba-tiba dia mengajakku kesana.

Mas Manaf seakan tahu dari perubahan rona wajahku kalau aku kecewa saat mendengar jawabannya.

“Tadi malam aku juga ketemu mbak Kania mas”

Akhirnya aku mengatakan itu. Mas Manaf nampak kaget mendengarnya.

“Kamu sudah tahu Kania ada di sini tadi malam?”

Dia malah bertanya. Ada gurat khawatir di wajahnya.

Aku menggangguk pelan.

“Iya, mas, tadi malam kami ngobrol di lobby’

“Dia memintaku menyampaikan ke mas Manaf, kalau ibu mas Asep memintanya untuk mampir kesana.”

Aku melihat gurat kesedihan di wajahnya. Dia lalu memelukku erat dan beristighfar berkali-kali. Aku merasakan ada yang menetes hangat di belakang punggungku sebelah kiri.

“Ada apa mas?” tanpa terasa air mataku ikut menetes melihatnya seperti itu.

“Tadi aku tak sengaja bertemu Kania di depan hotel dek’

Mendengarnya mengatakan itu, aku reflek berusaha melepaskan tubuhku dari pelukannya.

Namun ia malah mengeratkan pelukannya.

“Maaf, tadi malam aku mengantarnya pulang tanpa memberitahumu.”

Aku mendadak lunglai, tiba-tiba terlintas sesuatu yang sangat kubenci dipikiranku.

Aah, tidak …aku ingin terus mempercayaimu mas.

Jangan sampai ada sesuatu yang meruntuhkan kepercayaan yang sudah kubangun di istana hatiku ini mas.

“Mas Manaf meninggalkan aku karena dia?”

Akhirnya terucap juga kata-kata itu dari bibirku, meski telah berusaha menahannya.

“Bukan begitu dek”

“Tadi pas di depan hotel, setelah menerima telepon dari ibu mas Asep, Kania pingsan”

“Apa! Mas, mbak Kania pingsan?” terus terang aku kaget mendengarnya.

Mas Manaf malah menunduk dan terlihat sedih, setelah mengganggukkan kepalanya.

Ya Alloh, ada apalagi ini?, Belum hilang rasa cemburuku pada mbak Kania saat mendengar mas Manaf bertemu dengannya. Sekarang aku malah mendengar mas Manaf mengantar pulang mbak Kania yang pingsan tadi malam.

“Iya dek, untung ada mas Faris dan mbak Fatimah.”

“Tadinya, aku mau mengantar mereka sampai parkiran depan, karena ternyata mereka menginap di rumah saudaranya yang dekat sini.”

“Lalu, kalau mbak Kania cuma pingsan kenapa mas Manaf sesedih ini?, apa mbak Kania sakit parah mas?”

“Bukan Kania yang sakit dek, tapi Asep…dia ternyata mengidap kanker, dan karena perasaan bersalahnya padaku, membuat sakitnya semakin parah dek,”

Mendengarkan jawabannya yang begitu gamblang, namun diiringi isak tangis yang malah membuat hatiku nyeri dan merasa sangat bersalah telah su’udhon padanya dan mbak Kania.

Hingga kini, saat aku mulai mengemas koperku dan bersiap pamit meninggalkan hotel untuk pergi ke rumah ibu mas Asep, rasa nyerinya masih terasa bahkan makin bertambah menusuk relung hatiku terdalam.

Ampuni hambaMu ini ya Alloh.

****””””””””****
Ketika kami menemui mbak Rafida dan dr.Nizar, untuk check out dari hotel, mereka nampak kaget sekali.

Saat itu mereka sudah keluar dari kamarnya dan hendak ke tempat prasmanan untuk sarapan pagi.

“Lho, kenapa musti pamit sekarang?, kan acara temu alumninya masih nanti malam.”

Saat mengatakan itu, dokter Nizar terlihat agak kecewa.

“InshaAlloh kami akan datang nanti malam, tapi kami diminta untuk kesananya sekarang, untuk menemani bulek Naning, beliau pasti sangat sedih sekarang Zar?” ucap mas Manaf, mencoba menjelaskan alasannya.

“Lho, memang kenapa dengan ibunya Asep?”

Mereka kompak bertanya, wajahnya terlihat kaget seketika.

“Lho, kalian apa belum tahu kalau Asep sedang sakit?” mas Manaf balik bertanya, mungkin sedikit heran dengan pertanyaan mereka.

Mbak Rafida dan dr.Nizal, sama-sama menggelengkan kepala. Dari raut wajah yang kubaca, mereka memang terlihat jujur.

“Memang Asep sakit apa Naf?” tanya dr.Nizar.

“Kata bulek tadi malam, Asep terkena kanker”

“Tapi belum jelas kanker apa, aku belum bisa bertanya lebih jauh, tadi malam Asep mendadak drop, bulek sampai bingung harus bagaimana, makanya beliau sampai menelpon Kania.”

Mendengar penjelasan mas Manaf, tiba-tiba mbak Rafida langsung lemas dan tanpa sadar tubuhnya goyah hingga dr.Nizar harus menahannya.

“Maafkan aku Kania, aku sudah begitu jahat padamu dan Asep”

Ketika mengatakan itu, mbak Rafida nampak tersedu. Aku ingin memeluk dan menenangkannya tapi tak mungkin, mbak Rafida sedang berada dalam dekapan dr.Nizar.

“Apa maksudmu Rafida?”

Mas Manaf bertanya dengan nada penuh kekhawatiran.

“Maafkan Rafida Naf, saat dia tahu kalau Kania mengkhianatimu, dia sangat marah.”

“Karena emosi dia mengatakan pada Kania dan Asep, kalau tahu Kania akan menyia-nyiakanmu, tentu dia tak akan menikah denganku, dan akan menunggumu.”

Saat mengatakan itu, ada kilatan cemburu dari mata dr.Nizar. Sepertinya lebih ditujukan untuk mas Manaf.

Mas Manaf seketika tertunduk, terlihat redup cahaya di matanya. Aku mencoba untuk tetap tegar mendengar semuanya, dan berusaha memahami betapa sulitnya menghilangkan atau mengubur hasrat saat begitu dalam kecintaan yang telah bersemi dalam hati mbak Rafida.

Namun aku juga ikut merasakan betapa hancur hati dr. Nizar ketika tau istrinya masih menyimpan benih cinta pada mas Manaf saat itu.

Hanya saja aku berharap semoga dalam hati mbak Rafida tak ada lagi keinginan untuk tetap memupuk rasa itu, sehingga tak tumbuh subur menjadi tanaman liar yang memasuki tamanku yang mulai tumbuh dan siap berbunga.

Akhirnya aku memutuskan untuk segera menyudahi ketegangan ini, dengan memberanikan diri, aku meminta dr. Nizar membawa mbak Rafida masuk ke kamar.

Aku juga memohon maaf jika sudah membuat mereka kecewa karena harus segera meninggalkan hotel yang sudah dipesan sebelumnya.

Sambil berusaha memapah mbak Rafida Dr. Nizar juga meminta maaf atas semua kejadian tadi, dan mengatakan akan segera menjenguk mas Asep.

“Tolong sampaikan salam kami pada Asep dan Kania ya” katanya sebelum pergi.

“InshaAlloh akan kami sampaikan, tolong jaga mbak Rafida ya dr…”

Aku mengatakan itu sambil menatap mbak Rafida yang terlihat masih syok.

Setelah mereka berlalu, ku raih pergelangan tangan suamiku yang masih terpaku ditempatnya. Dia tersadar lalu menatapku seakan hendak mengucapkan terimakasih dan memohon maaf karena aku harus mendengar semuanya.

Aku mengenalmu mas. Engkau memiliki hati yang lembut sehingga mudah terenyuh melihat kondisi mbak Rafida tadi.

Cinta yang tak bersambut membuatnya lara, karena engkau lebih memilih mbak Kania untuk kau jadikan calon istri.

Andai juga ada penyesalan dalam hatimu telah menyia-nyiakan ketulusan cinta mbak Rafida, setelah tahu betapa merananya dia karenamu, apa aku bisa memiliki lagi hatimu seutuhnya mas.

Syak wasangka kembali meracuni hatiku.

Dan aku tak inginkan itu.

Baru kali ini mas, menggenggam jemarimu namun palung hatiku memerah, retak…tergores belati cemburu dan perihnya menyiksaku.

****”””””****

Selama perjalanan menuju kediaman bulek Naning, mas Manaf hanya diam saja. Baru setelah sopir taxi online mengatakan telah sampai sesuai alamat yang diberikan, dia segera memintaku turun dari mobil.

Aku bermaksud mengambil dan membawa koper dan barang lainnya, namun dia melarangku.

Setelah menurunkan koper dan barang-barang kami dia mengambil dompet dari saku celana, membukanya lalu mengambil selembar uang kertas lima puluh ribuan untuk membayarnya.

“Wah, nggak ada kembaliannya pak, uang pas saja” kata sopir taxinya.

“Ya sudah ambil saja pak kembaliannya.”

“Terimakasih pak, mari…”

Setelah mobil yang kami naiki pergi, aku meminta sebagaian barang yang bisa kubawa agar mas Manaf tidak kerepotan.

“Sini mas aku bantu”

“Tidak usah, biar aku saja” tolaknya.

Mas Manaf mengajakku ke sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang cukup luas.

Seorang wanita paruh baya yang terlihat di teras depan segera berlari kecil menghampiri dan membuka gerbang untuk kami.

Aku kira dia tadi ibunya mas Asep.Ternyata bukan.

Baru setelah kami sampai di teras dan memberi salam, dari dalam muncul seorang perempuan yang kira-kira usianya seumuran emakku di desa.

Aku tersenyum lalu menjabat dan mencium tangannya.

“MasyaAlloh, wis ayu manis mesisan istrimu Naf, pinter kon lak milih bojo (sudah ayu juga manis, pintar kamu kalau memilih istri)

Ucapannya membuatku malu, meski ada sedikit perbedaan bahasa yang diucapkan beliau aku memahami artinya.

Aku merasa jauh dan kalah cantik bila dibandingkan menantunya.

Aku jadi teringat mbak Kania, dimana dia ya…kok belum kelihatan.

“Ayo, sini…ini kamar kalian” katanya.

Kami mengikuti langkahnya, masuk menuju ke salah satu ruangan yang ternyata sebuah kamar yang telah dipersiapkan untuk kami.

Baru saja kami menaruh koper dan barang, membukanya dan memasukkannya ke dalam almari, tiba-tiba terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumah.

****”””””””’****
Ya Alloh rasanya, aku seperti memasuki sebuah tempat yang mungkin akan membuatku lebih nelangsa, jika seandainya pertemuan antara mbak Kania dan suamiku menjadikan mereka semakin dekat.
Dan bisa jadi, semua itu membuat aku tak bisa mengendalikan rasa cemburuku.

Aku menyangka yang datang mungkin saja Mbak Kania, karena dia tidak terlihat tadi.

‘Kayaknya ada yang datang tuh! Mas,”

Aku sengaja mengatakan itu, untuk melihat ekspresi wajah dari suamiku. Kalau ada sedikit saja rasa senang atau kelegaan yang terbaca lewat mata atau garis bibirnya, maka aku bisa memastikan masih ada sedikit rasa untuk mbak Kania.

Dan…benar saja, ia nampak terlihat senang dan tersenyum lalu mengajakku menemui orang yang baru saja datang.

Hampir saja aku tak mampu menahan bendungan air mata yang seakan hendak ambrol, disaat badai yang berada di kejauhan mulai mendekat dan menghempas bangunan cintaku ini.

Namun ternyata aku salah, yang datang barusan bukanlah Mbak Kania.

“Sini, mbak Uswa. Kenalkan…ini Silvy adiknya Septian,”

Aku mendekat pada dek Silvy setelah bulek Naning memanggilku untuk mengenalkan adek Mas Asep padaku.

Aku segera menjabat dan memeluknya, sebagai ungkapan rasa sayangku pada saudara yang lebih muda dari suamiku.

Dia menatapku sambil tersenyum takjub.

“Wah, masyaAlloh…mbak Uswa ternyata lebih cantik dan lebih manis dari yang aku kira”

“Alhamdulillah, dek Silvy juga ayu kok, senang bisa mengenalmu dek”

Kami saling melempar senyum. Dek Silvy, orangnya ternyata sangat ramah seperti ibunya.

Terus terang aku malu saat dia terus memujiku. Dan bilang ke mas Manaf, kenapa baru sekarang aku diajaknya ke tempat mereka.

Bahkan dengan tanpa sungkan dia meledek mas Manaf, dengan mengatakan kalau mas Manaf takut kalau aku diajak kemari, nantinya bakal direbut mas Asep lagi.

Saat kulirik suamiku ketika dia mengatakan itu, aduh..kenapa mas Manaf malah cuma mesam-mesem sih? Apa dia tak melihat diriku ini menjadi malu dan kikuk.

Aku merasa tak pantas mendapatkan pujian seperti itu. Apalah aku bila disandingkan dengan kakak iparnya, yang dulu juga pernah menjadi orang yang paling diinginkan mas Manafku.

Mesemmu itu untuk aku atau mbak Kania sih mas, bisikan setan entah kenapa mengusik hatiku lagi.

Mungkin karena ada celah kesedihan yang kubuat sendiri, hingga membuat ruang untuknya terus berada disana dan mengusikku ketika lara tak kuasa kuhalau dan kuabaikan begitu saja.

Perasaan yang aneh itu akhirnya hempas, tatkala ekor mataku menangkap wajah lugu dengan senyum yang menggemaskan berlari ke arah bulek Naning.

Menggelayut manja ditangannya.

Bulek Naning meraih tangan mungilnya, mencium pipinya, lalu mendudukkan di pangkuannya.

“Nah, kalau ini kesayangannya mas Asep mbak Uswa, namanya Zahira.”

Bulek Naning mengatakan itu sambil berkali-kali mencium gadis kecil yang dipangkunya.

Aku menatap wajah kecil nan ayu, yang menggemaskan itu sambil membandingkan dengan wajah mbak Kania.

Dalam hatiku bertanya apakah dia putri mbak Kania?.”

Aku mendekati Zahira, kucium pipinya dan kuelus wajah ayunya. Aku menjadi sangat ingin memeluknya. Mungkin karena naluri keibuanku mulai tumbuh, jadi ingin segera menimang gadis mungil nan cantik yang menggemaskan itu.

“Boleh kugendong bulek?

Tanpa menunggu jawaban dari bulek Naning, aku segera mengulurkan tanganku, berharap gadis kecil digendongan bulek Naning menyambutnya dan mau jika kupeluk.

Namun dengan malu- malu dia menggelengkan kepalanya, lalu menyembunyikan wajahnya, lalu melihatku lagi, menyembunyikan wajahnya lagi, dan….ha ha…rupanya dia ingin menggodaku.

Aku gemas dibuatnya.

Ya Alloh aku jadi ingin segera menimang anak dalam kandunganku ini. Jagalah ia untukku ya Alloh, jadikan ia anugerah yang menjadi penyejuk dan pelita bagi kami. Aamiin.

****””””””****
Saat kami sedang asyik bercengkrama, tiba-tiba bulek Naning terlihat kaget ketika mendengar dering telepon, yang ternyata dari mbak Kania.

“Apa, drop lagi? Iya, iya…nanti aku segera kesana.”

“Ada apa bu? apa mas Asep kondisinya turun lagi? tanya Silvy.

“Iya, nduk. Tolong kamu ajak Zahira dulu ya, ibu mau berkemas.”

“Aku saja yang sopirin bulek, kasihan Silvy, kan barusan datang” kata mas Manaf.

“Iya, Naf. mbak Uswa diajak sekalian. Kasihan

kalau harus di rumah sendirian” ucap bulek Naning sambil buru-buru masuk ke kamarnya.

“Tadi yang bukakan gerbang untuk kita siapa mas” tanyaku heran setelah bulek Naning mengatakan alasannya untuk mengajakku.

“Itu tadi tetangga sebelah, namanya mb Sarmi. Beliau yang biasa menemani bulek di rumah kalau Kania menggantikannya menunggu Asep.

“Mas Asepnya opname di RS ya mas?”

“Iya, dek. Kata bulek kemarin malam, dia drop lagi…padahal harus kemo dua hari lagi”

“Kasihan bulek sama mbak Kania ya mas”

‘Terus dek Silvy itu apa sudah menikah mas? aku tadi kan belum sempat tanya-tanya”

“Sudah, nikahnya malah lebih dulu dari pada kakaknya.”

“Oo, berarti Zahira tadi putri dek Silvy ya mas?”

“Bukan dek, anaknya Silvy sudah besar dan sudah kelas IV SD. Laki-laki, namanya Fatih. Zahira itu putrinya Asep sama Kania, usianya baru 6 tahun.”

Aku tersenyum mendengarnya, berarti dugaanku benar. Wajah Zahira sangat ayu, mirip sama mbak Kania saat kuperhatikan lebih dalam. Cuma ia terlihat lebih mungil, lucu dan terlihat menggemaskan.

Setelah menjawab pertanyaanku, mas Manaf menyuruhku mengambilkan dompet dan Hpnya di kamar.”

Aku segera kembali masuk ke kamarku, mengambil tas yang biasa aku bawa saat bepergian. Didalamnya berisi dompet dan Hp serta alat make up yang biasa aku pakai.

Tak lupa aku juga memasukkan Hp dan dompet suamiku. Seperti pesannya tadi.

Setelah itu aku segera keluar, dan tak sengaja hampir bertabrakan dengan bulek Naning, yang kelihataan terburu-buru sambil membawa sebuah tas agak besar, yang mungkin didalamnya berisi baju-baju untuk mbak Kania.

Beliau meminta maaf karena hampir menabrakku tadi.

Aku melakukan hal yang sama, karena tak memperhatikan.

Kemudian kami beriringan keluar menuju ke sebuah mobil yang sudah dipersiapkan oleh mas Manaf. Hemm, mobil dek Silvy mungkin. Gumamku dalam hati.

Saat kami masuk kedalam mobil, dek Silvy sudah duduk di kursi depan di sebelah mas

Ketika memasuki ruang perawatan

Terlihat mbak Kania berdiri disamping dipan tempat mas Asep terbaring.

Wajahnya nampak sedih dan lelah. Saat melihat kedatangan kami dia mencoba tegar dengan tetap tersenyum. Aku menjabat tangannya kemudian berbisik padanya.

“Semoga Alloh angkat penyakitnya, dan segera diberi kesembuhan ya mbak…yang sabar dan ikhlas ya..Alloh itu pengasih dan penyayang”

“Iya, mbak Uswa.Terimakasih ya, atas do’anya” bisiknya juga.

“Sama-sama” kataku lirih

“Gimana kondisinya sekarang? apa sudah ditangani sama dokter?”tanya bulek Naning, ketika telah masuk, lalu menghampiri mas Asep yang masih terbaring dan terlihat memejamkan mata.

Tangannya langsung mengusap dan mengelap dahi putranya yang sedikit berkeringat lalu menyentuh punggung tangan mas Asep.

“Alhamdulillah, sudah bu. Sudah langsung ditangani sama dokter.’

“Setelah melewati masa kritis tadi, dokter menyarankan agar menunda jadwal kemonya, sampai kondisi mas Asep stabil dulu,” jawab mbak Kania.

“Mama, gendong ma…” Zahira yang barusan masuk, langsung merajuk minta digendong sama mamanya.

Mbak kania langsung meraih dan mengambil Zahira dari gendongan Sylvi.

Menciumnya dengan kehangatan.

Aku yang melihatnya menjadi terenyuh.

“Ma, papa kok belum bangun sih, ini ada tante cantik sama om ganteng” katanya menggemaskan.

“Ma, Zahira mau tidur dekat papa ma…,” katanya sambil menunjuk tempat mas Asep terbaring.

“Iya, sayang…nanti saja ya..papa kan lagi sakit, biar bobo dulu papanya ya…”

Mbak Kania berusaha bersabar menghadapi sikap Zahira yang terus saja merajuk, meminta tidur didekat papanya.

Dia memang masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi.

Aku mencoba membantu mbak Kania, dengan meraih jemari anaknya untuk kubujuk agar mau kugendong keluar.

Namun, dia kekeuh pada maunya.

Akhirnya bulek menyuruh mbak Kania menggendongnya keluar.

*****

Saat mbak Kania membawa Zahira keluar mata mas Asep perlahan terbuka. Mungkin ia mendengar dan merasakan kehadiran Zahira tadi.

“Saat pandangannya terarah kepadaku, keningnya terlihat berkerut. Mungkin heran menyadari kok ada orang lain yang belum dikenal di samping ibunya.

Barulah ia tersenyum saat melihat mas Manaf mendekat ke arahnya.

“Dia istrimu?” tanyanya lirih pada mas Manaf.

“Iya”

“Cantik” katanya lirih sambil berusaha untuk duduk, tapi tak bisa.

“Sudah, jangan banyak bergerak dulu.”

Mas Manaf menahan tubuhnya. Dan menyuruhnya untuk tetap berbaring saja.

“Maaf” ucapnya lagi.

“Sudahlah, semua sudah berlalu. Aku sudah memaafkan kalian.

Kulihat air matanya menggenang kemudian merembes dan perlahan menetes ke pipinya.

Bulek mendekat, mengelapnya dengan pelan.

“Dia sangat merasa bersalah padamu. Sudah aku katakan kalau kamu sudah memaafkannya.’

“Juga sudah kukatakan kemarin malam pas dia sadar, setelah kamu pulang ke hotel, kalau istri kamu sangat cantik. Kania yang sudah melihatnya.”

“Aku bilang sama Asep, kalau kamu, Faris dan istrinya yang mengantar Kania dari hotel.”

Ada perasaan lega saat bulek Naning mengatakan itu. Berarti mas Manaf tidak sendiri saat mengantar mbak Kania.

“Benar?” tanya kang Asep lirih.

“Iya, karena itu cepatlah sembuh agar kita bisa bertengkar lagi” saat mengatakan itu mas Manaf menepuk lengan mas Asep sambil tertawa lirih.

Melihat gurauan mas Manaf yang tampak bersahabat dan tak marah lagi, mas Asep ingin juga tertawa, namun tertahan karena rasa sakit yang masih dirasakannya.

Melihat pemandangan di depanku, aku menjadi terharu. Rasanya ingin ikut menangis bahagia.

“Ibu, katakan padanya”

Mas Asep meminta ibunya mengatakan sesuatu pada mas Manaf.

“Iya, Nak.”

“Asep mendengar dari Kania, kalau kamu dan teman lainnya yang dari Lampung, akan hadir di temu alumni nanti malam”

“Karena itu dia ingin kamu memintakan maaf untuk dia dan Kania pada teman-teman yang lain.’

“Kania sendiri katanya tidak sempat meminta maaf, karena masih takut sama Rafida dan suaminya.”

“Saat melihat istrimu yang cantik dan lembut ini, dia langsung menemuinya, dan meminta kalian kemari seperti keinginanku.”

“Jadi tolong nanti malam, kamu sampaikan permintaan maaf dari Asep ya Naf?”

“Tapi, kami ingin tetap disini malam ini bulek, karena besok sebelum ke bandara, kami akan ke makam ibu sebentar untuk berdo’a. Siangnya kami harus pulang ke Lampung. Saya sudah janji akan datang pada rapat pemegang saham.” mas Manaf mencoba menjelaskan.

“Tidak,” terdengar suara mas Asep sambil menggelengkan kepalanya.

“Ti dak, ka kamu ha harus te tap ha dir, sam sam paikan ma maafku untuk se mua, ter uta ma un tuk Ra Ra fida dan Ni Nizar”

Mas Asep mengatakan itu lirih dan agak terbata.

Aku jadi kasihan melihatnya.

“Wa wak tu ku tak a kan la lama,” lanjutnya masih dalam keadaan terbata.

“Jangan ucapkan itu Sep, teruslah berharap kesembuhan dari Alloh. Kasihan bulek, Silvy, Kania dan Zahira.”

“Lihatlah, mereka sedih karena kamu sudah tidak punya semangat untuk hidup lagi.”

Mas Manaf mengatakan itu sambil melihat ke arah bulek.

“Sep, semua orang itu tidak ada yang sempurna. Sebelum meninggal kita tidak tahu apakah kita ini bisa menjadi baik dan soleh sampai akhir.”

“Begitu juga jika saat ini ada yang masih berbuat maksiat, kita juga tak berhak menghujat, justru kita diminta mendo’akan.”

“Siapa tahu setelah mendapat hidayah, mereka akan menyadari kesalahannya lalu bertobat hingga berbuah husnul khotimah.”

“Kita ini tak boleh berputus asa dari rahmat Alloh, bersyukurlah karena masih diberi kesempatan menyadari kesalahan kita.”

Asep tersenyum mendengar untaian hikmah yang Alloh lewatkan hambanya yang sholeh seperti suamiku.

Kulihat, mulai ada secercah cahaya dalam mata yang tadinya meredup.

“Baiklah, aku akan hadir nanti malam untuk memintakan maaf pada mereka, untukmu dan Kania.

Yang juga ingin kulakukan saat aku diberi Alloh kesempatan untuk bertemu dan bersilaturrahmi dengan kawan kita dulu.”

“Aku pamit dulu, ingatlah semua kata- kataku tadi, dan …semangatlah saudaraku.

Mas Asep tersenyum lalumengangguk perlahan. Kemudian membiarkan mas Manaf memeluknya.

Akhirnya kami harus pamit untuk bersiap karena tadi tidak membawa pakaian ganti.

**********
Setelah mendapatkan taxi online, yang kami pesan dari aplikasi yang ada di Handphone, kami segera meninggalkan rumah sakit. Kembali ke rumah bulek Naning untuk berganti pakaian.

Sesuai pesan dari bulek, kami segera menemui mbak Sarmi untuk mengambil kunci duplikat yang dititipkan bulek padanya.

Saat kami sampai di sana, mbak Sarmi langsung mempersilahkan kami untuk masuk.

“Silahkan tunggu sebentar mas Manaf, saya ambilkan kuncinya dulu”

“Iya, mbak Sarmi.”

“Monggo mas Manaf, ini kuncinya.”

“Terima kasih mbak, nanti kalau sudah, kami kembalikan lagi” kata mas Manaf.

“Lha, kok dikembalikan to mas, memangnya mas Manaf mau ke mana? apa mau ikut nunggu mas Asep?”

“Mboten mbak, kami ada acara di luar. Nanti siapa tahu dek Silvi, atau Kania pulang, kan kasihan kalau kuncinya saya bawa.”

” Oo, iya mas. Nanti saya nggak kemana-mana kok.’

“Iya, mbak. Matursuwun. Kami permisi dulu, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam”

******

Alhamdiulillah, setelah memasuki rumah bulek, kami langsung mandi dan berwudlu untuk bersiap melaksanakan sholat maghrib berjama’ah di rumah bulek.

Waktu ‘Asar tadi, kami masih di jalan, dan untunglah sebelum maghrib tiba kami bisa berjamah di masjid setelah tadi kami berhasil membujuk sopir taxi online untuk berhenti sebentar di sebuah masjid, agar kami dapat melaksanakan sholat.

Meski kami harus memberi tambahan biaya, itu tidak mengapa.

Kami rasa itu sebanding dengan waktu menunggu yang seharusnya bisa untuk mendapatkan penumpang berikutnya.

Selesai sholat dan berhias, tiba- tiba aku teringat kepada bulek Naning. Aku merasa kalau bulek membutuhkan seseorang yang bisa memberinya perasaan tenang, saat menghadapi situasi seperti saat ini.

Saat aku keluar untuk menemui mas Manaf, kulihat ia sedang duduk melamun di ruang tamu.

“Mas, mas….”

Aku memanggilnya, namun sepertinya ia tak mendengarkan panggilanku.

Baru setelah aku menepuk punggungnya, dia tersentak kaget.

“Ada apa dek?”

“Kamu kok melamun sih, mas. Mikirin mbak Kania apa mbak Rafida nih?” tanyaku bermaksud menggoda.

“Kamu ini, masa saat seperti ini kamu masih bisa mikir begitu sih.’

Duh, dia kok malah marah sih, aku kan cuma kepo meski bercanda, siapa tahu dia memang lagi mikirin mereka.

“Ya, maaf mas. Pas lihat mas tadi lagi melamun dan nggak dengar saat kupanggil, ya…siapa tahu mas lagi mikirin mantan terindah.” kataku sedikit sebel.

“Enggak lah, aku lagi mikirin bulek sama Kania itu karena aku kasihan sama mereka. Kalau aku ada di posisi Asep, kamu pasti sedih kan, apalagi aku ini anak tunggal.

“Bulek yang punya dua anak dan dua menantu saja kerepotan saat harus bergantian menunggu Asep.

Aku jadi nggak enak kalau harus buru-buru pulang ke Lampung.”

“Iya sih, mas. Aku juga mikirnya begitu, makanya aku nyari mas buat membicarakan hal ini.”

“Emang, rapat pemegang sahamnya nggak bisa ditunda ya mas, siapa tahu bisa dicarikan waktu yang lain, biar kita bisa menemani bulek.”

“Ya itu dek yang aku pikirin, kalau rapat pemegang saham ditunda, kita juga nggak bisa segera menangani masalah yang ada di perusahaan.

Apalagi, aku sebagai penentu kebijakan yang sudah menentukan waktunya.

Dan itu sudah disepakati bersama. Karena kalau nggak jauh-jauh hari kroscek, nggak bisa hadir semua,” katanya.

“Mereka itu orang- orang yang sibuk. Yang terkadang tidak punya waktu untuk keluarganya sendiri. Nanti tambah ramai kalau kalau di cancel,” lanjutnya.

Mas Manaf terlihat bingung. Disatu sisi dia tak bisa untuk tidak memenuhi janji, di sisi lain dia tak tega melihat kondisi mas Asep dan bulek yang membutuhkan seseorang sepertinya.

Akhirnya, karena belum bisa menemukan jalan keluar, kami memutuskan untuk berangkat saja dulu ke acara “Malam Temu Alumni”

*******

Setelah melaksanakan sholat isya’ berjamaah di Masjid yang ada di sekitar kampus, kami langsung berangkat ke hotel.

“Dulu, katanya acaranya dilaksanakan di gedung itu mas, tapi kok di pindah di hotel” tanyaku, saat melewati gedung yang batal dijadikan tempat temu alumni.

“Iya, tadinya sih rencananya memang begitu, tapi berhubung banyak teman se-angkatan yang ada di luar daerah seperti kita, yang kebanyakan nginapnya di hotel SB, akhirnya diputuskan acaranya sekalian di ballroom hotel.

Setelah masuk ke dalam hotel, kami langsung menuju ballroom tempat diadakannya acara “Malam Temu Alumni”.
Saat mengisi buku tamu kami bertemu mas Faris dan mbak Fatimah. Lalu mereka langsung mengajak kami masuk untuk mencari tempat duduk.

Aku takjub melihat tempat yang tadinya lapang, kini sudah disulap dengan dekorasi yang sejuk dan elegan. Tidak adanya panggung justru membuat tempat terkesan luas dan lebih bersahabat.

Di depan ada deretan beberapa meja dan kursi yang dipersiapkan untuk rektor, dekan dan dosen yang hadir, serta MC dan pengisi acara yang masing2 sudah ada mikrofonnya.

Tetnyata sudah banyak tamu yang datang.
Kami duduk di kursi tamu undangan dengan meja bundar deretan nomor lima dari depan, di pinggir sebelan kanan.

Kulihat mbak Rafida dan dr. Nizar duduk di deretan nomor dua dari depan, pas di tengah.

Saat telah duduk, mas Manaf permisi sebentar untuk menemui panitia inti, agar nanti memberi waktu untuknya menyampaikan pesan dari mas Asep.

Setelah semuanya hadir, dan acara dimulai semua begitu bergembira, apalagi pas ada pembicara penting yang diminta panitia atas saran para dosen untuk memberi tips bagaimana cara ia bisa meraih kesuksesan dalam usia muda, sekaligus memberi siraman rohani kepada yang hadir.

Saat orang yang dimaksud tersebut masuk kedalam ruangan dan duduk di depan, aku sangat terkejut. [Bukankah dia Gus Mutaffanin Abqori? Putra seorang kiyai yang pernah membuatku terpaut. Namun sayangnya dia harus ke Timur Tengah untuk mengambil pasca sarjananya di sana].

Aku menjadi salah tingkah, saat pandangannya terarah kepadaku tanpa sengaja. Sekilas ia juga nampak terkejut karena ada perubahan mimik wajah dan dalam nada suaranya ketika memberi sambutan.
Bahkan setelah dia menyudahi dan memberikan mikrofonnya kepada MC, debaran di hatiku masih ada.

Saat acara berganti intermezzo, beberapa orang diminta untuk mempersembahkan lagu agar semakin meriah.
Aku melihat mbak Irene dan mbak Friska memberi semangat kepada mbak Rafida untuk menyumbangkan sebuah lagu.

Ketika ia maju dan menyanyikan lagu “Bukan Cinta Biasa” milik Siti Nurhaliza aku menggagumi indah dan merdu suaranya.
Kulirik suamiku yang ada di samping. Dia menatap lurus ke arah depan. Lalu menunduk, kemudian melirikku. Saat tahu aku juga sedang meliriknya dia langsung mencubitku.
Aku tersenyum menggodanya.

Saat mbak Rafida selesai dari menyanyi dan kembali ke tempatnya, sekali lagi aku dibuat terkejut karena ada yang menyebut namaku yang ternyata MC yang ada di depan.

Ia memanggil dan menyuruhku maju untuk mempersembahkan sebuah lagu. Bukan hanya aku yang terkejut mas Manaf juga tidak mengira MC di depan tahu tentangku yang bisa menyanyi dan bersuara merdu.

Mbak Irene yang menyadari kalau aku yang dimaksud oleh MC di depan, segera menuju ke arahku dan menarikku untuk maju.
Aku ingin meminta persetujuan mas Manaf, namun mbak Irene tak memberiku kesempatan.

Saat semua mata tertuju padaku ketika aku mulai menyanyikan lagu “Bidadari Surga” milik Alm. UJe yang sengaja sedikit ku ubah syairnya agar pas bila dinyanyikan wanita.

Aku justru melihat mas Manaf sedang menatap ke arah dokter Nizar dan mbak Rafida duduk. Pandangannya seakan marah pada orang yang ditatapnya.
Aku menjadi berpikir [kenapa mas? ada apa denganmu? apa kini engkau mulai suka kepadanya dan cemburu dengan orang yang ada disamping mbak Rafida?]

*******
Saat intermezzo semua yang hadir nampak puas dengan penampilan semua pengisi acara yang telah mempersembahkan puisi, lagu ataupun stand up comedy yang isinya cerdas dan menginspirasi. Namun tetap membuat tertawa semua tamu yang hadir ketika menyaksikan.

Lalu sebelum acara ditutup dengan do’a, MC memanggil Ir. Manaf untuk memberi sambutan atas nama wakil dari Forum Mahasiswa Daerah yang sudah memberi teladan dengan keberhasilannya berdikari. Saat sampai pada akhir sambutan, mas Manaf menyampaikan pesan dari sahabatnya dari Fakultas Ekonomi yang bernama Septian dan istrinya Kania Wijayanti dari fakultas yang sama, untuk memohonkan maaf jika ada berbuat kesalahan begitupun dengan dirinya. Mas Manaf juga memohonkan do’a kepada semua yang hadir untuk kesembuhan mas Asep yang kini sedang dalam perawatan.

Para tamu undangan dan semua panitia, nampak berkaca-kaca ketika mendengar sambutan yang disampaikan mas Manaf. Bahkan ada diantara mereka yang sampai terisak. Mereka yang tadinya bertepuk gemuruh saat menyaksikan penampilan setiap orang, kini hanya mampu tertunduk sedih.

Aku melihat mbak Rafida memeluk dr. Nizar yang berada di sampingnya. Lalu saat ia melihat mbak Friska dan mbak Irene mendekat, dia memeluknya dan akhirnya pecahlah tangis mereka.

Mereka baru melepaskan pelukan saat mas Manaf mengakhiri sambutannya.
Lalu acara ditutup dengan do’a bersama.

Setelah selesai acara, kami semua dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah dipersiapkan. Saat itu, hampir semua tamu yang belum bertemu kami saat makan malam bersama di hotel, mendekat dan menjabat tangan kami. Menanyakan kabar mas Manaf yang sudah lama tidak pernah datang di setiap pertemuan semacam ini.

Lalu mereka beralih memujiku sebagai keberuntungan buat mas Manaf, yang memiliki istri yang masih muda dan cantik serta memiliki suara yang merdu dan menyejukkan. Aku sampai malu sendiri. Kemudian mereka menanyakan di mana mas Asep di rawat saat ini, kalau memungkinkan mereka akan menjenguknya.

Saat asik menemani mas Manaf yang terlihat bahagia, ketika bertemu kawan masa kuliahnya. Tiba-tiba…

“Uswa”
Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Dan, seketika itu juga, aku terkejut. Meski aku tadi sudah melihat kehadirannya, aku tetap kaget. Apalagi saat dia melangkah untuk mendekat. Degup jantungku seperti tak lagi terkontrol saat melihatnya tersenyum padaku.

Ada sejumput rindu yang jauh sebelumnya telah aku pendam, kini seperti disiram dan mulai ingin menikmati pucuk liar yang mulai muncul dan bersemi. Aku segera menepis rasa itu dan memberi warning pada hati yang mulai melemah [haram, haram…]. Dan, akupun sadar aku telah terikat.

“Kamu ada di sini? Bagaimana kabarmu?”

Pertanyaannya hampir membuatku tak mampu membalas.

“Iya, Gus. Alhamdulillah baik,”

Hanya itu jawabanku. Dan itupun telah dengan susah payah agar tak terdengar parau karena kerongkonganku seperti tercekat.

Aku tahu, saat itu ada tatapan dari sebelahku yang melirik dengan sudut mata yang tajam, seakan ingin bertanya tentang Gus Abqori yang ada di depanku. Hingga membuatku segera tersadar. Lalu…

“Oh ya, kenalkan Gus, ini suamiku.”

Alhamdulillah, akhirnya kata-kata itu mampu aku ucapkan padanya.

Dia kaget mendengarnya, namun segera menghela nafas ringan, lalu mendekat kepada mas Manaf. Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan. Membuatku sedikit heran.

“Kalian saling kenal?” tanya mas Manaf. Entah siapa yang dituju, namun matanya mengarah padaku.

“Gus Abqori ini putra kyai sepuh mas,’ jawabku

Aku yakin mas Manaf belum tahu, karena aku belum pernah cerita. Tapi, kok kulihat dia manggut-manggut seolah paham apa yang aku katakan.

“Mas Manaf gimana kabarnya mas?”

Pertanyaan Gus Abqori sesudah menjabat tangan mas Manaf setelah kuperkenalkan justru membuatku terkejut.

“Alhamdulillah, baik Gus.”

“Gus Abqori sendiri bagaimana kabarnya? Apa masih akan kembali ke Kairo Gus?

Deg! Aku menjadi kaget, saat mas Manaf mengucapkan itu.

“Alhamdulillah, saya juga baik mas. Senang bisa ketemu sama sampean lagi. Insha Alloh untuk saat ini mau ikut ngurus pesantren dulu mas,” jawab Gus Abqori.

Aduh, aku jadi bingung mendengarnya.

“Dek Uswa ini beneran istri mas Manaf to?” tanyanya sambil melirikku.

“Iya, Gus. Gimana? cantik kan Gus?” cantikan mana sama Khadijahnya sampean itu lho?”

De! Aku semakin berdebar, dan ada rasa takut di hatiku…lalu timbul pertanyaan [Apa mas Manaf tahu kalau akulah Khadijahnya?].

“Sama cantiknya mas. Cuma sekarang sudah dimiliki sama orang lain.”

Saat mengatakan itu, Gus Abqori melirikku lalu menatap ke arah mas Manaf, ada kesedihan di sana saat mengucapan itu. Membuatku merasa bersalah.

“Itu berarti belum jodoh Gus. Mungkin Alloh sudah menyiapkan yang lain untuk Gus Abqori.”

Mas Manaf seperti merasa ikut prihatin ketika mengatakan itu. Dia berusaha menguatkan hati Gus Abqori sambil menepuk bahunya.

“Insha Alloh mas, do’akan saja dapatnya nanti seperti dek Uswa ini” kata Gus Abqori dengan senyum tipis di sudut bibir, sambil mengarahkan pandangan ke arahku penuh misteri. Seperti rasa dirajam yang ingin ia pendam.

“Oh ya, Gus. Kami permisi mau pulang, soalnya sudah malam nih. Nanti sungkan sama tetangganya bulek yang dititipi kunci rumah,” kata mas Manaf sambil menjabat lagi tangan Gus Abqori.

“Iya, mas Manaf. Salam buat bulek sama mas Asepnya,” ucap Gus Abqori.

Dia tersenyum kepadaku, saat aku menangkupkan tangan dan menganggukkan kepala untuk permisi.

Saat perjalanan pulang pikiranku masih dipenuhi pertanyaan, [Kok mas Manaf sepertinya sudah mengenal lama Gus Abqori ya?].

Karena didera gelisah dan kekhawatiran jika mas Manaf tahu kalau aku Khadijahnya Gus Abqori, aku jadi merasa kerongkonganku begitu kering.

Saat aku berusaha membasahinya dengan meminum air mineral dalam botol kecil, tiba-tiba mas Manaf bertanya.

“Sudah kau hitung berapa kali kesalahanmu kali ini dek?.

Hah! Uhukk…uhukk!

Karena terkejut atas pertanyaannya, membuatku tersedak.

“Maksud mas Manaf apa ya?,” tanyaku setelah mengelap mulutku. Saat itu dia juga sedang menepuk tengkukku yang membuat aku berhenti tersedak.

“Kamu masih bertanya juga? Katanya pelan agar tidak terdengar pak sopir.

“Pertama, kamu ceroboh memakai pakaian trasparan dan tidak berjilbab saat malam itu. Kedua, kamu tadi malah menyanyi tanpa seizinku.”

Meski sedih diingatkan kejadian itu. Entah mengapa aku merasa sedikit lega saat dia mengatakan itu. Aku kira ia tadi akan bertanya tentang Gus Abqori, dan marah saat aku mengenalnya. Dan aku akan lebih takut lagi kalau dia bertanya lebih jauh. Tiba-tiba sebelum menjawab aku ingat sesuatu. Lalu dengan pelan aku jawab.

“Pertama, aku memang ceroboh, dan aku sudah minta maaf untuk tidak mengulangi. Kedua, aku tadi sudah mau izin sampean, tapi mbak Irene keburu menarikku. Ketiga, aku nggak tahu kalau mas nggak suka kalau aku nyanyi. Aku kira, karena mas suka mendengar Mbak Rafida nyanyi, jadi aku mau saja, apalagi mbak Irene tadi memaksaku. Dan yang terakhir…mas jawab pertanyaanku juga. Kenapa pas aku nyanyi tadi mas malah ngeliatin mbak Rafida. Mas Manaf masih ada hati ya, sama mbak Rafida?”

Entah mengapa saat menanyakan itu aku langsung menunduk dan mewek.

“Aduh! dek, kok malah nangis sih, siapa yang suka sama Rafida?”

“Sudah-sudah, jangan nangis…malu tuh sama pak supirnya,” katanya berbisik.

Mas Manaf langsung mengusap air mataku, lalu merengkuhku kemudian membenamkan wajahku ke dadanya, sambil mengusap punggungku, berharap agar aku menghentikan tangisku.

*******
Setelah taxi online yang mengantar kami berhenti di depan rumah bulek Naning, tanpa menunggu mas Manaf membukakan pintu untukku, aku telah membukanya sendiri dan mendahuluinya keluar dari dalam mobil.

Dengan tetap diam, aku segera masuk dan duduk di kursi yang ada di teras depan setelah membuka gerbang yang tidak terkunci. Melihatku seperti itu, mas Manaf langsung menyuruhku menunggunya sebentar untuk mengambil kunci pintu di rumah mbak Sarmi. Aku tetap bungkam dan tak merespon ucapannya.

Melihatnya menunduk sambil menggaruk kepala, sebenarnya ada rasa tak tega. Tapi aku terlanjur mengisyaratkan sinyal kecemburuanku yang kini sudah terlihat olehnya.

Biarlah, daripada memendam rasa yang akan berakibat tidak baik pada jabang bayiku, lebih baik aku mencari jawaban atas apa yang aku saksikan.

Entah mengapa saat sedih begini, aku kok jadi ingat Gus Abqori. Ingat saat pertama kali aku bertemu dengannya. Waktu itu.

“Hei! Haram! haram!”
Aku kaget sekali dan langsung berhenti. Lalu berpaling ke arah asal suara orang yang sedang menuju ke tempatku.

Bukannya kasihan dan menolongku, orang tersebut malah mentertawakan aku. Aku jadi jengkel sekaligus malu.

Ya, karena banyak tugas akhir sekolah, duit yang dikirim bapak jadi habis sebelum kiriman tiba. Lama-lama kalau setiap hari puasa dan hanya minum air sumur untuk berbuka, perutku bisa berbunyi saat mengaji kitab di depan pak kyai atau ustadz. Dan aku jadi mempermalukan diri di depan beliau- beliau. Saat ingat semua itu aku jadi semakin kesal.

Malam harinya, saat diadakan Sawwir Akbar, aku duduk di barisan paling depan seperti biasanya. Maklum saat di pesantren aku terkenal juara debat dalam membahas isi kitab. Terutama dalam pelajaran Fiqih dan Nahwu Shorof. Saking seringnya menang debat, kang-kang santri sampai harus mencarikan tandingan untukku melalui kompetisi debat membedah isi kitab di pesantren tempatku menuntut ilmu.

Bukan debatnya yang aku suka. Aku hanya ingin mempertahankan pendapatku yang kuanggap benar. Sampai-sampai pak kyaiku, yang putra sulung dari kyai sepuh geleng-geleng kepala.

Menunggu pentashih/pensohih pada kali ini, aku dibuat berdebar. Secara, tema kali ini pasti laki-laki yang diuntungkan. Pikirku saat itu.

Saat semua bersorak antusias saat moderator dan pentashih hadir, aku mengangkat kepalaku yang tadinya tertunduk membaca kita.

Deg! Astaghfirulloh!

********
Aku begitu terkejut saat melihat orang yang baru memasuki tempat diadakannya Sawwir Akbar. Saat dia duduk di sebelah kang Arifin yang menjadi moderator, aku bertanya-tanya, kenapa dia ada di sini? saat kang Arifin mengatakan dia Gus Abqori putra bungsu kyai sepuh, aku jadi malu setengah ingin pingsan saja rasanya.

Dan, aku tak menyangka saja, bukannya menunggu kami saling melempar pertanyaan dan jawaban, serta mempertahankan argumen kami dulu, baru kemudian menjadi pentashih, ee Gusnya malah bertanya kepadaku.

“Kamu menolak poligami? apa alasanmu?

“Saya tidak menolaknya selagi itu sesuai tuntunan Alloh dan Rosululloh Gus.Tapi, apakah dengan cara berpoligami seperti itu bisa membentuk keluarga surgawi?.”

“Maaf Gus, saya sebagai wanita memiliki teladan seperti Siti Khadijah. Menjadi penenang dan penyejuk sekaligus penyemangat bagi seorang suami dalam melaksanakan tugasnya, hingga sampai akhir hayatnya tanpa dipoligami.

Dan, sepertinya sudah menjadi kebiasaanku mempertahankan itu hingga akhir debat. Alhasil, Gus Abqori jadi senyum-senyum sendiri di depan sana.

*******

“Ayo, masuk. Banyak nyamuk di luar.”

Aku tersentak dari lamunanku. Ternyata mas Manaf sudah kembali, dan siap membuka pintu. Aku langsung berdiri mengikuti ajakannya untuk masuk ke dalam rumah.

Setelah berwudlu, aku segera merebahkan tubuhku di atas pembaringan. Mataku masih saja tidak terpejam. Saat melihat mas Manaf duduk di tepi ranjang, aku jadi teringat kalau dia belum menjawab pertanyaanku tadi.

Mendengarku mengatakan itu, dia langsung mendekat dan berkata.

“Harusnya aku yang mengatakan itu, dek.’

Hah! aku langsung kaget. [Apa dia tahu kalau aku tadi sedang melamunkan Gus Abqori ya?].

“Kamu mau tahu kenapa aku tadi memandang ke arah mereka?.”

Aku diam saja mendengarnya. Aku rasa, aku tak perlu menjawabnya.

“Itu karena kamu!”

“Hah! karena aku?, apa maksudmu mas?.”

********
“Aku ini suamimu dek. Saat aku tidak tahu kalau kamu itu bisa nyanyi dan suaramu itu bagus, tapi belum pernah kau memperdengarkannya di depanku, kamu kok malah mau memperdengarkannya dihadapan orang yang bukan muhrimmu.
Aku juga heran dan kaget tadi, bagaimana bisa Arka tadi memanggil dan menyuruhmu maju kedepan? Apa Rafida dan Nizar tahu kamu bisa nyanyi? Apa mereka yang mengatakan itu?”

“Aku tidak pernah memberitahu mereka mas. Tapi, maaf. Aku pernah menyanyi lagu religi di pesantren. Tapi, itu bareng-bareng kok mas,” aku mencoba membela diri.

“Dia kan sahabatmu mas. Dan, disampingnya kan sudah ada mbak Rafida yang juga cantik.”

“Dengar Uswa,” laki-laki itu susah untuk mengendalikan nafsu kalau tidak tahu batasannya. Fantasinya juga sangat liar kalau tidak ingat siapa yang pantas dan halal baginya.”

“Apa dokter Nizar seperti itu mas?”

Kau harus tahu, kenapa aku juga curiga sama Nizar. Kukatakan ini, agar engkau lebih berhati-hati terhadapnya.”

“Yang aku sesali, baru saja aku mengatakan begitu, kenapa kamu harus ceroboh seperti itu. Aku sangat malu dan jengkel melihatmu dalam pelukannya.

“Maaf, mas. Itu juga karena aku ingin menyenangkanmu pada malam itu. Aku takut, mas masih tertarik sama mbak Rafida dan menyesal dulu pernah menolaknya. Apalagi, mas langsung tidur begitu saja tanpa memelukku. Jadinya, aku berhias dan pakai baju itu.

“Hayo, diapain,” kata mas Manaf sambil mendekat dan mencubit pinggangku.

Aku jadi bilang “Auw” lalu tertawa.
[Tuh! Kan… Dia sudah nggak segarang tadi

Sekarang ini, aku justru semakin ingin tahu. Apa yang menyebabkan engkau mau menikah denganku mas. Dan, apa alasan bapak menerimamu sebagai calon suamiku? Apakah cemburumu itu karena engkau sudah mencintaiku mas?.

*******
Semalam setelah memberi jawaban atas pertanyaanku, lalu membuat aku bisa kembali tertawa senang sekaligua malu, mas Manaf mengajakku untuk segera beristirahat. Menurutku agak aneh, kenapa ia tak menanyakan kepadaku bagaimana aku dan Gus Abqori saling mengenal. Padahal dia melihat kami bercakap-cakap. Malahan aku memberitahukan padanya, kalau Gus Abqori itu putra kyai sepuh.

Justru timbul lagi pertanyaan dalam hatiku [kok mas Manaf kayaknya sudah kenal lama sama Gus Abqori ya]. Mau tak tanyakan, kok egois ya. Dia sendiri tak banyak bertanya tentang Gus Abqori padaku. Malahan terlihat kalau dia tak mau membahas pertemuanku dengan Gus Abqori tadi malam.

******

Setelah selesai sarapan yang aku masak sendiri, karena bulek Naning, mbak Kania dan dek Silvy belum pulang. Mas Manaf mengajakku ke makam almarhumah ibunya.

Setelah sampai di makam almarhumah yang ternyata bersebelahan dengan makam ayahnya, terlihat terawat dan bersih dari rumput liar [Mungkin keluarga bulek yang merawatnya selama ini].
Mas Manaf menyuruhku duduk pada bangku kecil yang tadi diambilnya.

Setelah selesai membaca do’a untuk kedua orang tua mas Manaf serta ahli kubur, perlahan kami melangkah pergi meninggalkan area pemakaman, setelah sebelumnya mengembalikan bangku kecil yang kami pinjam sekaligus mencuci tangan.

******

Saat perjalanan pulang dari makam, mas Manaf bercerita kepadaku tentang keluarganya.

Tentang ayahnya yang meninggal karena sakit, saat ia masih duduk di bangku SMA. Hingga ia harus bisa membiayai kuliahnya sendiri karena tak mau merepotkan ibunya yang bekerja sebagai penjahit di rumahnya yang sederhana.

Diam-diam, aku mulai memahami kenapa ia begitu sayang dan perhatian kepadaku. Mungkin karena ia juga sangat menyayangi sang ibu. Atau, bisa jadi sifatnya itu, cerminan bagaimana ia dulu dalam pendidikan ibunya.

Entah kenapa diam- diam pula, aku lebih detail memperhatikan wajah tenang di sampingku, yang hanya bicara seperlunya. Dan, semakin diperhatikan ternyata dia tak kalah gantengnya dengan Gus Abqori yang usianya lebih muda.
Justru ia terlihat lebih matang dan dewasa. Bahkan, ia lebih tinggi dari Gus Abqori. Aku menyukai kaki panjangnya yang mirip Amitha Bachan. Aktor kawakan di film India.

*****
Setelah sampai di rumah bulek, aku segera mengambil air minum dari dispenser yang ada di dekat meja makan, dengan cangkir keramik berukuran besar. Kuberikan pada mas Manaf yang saat itu telah masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang, agar ia kembali segar.

Setelah menerima dan meminumnya sebagian, ia menyuruhku mendekat dan meminumkan sisanya padaku. Saat aku menaruh cangkirnya di atas meja, ia melambaikan tangannya. Menyuruhku kembali mendekat sambil tersenyum. Aku kira ia mau bilang sesuatu. Saat aku tanya [apa?] Dia malah menarikku dalam pelukannya.

“Nakal”
Hanya kata itu yang ia bisikkan kepadaku, setelah aku menyambut hasratnya yang kian membuncah, dan memberinya kepuasan melebihi dari apa yang dia inginkan. Dan, aku cuma tersenyum, lalu berbisik [lagi?].
Bukannya menjawab, dia malah memencet hidungku, lalu bangun untuk segera mandi wajib. Aku melihatnya masuk ke kamar mandi sambil tertawa.
Ah, ternyata romantis itu bisa tercipta setiap saat. Meski kadang terselip duka sebelumnya. Akupun segera turun dari ranjang, melipat seprainya, lalu menyusulnya mandi.

Selesai mencuci seprai dan bersuci dari hadats besar, kami segera mengemas koper. Kami sudah memutuskan untuk pulang ke Lampung, karena setelah mas Manaf menghubungi relasi bisnisnya, rapat ternyata tidak bisa diundur. Berhubung belum ada yang pulang ke rumah, kami kembali menitipkan kunci rumah kepada mbak Sarmi, sekalaigus berpamitan. Kemudian bersiap-siap pergi ke rumah sakit untuk menjenguk mas Asep lagi dan pamit kepada mereka.

Setelah sampai di rumah sakit, ternyata disana sudah ada mbak Rafida, dokter Nizar dan teman lainnya. Kami tadi memang sudah berkomunikasi lewat telepon akan bertemu di sini, untuk bersama-sama menjenguk mas Asep sekalian berpamitan.

Ketika aku meninggalkan mas Manaf yang sedang berbincang dengan bulek Naning dan suami mbak Firsya, menuju ke ruang perawatan mas Asep untuk menemui mbak Kania, aku malah melihat mbak Rafida dan dokter Nizar masuk menemui mas Asep.

Entah apa yang dikatakan mas Asep pada mereka. Membuat keduanya menangis. Ternyata saat itu juga mbak Kania masuk lalu ketika melihat mbak Rafida dia segera memeluknya.

Mbak Firsya dan mbak Irene yang melihatku meninggalkan tempatku berdiri tadi, segera menyusulku. Aku bilang kepada mereka, kalau aku merasa sungkan untuk mendengarkan pembicaraan mereka.

Saat kami duduk di kursi ruang tunggu pasien, mbak Irene memegang tanganku dan menatapku. Lalu..

“Apa mbak Uswa sydah tahu tentang hubungan mas Manaf dan Kania?” Tanya mbak Irene padaku.

“Tahu, mbak. Dokter Nizar yang cerita pas bertamu ke rumah kami,” jawabku jujur.

“Apa dia juga menceritakan kalau Rafida dan Kania bertengkar saat hendak pulang dari telaga?”

“Tidak, mbak,” jawabku sambil menggelengkan kepala.

“Kenapa mereka bertengkar mbak?.

Aku jadi ingin tahu, setelah mendengarnya.

******
“Kenapa mereka bertengkar mbak?” Aku jadi ingin tahu setelah mendengarnya.

“Rafida marah, karena Kania mengatakan kepadanya kalau dia sudah seperti wanita yang tak tahu malu. Dia membenci Rafida, yang terlalu agresif pada mas Manaf.”

“Mas Manaf tahu pertengkaran mereka mbak?” tanyaku.

“Tidak! Bahkan, saat Kania selingkuh dengan Asep, Rafida dengan diantar dokter Nizar, menemui Kania. Dengan penuh kebencian dia membalas apa yang dikatakan Kania kepadanya saat di telaga. Rafida sampai mendo’akan keburukan buat Asep dan Kania.”

“Astaghfirulloh! Kok sampai begitu to mbak. Apa mereka tidak percaya takdir Alloh tentang rizki, jodoh dan ajal, bukan kita yang menentukan.”

“Entahlah, mbak Uswa. Tapi, sekarang aku semakin setuju, kalau mas Manaf tidak berjodoh dengan mereka berdua. Aku merasa mas Manaf itu lebih pantas dan lebih serasi dengan mbak Uswa. Iya, kan Ren?”

“Iya, betul. Sesuai amal perbuatan.”

Jawaban mbak Irene membuat mbak Firsya menahan tawa. Mungkin, seandainya tidak sedang berada di dalam rumah sakit, mereka sudah membiarkan tawanya lepas. Namun, aku malah bertanya pada diri sendiri [ Apa aku benar layak untuk mas Manaf ya?].

Saat sedang asik dengan pikiranku tentangnya, dia memanggilku. Aku menoleh ke arahnya. Kulihat dia melambaikan tangan agar aku mendekat.

“Kok malah duduk di sana. Ayo, pamitan sama bulek dan yang lain. Jangan sampai kita ketinggalan pesawatnya.”

“Mbak Rafida masih di dalam tadi, mas.” Kataku memberi alasan.

“Itu! Mereka sudah keluar. Ayo, kita pamitan dulu.”

Mas Manaf segera memberi kode kepada mbak Irene dan mbak Firsya, kalau suaminya mengajak berpamitan. Lalu menggandeng tanganku masuk ke ruang perawatan.

Mas Asep dan mbak Kania menangis, saat kami meminta maaf kalau ada kesalahan. Lalu pamit untuk pulang.

Saat menghampiri bulek Naning, dek Silvy dan Zahira di luar, kami mengucapkan terima kasih karena diperkenankan menginap di rumah bulek. Sambil memeluk bulek, aku berbisik meminta maaf dan sekali lagi mengucapkan terima kasih serta mendo’akan kesembuhan untuk mas Asep.”

Bulek rasanya tak ingin melepaskan pelukannya padaku. Beliau berbisik di telingaku [Tolong, jaga nak Manaf mbak Uswa. Buatlah dia bahagia. Kami sudah terlalu sering mengecewakannya].
Lalu, pecahlah tangisnya ketika melepas kepergian kami.

Ada banyak tangis dan untaian do’a, saat kami mulai meninggalkan kota yang penuh keajaiban, yang diperlihatkan Tuhan. Bagaimana tidak, dalam beberapa hari saja, aku dipertemukan dengan orang-orang yang pernah hadir dan turut andil dalam perjalanan kehidupan kami, sebelum dan sesudah menikah.

Sungguh indah rasanya, skenario yang Tuhan buat untuk bisa kami ambil hikmahnya, dalam memperkuat ikatan suci yang baru saja kami bangun.

Untunglah dengan dia, mas Manafku. Dialah orang yang Alloh perkenankan melangkah bersamaku. Dia yang selalu tak tega melihat sedihku. Dia, yang memprotesku saat aku melakukan kesalahan, yang memang sudah menjadi kewajibannya untuk mengingatkanku. Dan, dia juga yang membuat aku takut kehilangan. Semoga saja, mas Asep diberi kesembuhan, agar ia bisa tetap bersama mbak Kania, Zahira dan bulek dalam bahagianya.

Terus terang, meski kami sudah dalam perjalanan pulang, rasa khawatir itu masih ada. Aku takut, dengan menjandanya mbak Kania nanti, bulek meminta suamiku untuk menjadikannya yang kedua. Atau, aku juga takut kalau mas Asep meminta mas Manaf berjanji padanya untuk menjaga mbak Kania. Lalu, menginginkan mereka kembali. Padahal, itu adalah alasan aku takut menikah dengan Gus Abqori.

Aku takut dia menduakan aku, karena dia begitu mendukung poligami, meski aku juga mendukungnya.

Namun, dari jawabannya yang mengatakan [kalau seorang yang agamanya bagus, itu baiknya punya banyak keturunan. Agar banyak anak sholeh yang mendo’akannya nanti. Dan, kita ini jadi punya generasi Islam yang berkualitas].

Dari kata-katanya, siapa yang bisa menjamin Gus Abqori tak akan berpoligami? Aku tak pernah memberinya kepastian. Aku justru menjauh karena takut terpikat dengan aura dan kegantengannya. Aku bahkan tak pernah memintanya berjanji untuk tidak berpoligami jika ingin menikahiku. Ya, aku meninggalkannya begitu saja, tanpa menunggunya kembali dari tempat menuntut ilmu, meski sebelum ia pergi telah berjanji [Tunggulah, aku akan kembali untukmu Khadijahku]. Bukannya senang, aku justru takut kalau dia memaksaku untuk menikah. Dan, saat bapak memboyongku pulang, aku justru sangat senang. Tanpa tahu, kalau aku akan dijodohkan dengan mas Manaf.

Saat bapak kuceritakan tentang keinginan Gus Abqori, bapak cuma bilang [Ya, itu terserah kamu. Mudah-mudahan, nanti dapatnya yang sesuai keinginanmu dan keinginanyang maha kuasa nduk].

“Masih takut?”

Aku terkejut dan tersadar dari lamunanku, saat mas Manaf menanyakan itu. Tak terasa, dari tadi dia sudah menggandengku untuk masuk ke dalam pesawat, setelah sebelumnya tadi kami memesan travel untuk menuju bandara [BAS].

Aku menjawab pertanyaannya dengan senyum dan menggeleng [Maafkan aku mas. Hatiku ini, tidak ingin selingkuh kok. Dan, raga ini tak akan kubiarkan orang lain memeluk atau menyentuhnya lagi].

*******

Related posts

#Penyesalan Seorang Suami

admin

Cemburu Seorang Istri Part 3

admin

Cemburu Seorang Istri Part 2

admin

Leave a Comment

WeCreativez WhatsApp Support
Pertanyaan Anda Siap Saya Jawab. Jangan lupa klik kirim..ya!! 0857-2135-9436
👋 Hai, pastikan Pesan Anda Terkirim di WA